:: Janda dan Kedudukannya di dalam Islam ::


Jika kita melihat Perjalanan Hidup Sayyidul Wujud, Rasulullah SAW maka kita akan melihat bahwa beliau banyak Menikahi Wanita Janda.
Pada masa Jahiliyah, orang Arab Sangat Anti dengan Menikahi Janda dan Lebih Menyukai Menikah dan berSenang-senang dengan Perawan.
Rasulullah SAW datang membawa Islam dan MeMuliakan para Janda dengan Menikahi mereka karena Allah Swt.
Pada Zaman Arab Jahiliyah pula, Wanita Sangat diHinakan dan Tidak Memiliki Kedudukan Sama sekali.
Masih ingat terkait cerita Sahabat Besar Rasulullah SAWW yang Anti dengan Anak Wanita sampai menguburnya hidup-hidup di dalam tanah?
Itu menandakan Era Jahiliyyah ketika itu sangat Anti dan Aib memiliki Anak Wanita di rumah mereka.
Lalu jika Wanita saja Tidak Memiliki Harga, lalu bagaimana dengan para Janda?
Untuk itu,Islam datang untuk Memuliakan Kaum Wanita, khususnya para Janda yang dipraktekkan langsung oleh Datuknya, Para Habib dan Sayyid Rasulullah SAW dan Imam Ali Ibni Abi Thalib AS dengan menikahi para Janda yang Suaminya Syahid di Medan Perang.
• Imam Ali Ibni Abi Thalib AS berkata…
” ظُلمُ اليَتامى وَ الاَيامى يُنزِلُ النِّقَمَ وَ يَسلُبُ النِّعَمَ أهلَها ”
“Menzhalimi Anak-anak Yatim dan Para Janda menyebabkan turunnya Bencana dan Musibah serta Menghilangkan Kenikmatan Ilahi dari Pelakunya.”
[Bihar Anwar Juz.44 hal.99]
• Rasulullah SAW berSabda…
“Membantu Faqir Miskin dan Para Janda seperti BerJihad di Jalan Allah Swt.”
Bahkan Nabi Luqman Al-Hakim MeWasiatkan kepada Putranya untuk berlaku Lembut terhadap Janda dan Penuh Kasih Sayang kepada Anak-anak Yatim.
• Lukman Hakim berkata kepada Putranya,
” يا بُنَيَّ ، كُن لِليَتيمِ كَالأَبِ الرَّحيمِ ، وَلِلأَرمَلَةِ كَالزَّوجِ العَطوف”
“Wahai Putraku!
Jadilah Ayah Penyayang bagi Anak-anak yatim dan Suami yang Lemah Lembut terhadap Janda.”
[Ikhtisas hal.377]
• Bahkan Syeikh Muhsin Qiraati menyarankan dan Menasehati para Mahasiswa di Universitas untuk menikahi para Janda sebagai bentuk Ibadah yang Paling Besar yang diCintai oleh Rasulullah SAW.
[Khabar Ghuzari Isna]
• Rasulullah SAW menekankan Kaum Muslimin dalam hadith panjang terkait pernikahan seorang Bujangan Anshar dengan Janda untuk MeNafkahi Janda dan Qnak-anaknya karena Ibadah dan Ridha Allah Swt.
[Mustadrak Wasail wa Mustanbithul Masaail, Juz.14 hal.238]
Untuk itu,Janda bukanlah Alat Pemuas Syahwat dan Boneka yang bisa dimainkan sesaat, melainkan mereka seperti anak-anak Yatim yang Melukai mereka mendapatkan Laknat dan Murka Allah Swt serta Membantu dan Menafkahi mereka Mendapatkan Rahmat dan Ampunan Ilahi, sehingga hal tersebut dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan Imam Ali Ibni Abi Thalib AS.
Jika orang masih menjadikan Janda Barang Mainan dan Alat Pemuas Syahwat sesaat, maka dirinya telah kembali ke Era Jahiliyyah sebelum Islam, bahkan dengan segala Kemajuan di Era Millennium sekarang ini, menjadikan lebih buruk dari masa Jahiliyyah.

Biografi singkat Imam Husein bin Ali a.s. 


Biografi singkat Imam Husein bin Ali a.s.
Imam Husein a.s. adalah putra kedua pasangan Imam Ali a.s. dan Fathimah Az-Zahra` a.s. Ia –berdasarkan pendapat yang masyhur– dilahirkan di Madinah pada tanggal 3 Sya’ban 4 H.

Setelah dilahirkan, Rasulullah SAWW menamainya Husein (Hasan dan Husein adalah nama yang tidak pernah ada sebelum kehidupan mereka, Allah dan Rasulnya telah mempersiapkan dua nama ini untuk mereka). Setelah itu, ia menciumnya dan menangis seraya berkata: “Musibah besar telah menunggumu. Semoga Allah melaknat pembunuhmu (maksud Rasulullah SAWW adalah Yadiz bin Muawiyah laknatullah, penulis)”.

Ia lebih dikenal dengan sebutan mishbaahul hudaa, safiinatun najaah, sayyidusy syuhadaa` dan Abu Abdillah.

Mas’udi menulis: “Imam Husein a.s. hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun. Selama masa itu, Rasulullah SAWW sendirilah yang memberikan makan, mengajarinya ilmu dan etika”.

Kecintaan Rasulullah SAWW kepadanya membuatnya tidak tahan melihat penderitaan yang akan menimpa Husein kecil.

Suatu hari Rasulullah SAWW sedang melewati rumah Fathimah Az-Zahra` a.s. Ia mendengar suara tangisan Husein. Langsung ia masuk ke rumah Fathimah a.s. seraya berkata kepada putrinya: “Apakah engkau tidak tahu bahwa tangisan Husein sangat membuatku risau?” Setelah berkata begitu, ia menciumnya seraya berkata: “Ya Allah, aku sangat mencintai anak ini. Oleh karena itu, cintailah dia”.

Hadis yang berbunyi: “Husein adalah dariku dan aku dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein”, dan “Husein adalah cucuku” diterima oleh Ahlussunnah Wal Jamaah dan Syi’ah.

Sepeninggal Rasulullah SAWW, selama tiga puluh tahun ia selalu setia menemani sang ayah menghadapi segala problema yang menyita segala hidupnya waktu itu.

Sepeninggal sang ayah, ia juga tetap setia menemai saudaranya Imam Hasan a.s. selama sepuluh tahun. Dan setelah Imam Hasan a.s. syahid pada tahun 50 H., selama sepuluh tahun ia mengadakan penelitian terhadap segala problema yang terjadi di masanya dan berulang kali ia mengadakan perlawanan terhadap Mu’awiyah. Setelah Mu’awiyah mati, ia dengan berani menentang Yazid dan menolak untuk berbai’at dengannya. Akhirnya, pada bulan Muharam 61 H. ia bersama segenap keluarga dan para pengikutnya yang setia meneguk cawan syahadah di padang Karbala`.

Husein a.s. adalah seorang teladan yang berkepribadian mulia. Namanya selalu dikenang bersama keberanian, anti kelaliman dan penuh gelora untuk melawan segala manifestasi kezaliman.

IMAM KEDUABELAS: IMAM MAHDI AS 


Hujjah bin Hasan lahir di Samira pada malam pertengahan Sya’ban, tahun 255 Hijriah. Namanya, seperti nama Rasulullah, adalah Muhammad dan nama panggilan atau kunyah-nya adalah nama panggilan Rasulullah dan Abu Qasim.
Ayahnya adalah Imam Hasan Askari dan nama ibunya adalah Narjis. Tatkala ayahnya wafat, Imam Mahdi berusia lima tahun. dalam usianya yang muda itu, Imam Mahdi memiliki ilmu dan hikmah yang luas sehingga mencapai maqom imamah, sebagaimana Nabi Yahya di masa kecilnya telah menduduki maqom imam dan Nabi Isa as bin Maryam telah menjadi nabi sejak berada dalam buaian.*
Laqab-nya adalah Hujjah, Qaim, Mahdi, Khalaf, Shalih, Shahibuz Zaman, Shahib.*

Orang-Orang yang Melihatnya di Masa Kecil
Sejumlah orang dari sahabat khusus Imam Hasan Askari pernah melihat putranya di masa kecil atau mendengar tentang beritanya, di antaranya adalah berikut ini.
Hakimah Khatun, bibi Imam Hasan Askari, berkata, “Pada malam kelahiran Qaim (Imam Mahdi), aku berada di rumah Imam Hasan dan bahkan berada di situ saat Imam Mahdi dilahirkan. Di masa itu, aku melihatnya langsung dan setelah itu, aku melihatnya beberapa kali.”*
Fatah Maula Zurari mengatakan, “Aku mendengar dari Abu Ali bin Muthahhar yang berkata, “Aku melihat putra Imam Hasan Askari. Imam Hasan juga menyifati seberapa tinggi tubuh putranya.” *
Amer Ahwazi mengatakan, “Abu Muhammad menunjukkan putranya kepadaku dan berkata, “Ini adalah shahib kalian.”*
Ibrahim bin Muhammad menukil dari Abu Nasher Tharif yang berkata, “Aku menyaksikan putra Imam Hasan as.” *
Nasim, pembantu Imam Hasan, berkata, “Aku melihatnya dua malam setelah kelahiran Shahibuz Zaman. Ketika aku bersin, Imam Mahdi mendoakan, ير حمك الله , dan aku sangat gembira mendengar itu.”*
Abu Ja’far Umari menceritakan, “Tatkala Imam Mahdi lahir, Abu Muhammad memanggilku agar menemuinya. Ketika aku datang, beliau berkata, “Putraku ini adalah Shahib kalian setelahku dan khalifahku untuk kalian. Dialah qaim yang masyarakat dunia menantikan kemunculannya untuk memenuhi dunia dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman.”*
Muhammad bin Hasan Karkhi menceritakan, “Aku mendengar dari Abu Harun yang berkata, “Aku melihat Shahibuz Zaman. Kelahirannya adalah pada hari Jumat, tahun 256.”*
Muhammad bin Ibrahim Kufi berkata, “Abu Muhammad menyembelih kambing untuk salah seorang sahabat dan berkata, “Ini adalah aqiqah putraku, Muhammad.”*
Hasan bin Mundzir berkata, “Pada suatu hari, Hamzah bin Abu Fatah datang dan berkata, “Kabar gembira! Semalam, telah lahir seorang bayi, putra Abu Muhammad, dan ia meminta kami untuk merahasiakannya.” Aku bertanya, “Siapakah namanya?” Beliau berkata, “Namanya adalah Muhammad dan nama panggilannya adalah Ja’far.”*
Hasan bin Husain Alawi berkata, “Aku menjumpai Abu Muhammad Hasan bin Ali di Sarro Man Ra’a dan aku mengucapkan selamat atas kelahiran putranya, al-Qaim.”*
Ibrahim, sahabat Abu Muhammad, berkata, “Tuanku Abu Hasan mengirim empat kambing untukku beserta sebuah surat yang bertuliskan, “Gunakanlah empat kambing ini untuk aqiqah putraku, Mahdi! Ambillah juga untuk dirimu sendiri dari daging kambing itu dan berikan juga kepada orang-orang Syiah!”*

Nash-Nash Imamah
Dalam kaitan ini, Syaikh Mufid menulis, “Sebelumnya, kami telah menyinggung nash-nash yang dikeluarkan Rasulullah, Imam Ali bin Abi Thalib, setiap imam secara bergiliran, dan akhirnya dari ayahnya, Imam Hasan Askari, dalam riwayat tentang imamah Imam Mahdi as. Imam Hasan Askari menunjuk dan memperkenalkan putranya sebagai imam di sisi tsiqat dari para sahabat dan Syiah-Syiah khususnya.”*
Semua menulis, “Di antara dalil terhadap imamah al-Qaim Muhammad bin Hasan adalah hukum akal mengenai keharusan wujud imam suci di setiap zaman yang terpelihara dari dosa dan kesalahan serta tidak memerlukan ilmu manusia pada zamannya. Hal ini karena masa tidak boleh kosong dari penguasa yang menyeru manusia kepada kemaslahatan, menjauhkan mereka dari kerusakan, menghukum para penjahat, memberikan petunjuk kepada yang jahil (bodoh), menjalankan hudud Ilahi (hukuman), menunjuk para komandan, memelihara negara Islam dari agresi musuh, serta mendirikan shalat Jumat dan Idul Fitri.
Dari berbagai dalil, telah terbuktikan bahwa manusia semacam ini haruslah suci dan telah terbuktikan bahwa imam-imam sebelumnya harus memperkenalkan imam setelah dirinya atau membuktikan imamah-nya bagi masyarakat dengan cara menunjukkan sebuah mukjizat.
Sepeninggal Imam Hasan Askari, seorang lelaki yang memiliki kelebihan sepertinya tiada lain adalah putranya sendiri, Imam Mahdi as. Oleh karena itulah, imamah-nya terbuktikan dan tidak memerlukan penyebutan nash lagi.*
Ishaq bin Sa’ad Asy’ari mengatakan, “Aku menjumpai Abu Muhammad Hasan bin Ali Askari dan berkata, “Wahai putra Rasulullah! Siapakah khalifah dan imam setelahmu?” Imam berdiri dan dengan begitu cepat masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, beliau kembali dalam keadaan menggendong seorang anak di pundaknya. Anak itu seperti bulan purnama. Usianya kira-kira tiga tahun. Kemudian Imam berkata, “Wahai Ahmad bin Ishaq! Sekiranya engkau tidak mulia di sisi Allah dan para imam suci, maka aku tidak akan menunjukkan putraku ini kepadamu. Inilah putraku yang namanya dan nama panggilannya sama dengan Rasulullah saw. Dialah yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman. Wahai Ahmad! Putraku ini seperti Khidhir dan Dzulqarnain. Demi Allah! Dia akan gaib dan selama gaibnya itu, semua orang akan binasa kecuali mereka yang mengukuhkannya dengan imamah dan mendoakan percepatan kemunculannya.” Ahmad bin Ishaq bertanya mengenai apakah ada tanda-tanda yang dapat membuat hatinya yakin dengan itu? Dalam keadaan itu, anak tersebut dengan bahasa Arab yang fasih berkata, “Akulah baqiyyatullah di bumi-Nya dan yang melakukan pembalasan terhadap musuh-musuh-Nya.”
Ahmad berkata, “Aku sangat senang mendengar berita ini dan lalu keluar. Di hari lainnya, aku kembali dan berkata, “Wahai putra Rasulullah! Aku gembira dengan beritamu ini. Engkau telah banyak berbuat baik kepadaku. Apakah maksudmu dari sunnah Khidzir dan Dzulqarnain?” Imam Hasan Askari mengatakan, “Kegaiban.” Aku berkata, “Wahai putra Rasulullah! Apakah kegaibannya akan terjadi begitu lama?” Beliau berkata, “Kegaibannya akan berlangsung begitu lama hingga banyak orang yang meyakini imamah-nya akan kehilangan keyakinannya itu, kecuali orang-orang yang telah menanamkan wilayah kami di hati mereka dan keimanan telah merasuk ke dalam kalbu mereka. Wahai Ahmad bin Ishaq! Kegaibannya adalah atas perintah Allah dan sebuah rahasia dari rahasia Ilahi. Apa yang kukatakan ini, jagalah dengan baik dan simpanlah dari orang-orang yang bukan muhrim! Berterimakasihlah kepada Allah hingga engkau bersama dengan kami sampai hari kiamat!”*
Muhammad bin Ali bin Bilal berkata, “Abu Muhammad Hasan bin Ali, dua tahun sebelum wafatnya, memberitahuku tentang siapakah calon penggantinya. Tiga hari sebelum wafatnya, beliau telah memberitahuku siapakah nama penggantinya.” *
Amer Ahwazi berkata, “Abu Muhammad menunjukkan putranya kepadaku dan berkata, “Putraku ini akan menjadi shahib kalian sepeninggalku nanti.”*
Muhammad bin Usman Umari berkata, “Abu Muhammad menunjukkan putranya kepada kami di rumahnya ketika jumlah kami waktu itu empat puluh orang. Beliau berkata, “Putraku ini akan menjadi imam dan khalifah kalian setelahku nanti. Patuhilah dia dan janganlah kalian berselisih karena kalian akan binasa pada agama kalian! Ketahuilah! Setelah ini, kalian tidak akan melihatnya lagi.” Mereka berkata, “Beberapa hari kemudian, Abu Muhammad meninggal dunia.”*
Musa bin Ja’far bin Wahab Baghdadi berkata, “Aku mendengar dari Abu Muhammad Hasan bin Ali yang berkata, “Seolah-olah aku melihat kalian berselisih soal penggantiku. Ketahuilah! Barangsiapa yang menerima para imam pasca-Rasulullah saw tetapi menolak imamah putraku bagaikan orang yang menerima kenabian para nabi tetapi menolak kenabian Muhammad karena kepatuhan terhadap yang paling akhir dari kami adalah seperti orang yang mematuhi orang yang pertama dari kami, dan orang yang memungkiri orang yang paling akhir dari kami adalah seperti orang yang memungkiri orang pertama dari kami. Ketahuilah bahwa putraku akan gaib hingga masyarakat akan meragukan keberadaannya, kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah.”*
Muhammad bin Usman Umari berkata, “Aku mendengar dari ayahku yang berkata, “Abu Muhammad Hasan bin Ali telah ditanya mengenai hadis ini, bahwasanya telah sampai dari ayah-ayahnya yang berkata, “Bumi hingga hari kiamat tidak akan kosong dari hujjah. Barangsiapa yang mati sedangkan ia belum mengetahui imamnya mati secara jahiliah.” Kemudian dikatakan kepada beliau, “Siapakah hujjah dan imam setelah kalian?” Beliau mengatakan, “Putraku, Muhammad, setelahku adalah imam dan hujjah. Barangsiapa yang mati dan tidak mengenalnya mati dalam keadaan jahiliah. Sadarilah bahwa putraku akan gaib hingga orang-orang bodoh akan mengalami kebingungan dan ahli kebatilan akan binasa! Orang-orang yang menetapkan waktu untuk kemunculannya telah berdusta. Dia akan bangkit seolah-olah aku sedang menyaksikan bendera-bendera putih sedang berkibar di atas kepalanya di Najaf.”*
Sejumlah sahabat menukil bahwa tatkala budak Abu Muhammad hamil, budak itu berkata kepada Abu Muhammad, “Tidak lama lagi seorang anak lelaki dari keturunanmu akan lahir. Namanya Muhammad. Dia adalah Qaim sepeninggalku.”*
Shaqar bin Abi Dulaf berkata, “Aku mendengar dari Ali bin Muhammad Ali yang berkata, “Imam setelahku adalah Hasan, putraku, dan setelah Hasan, putranya Qaim yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman.”*

Dalil-Dalil Lainnya
Selain dari nash-nash yang disebutkan tadi, kami juga memiliki banyak sekali hadis yang dapat digunakan untuk membuktikan wujud Imam kedua belas. Hadis-hadis tersebut dapat dibagi menjadi beberapa golongan.
Golongan pertama adalah hadis-hadis yang datangnya dari Rasulullah saw yang di dalamnya Rasulullah bersabda bahwa para khalifah dan umara’ setelahnya berjumlah dua belas orang. Rasulullah bersabda, “Semuanya dari Quraisy dan dengan keberadaan mereka, agama Islam akan kekal dan tetap tegak.”
Amir bin Sa’ad bin Waqqash berkata, “Aku menulis kepada Jabir bin Samrah, “Beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang kaudengar dari Rasulullah saw! Dalam jawabannya, ia menulis, “Pada hari Jumat, ketika Aslami pada malam harinya dirajam, aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Agama Islam akan terus tegak hingga hari kiamat selama dua belas orang khalifah yang semuanya dari Quraisy akan menjadi pemimpin umat.” *
Dari hadis semacam ini, dapatlah disimpulkan bahwa: pertama, agama Islam akan terus kekal hingga hari kiamat; kedua, di dalam masa ini, dua belas orang akan datang sebagai khalifah Rasulullah saw yang semuanya adalah dari Quraisy.
Dalam menentukan substansi dua belas orang ini, telah diberikan beberapa kemungkinan yang tidak satu pun darinya memiliki sanad dan alasan yang dapat dibenarkan. Yang dapat diterima hanyalah akidah Imamiyah yang memandang bahwa para imam dan khalifah pasca-Rasulullah berjumlah dua belas orang dan semuanya adalah dari Quraisy dan Bani Hasyim sementara yang kedua belas adalah Muhammad bin Hasan Askari yang hidup namun gaib dalam pandangan manusia. Ia akan muncul pada masa yang sesuai dan akan melakukan kebangkitan serta memenuhi dunia dengan keadilan.
Golongan kedua adalah hadis-hadis yang menyebutkan bahwa para imam berjumlah dua belas orang dan yang terakhirnya bernama Qaim atau Mahdi.
Salman Farisi mengatakan, “Aku menjumpai Rasulullah saw dalam keadaan Husain duduk di atas pahanya. Rasulullah mencium mata Husain dan mengecup bibirnya seraya bersabda, “Engkau adalah sayyid, putra sayyid, dan ayah para sayyid. Engkau adalah imam, putra imam, dan ayah para imam. Engkau adalah hujjah, putra hujjah, dan ayah sembilan hujjah yang kesembilannya ialah Qaim.”*
Golongan ketiga adalah hadis hadis yang menyebutkan jumlah imam dua belas dengan disertai nama-nama setiap imam.
Jabir bin Abdilllah Anshari bertanya kepada Rasulullah saw, “Siapakah nama-nama para imam dari anak-anak Ali bin Abi Thalib?” Rasulullah menjawab, “Hasan dan Husain, kedua pemuda surga, setelah itu, Ali Zainal Abidin, dan kemudian, Muhammad Baqir, dan, wahai Jabir, engkau akan bertemu dengannya. Untuk itu sampaikan salamku kepadanya. Setelahnya, Ja’far Shadiq dan setelah itu, Musa Kazhim, dan setelah itu, Ali Ridha bin Musa, dan kemudian, Muhammad Taqi bin Ali, dan kemudian, Ali Naqi bin Muhammad, dan setelah itu, Hasan bin Ali Askari, dan ditutup dengan putranya, Qaim bihaq, Mahdi as, yang akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi oleh kezaliman.”*
Sahal bin Sa’ad Anshari berkata, “Aku bertanya kepada Fatimah, putri Rasulullah saw, “Siapakah para imam suci itu?” Fatimah berkata, “Rasulullah saw memberitahu Ali, “Wahai Ali! Setelahku, engkau adalah imam dan khalifah, dan engkau lebih berhak terhadap mukminin daripada diri mereka sendiri. Ketika engkau meninggal, putramu Hasan akan menggantikanmu, dan apabila Hasan meninggal, Husain yang paling layak sebagai imam. Ketika Husain meninggal, putranya Ali bin Husain yang paling layak. Ketika Ali bin Husain wafat, putranya, Muhammad, yang paling layak. Ketika Muhammad meninggal dunia, putranya, Ja’far, dan ketika Ja’far meninggal, putranya, Musa, dan ketika Musa meninggal, putranya, Ali, yang paling layak. Ketika Ali meninggal, putranya, Muhammad, yang paling layak, dan apabila Muhammad meninggal, putranya, Ali, yang paling berhak menjadi imam, dan ketika Ali meninggal, putranya, Hasan, dan ketika Hasan meninggal, putranya, Mahdi, yang paling layak. Di tangannyalah, bagian Timur dan Barat bumi akan dipenuhi dengan keadilan.”*
Golongan empat adalah hadis-hadis yang menyatakan bahwa para imam ada dua belas orang dan semuanya suci.
Abu Thufail menukil dari Imam Ali bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Engkau adalah washi-ku terhadap orang-orang yang mati dalam Ahlulbaitku dan penggantiku terhadap umatku. Memerangimu adalah memerangiku dan berdamai denganmu adalah berdamai denganku. Engkau adalah imam dan ayah para imam. Sebelas imam dari keturunanmu akan datang dan semuanya suci dan terpelihara. Salah seorang dari mereka, Mahdi, akan memenuhi bumi dengan keadilan. Celakalah bagi orang yang memerangi mereka.”*
Golongan lima adalah hadis-hadis yang menunjukkan bahwa Ahlulbait akan tetap ada hingga hari kiamat.
Rasulullah saw bersabda, “Bintang-bintang adalah keamanan bagi ahli langit. Apabila semua bintang musnah, penduduk bumi juga akan musnah. Ahlulbaitku adalah keamanan ahli bumi. Apabila Ahlulbait musnah, penduduk bumi juga akan musnah.”*
Abdullah bin Sulaiman Amiri menukil dari Imam Ja’far Shadiq yang bersabda, “Bumi tidak akan pernah kosong dari hujjah yang mengenalkan manusia kepada yang halal dan haram serta menunjukkan mereka kepada jalan Allah.”*
Abu Hamzah berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq, “Apakah bumi akan kekal tanpa imam?” Imam menjawab, “Tidak! Apabila tanpa imam, bumi akan tenggelam.”*
Wassya’ berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ridha, “Apakah bumi akan tetap ada tanpa imam? Imam berkata, “Tidak.” Aku bertanya, “Dalam kaitan ini, telah diriwayatkan kepada kami, bahwa bumi tidak akan ada tanpa imam dan bila tiada imam, Allah akan murka kepada hamba-hamba-Nya?” Imam berkata, “Tidak! Bumi tidak akan ada tanpa adanya imam dan kalau tiada imam, bumi akan tenggelam.”*
Dari hadis-hadis seperti ini, dapatlah disimpulkan bahwa wujud imam yang merupakan seorang manusia suci serta sempurna dan menjadi tujuan penciptaaan manusia adalah suatu keharusan bagi kekekalan bumi dan para penduduknya. Bumi tidak akan pernah kekal bila tanpa adanya imam suci. Oleh karena tulah, dapat dikatakan, bahwa masa tidak pernah kosong dari wujud seorang imam meskipun gaib dan tidak terlihat oleh manusia.
Ini juga menjadi pendukung akidah Imamiyah bahwa Imam Mahdi adalah anak langsung Imam Hasan Askari yang lahir pada tahun 255 Hijriah dan kini tersembunyi dari mata kita. Ia menunaikan kewajibannya hingga landasan bagi kemunculannya tersedia dan bangkit untuk memperbaiki dunia.

Berita-Berita yang Bersusulan tentang Wujud Imam Mahdi dan Qaim
Semenjak zaman Rasulullah saw hingga masa Imam Hasan Askari, berita tentang wujud Imam Mahdi telah diberitakan. Dalam kaitan ini, banyak sekali hadis yang terdapat dalam kitab hadis, misalnya kami akan menyinggung beberapa darinya.
Jabir bin Abdillah Anshari menukil dari Rasulullah saw yang bersabda, “Mahdi adalah dari anakku, namanya adalah namaku, dan nama panggilannya adalah nama panggilanku. Ia paling menyerupaiku dalam akhlak dan fisik dibanding manusia lainnya. Ia akan gaib sehingga manusia akan mengalami kebingungan dan kesesatan. Kemudian ia akan muncul laksana meteor dan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman.”*
Imam Husain as meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, “Qaim (penyelamat) umat ini adalah orang kesembilan dari keturunanku. Ia akan gaib dan warisannya akan dibagikan di masa hidupnya.”*
Sa’id bin Jubair berkata, “Aku mendengar dari Zainal Abidin Ali bin Husain as yang berkata, “Dalam Qaim terdapat salah satu sunnah Nabi Nuh as, yaitu panjang umur.”*
Muhammad bin Muslim Tsaqafi berkata, “Aku mendengar dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali yang berkata, “Al-Qaim akan mendapatkan pertolongan dan dukungan dari Allah sehingga para musuhnya merasa ketakutan dan bumi pun akan terlipat karenanya sementara harta karunnya akan menampakkan diri dan kekuasaannya akan meliputi Timur dan Barat.”
Allah swt akan memenangkan agama Islam di tangan Imam Mahdi terhadap agama-agama lainya meskipun kaum musyrikin memusuhi dan membencinya. Dia akan memakmurkan semua bumi. Nabi Isa as akan turun dan mendirikan shalat bersamanya. *
Shafwan mengatakan, “Aku mendengar dari Imam Ja’far Shadiq yang berkata, “Barangsiapa yang menerima semua imam tetapi menolak Imam Mahdi seperti orang yang menerima semua nabi tetapi mengingkari Muhammad. Telah ditanyakan kepada Rasulullah saw, “Anak siapakah Mahdi as itu?” Rasulullah bersabda, “Mahdi adalah anak yang kelima dari imam ketujuh. Dia gaib dari kalian dan penyebutan namanya diharamkan bagi kalian.”*
Yunus bin Abdurrahman berkata, “Aku bertanya kepada Musa bin Ja’far, “Apakah engkau adalah al-Qaim?” Beliau menjawab, “Aku adalah qaim kebenaran tetapi qaim yang membersihkan bumi dari musuh dan memenuhinya dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi oleh kezaliman adalah anak kelima dari keturunanku. Ia gaib begitu lama karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Sekelompok orang akan kehilangan kepercayaan kepadanya dan sebagiannya lagi tetap meyakini keberadaannya.” Lalu, beliau menambahkan, “Betapa beruntungnya para Syiah kami yang di masa gaibnya masih tetap berpegangan dengan kami dan tetap teguh dengan kecintaan kepada kami dan berlepas diri dari musuh-musuh kami! Mereka dari kami dan kami dari mereka. Mereka ridha dengan imamah kami dan kami juga senang dengan kesyiahan mereka. Betapa beruntungnya mereka! Betapa beruntungnya mereka! Demi Allah! Pada hari kiamat nanti, mereka akan bersama kami.”*
Rayyan bin Shalt berkata, “Aku bertanya kepada Imam Ridha, “Adakah engkau shahibul amer?” Beliau menjawab, “Aku adalah shahibul amer tetapi dia (Imam Mahdi) adalah shahibul amer yang memenuhi bumi dengan keadilan dan kesejahteraan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman. Dengan kelemahan badanku ini, bagaimana aku dapat menjadi dia? Al-Qaim adalah orang yang dalam usia tuanya keluar dalam wajah muda yang tangguh dan kuat sehingga mampu mencabut pohon yang terbesar dari akar-akarnya. Bila ia berteriak di antara gunung, batu-batu akan berguguran. Tonggak Musa dan cincin Sulaiman ada di tangannya. Dia adalah putra keempat dari keturunanku. Allah swt menggaibkannya dari pandangan lalu ia akan muncul dan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.“*
Abdul Adzim Hasani berkata, “Aku menemui Muhammad bin Ali bin Musa as dan berniat untuk bertanya mengenai al-Qaim apakah dia al-Qaim ataukah orang selain dia. Lalu beliau berkata kepadaku, “Wahai Abu Qasim! Al-Qaim adalah Mahdi yang di masa gaibnya haruslah dinantikan kemunculannnya dan saat muncul, harus dipatuhi. Demi Tuhan yang telah mengutus Muhammad sebagai nabi dan menjadikan kami sebagai imam, dia adalah putra ketiga dari keturunanku! Apabila usia dunia ini tidak tersisa kecuali sehari saja, maka Allah akan memanjangkannya hingga muncul al-Mahdi yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman. Allah akan mengatur urusan al-Mahdi dalam semalam, sebagaimana urusan Musa diperbaiki hanya dalam semalam. Musa pergi untuk membawa api tetapi kembali sebagai nabi.” Kemudian, beliau menegaskan, “Amalan umat Syiah yang paling utama adalah menantikan munculnya Imam Mahdi.”*
Shaqar bin Abu Dalaf berkata, “Aku telah mendengar dari Imam Ali bin Muhmmad bin Ali yang berkata, “Imam setelahku adalah Hasan, putraku, dan setelah Hasan adalah putranya, yakni al-Qaim yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah diwarnai dengan kabut kezaliman.” *
Ahmad bin Ishaq Asy’ari berkata, “Aku menemui Abu Muhammad Hasan bin Ali dan berencana untuk menanyakan siapakah penggantinya. Beliau menjawab, “Wahai Ahmad bin Ishaq! Allah swt tidak akan membiarkan bumi kosong dari hujjah hingga hari kiamat. Berkat keberadaan hujjah, malapetaka dan bencana dijauhkan dari penduduk bumi serta hujan turun dan berkah bumi pun keluar.” Aku bertanya lagi, “Wahai putra Rasulullah! Siapakah imam dan khalifah sepeninggalmu nanti?” Imam segera masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian keluar dalam keadaan memanggul seorang anak yang mukanya seperti bulan di malam yang keempat belas (purnama) dan usianya kira-kira tiga tahun. Beliau berkata, “Wahai Ahmad! Jika engkau tidak mulia di sisi kami, kami tiada akan pernah menunjukkan putraku ini kepadamu. Dia memiliki nama dan panggilan yang sama dengan Rasulullah saw. Dialah orang yang akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi oleh kezaliman.” *
Dari hadis tersebut dan puluhan hadis yang serupa dengan itu, disimpulkan bahwa Rasulullah saw dan para imam suci secara berkesinambungan mengabarkan tentang wujud Imam yang kedua belas atau al-Mahdi atau al-Qaim. Dengan cara ini, mereka menyiapkan opini umum untuk menerimanya. Rasulullah saw telah memulai pemberitahuan ini dan kemudian dilanjutkan oleh para imam suci.

Ramalan tentang Kegaibannya
Sebagaimana yang kalian perhatikan dalam hadis-hadis sebelumnya, masalah kegaiban Imam kedua belas telah dikemukakan di tengah umat Syiah di sepanjang sejarah sejak zaman Rasulullah saw hingga Imam kesebelas. Kegaiban merupakan salah satu kekhususan Mahdi as. Selain dari hadis yang telah disebutkan, dalam hadis yang lainnya juga dijelaskan tentang kegaiban beliau.
Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah yang telah mengutusku untuk memberikan kabar gembira! Al-Qaim dari keturunanku akan gaib dari pandangan sebagaimana yang telah ditetapkan sehingga sebagian besar manusia akan berkata, “Allah swt tidak lagi memerlukan keluarga Muhammad.” Sementara itu, kelompok lainnya meragukan apakah dia benar-benar dilahirkan atau tidak. Maka, barangsiapa yang menyaksikan masa gaib harus berupaya menjaga agamanya dan tidak memberikan jalan kepada setan untuk menggodanya. Jangan sampai ia tergelincir dari agama Islam dan keluar dari agama suci ini, sebagaimana sebelumnya, ayah dan ibu kalian telah dikeluarkan oleh setan dari surga. Allah swt menjadikan setan sebagai wali dan penguasa bagi orang-orang kafir.”*
Imam Ja’far Shadiq berkata, “Jika mendengar berita kegaiban Imam kalian, janganlah kalian pungkiri!*
Thabarsi menulis, “Berita tentang kegaiban wali ashr telah diberitahukan sebelum kelahirannya dan juga berita tentang ayahnya dan kakeknya. Para muhadis Syiah merekamnya di dalam ushul dan kitab-kitab yang telah ditulis pada masa Imam Baqir dan Ja’far Shadiq. Salah satu muhadis dan penulis yang dapat dipercaya adalah Hasan bin Zarrad. Seratus tahun sebelum datangnya masa gaib, ia telah mencatat dan merekam hadis-hadis yang berkaitan dengan kegaibannya di kitabnya, Mashikhah. Dalam kenyataannya, sebagaimana yang diprediksikan dalam hadis, kegaiban ini benar-benar terjadi.”
Muhammad bin Ibrahim bin Ja’far Na’mai yang dilahirkan di masa gaib sughra ‘kecil’ dan yang menulis kitab al-Ghaibah saat berusia delapan puluh tahun menulis, “Para imam suci telah memberitahukan kegaiban Imam Zaman jauh hari sebelum masa kegaiban itu terjadi. Sekiranya kegaiban Imam Mahdi tidak terjadi, hal ini akan menunjukkan kebatilan akidah Imamiyah. Namun, Allah swt telah menampakkan kebenaran berita para imam itu dengan terjadinya kegaiban ini.” *
Selain dari Hasan bin Mahbub, sejumlah orang lainnya dari para sahabat imam suci menulis berbagai buku tentang gaibnya Imam Mahdi as sebelum kelahiran Imam Mahdi. Di antara mereka, kami akan menyinggung sebagiannya.
1. Ali bin Hasan bin Muhammad Thai Thathari, yang merupakan salah seorang sahabat Musa bin Ja’far, telah menulis sebuah buku tentang gaibnya seorang lelaki fakih dan terpercaya.*
2. Ali bin Umar A’waj Kufi dari sahabat Musa bin Ja’far menulis sebuah kitab tentang kegaiban Imam Mahdi as. *
3. Ibrahim bin Shalih Anmathi dari sahabat Musa bin Ja’far menulis sebuah buku tentang gaibnya Imam Mahdi as.*
4. Hasan bin Ali bin Abi Hamzah, yang hidup di era Imam Ridha, memiliki sebuah kitab tentang kegaiban Imam Mahdi as.*
5. Abbas bin Hisyam Nasyiri Asadi dari sahabat Imam Ridha as menulis sebuah buku tentang gaibnya Imam Mahdi as.*
6. Ali bin Hasan bin Fadzal dari sahabat Imam Hadi as dan Imam Hasan Askari menulis sebuah buku yang sama.*
7. Fadzal bin Syadan Nisyaburi salah seorang sahabat Imam Hadi as dan Imam Hasan Askari menulis sebuah buku tentang al-Qaim Ali Muhammad dan kegaibannya.*
Menimbang apa yang telah disebutkan tadi dan ditambah lagi dengan tiga persoalan lainnya, maka wujud Imam kedua belas yang gaib merupakan suatu perkara yang pasti dan tidak dapat diingkari.
Pertama: berdasarkan burhan aqliyah ‘argumentasi rasional’ dan hadis-hadis yang tidak sedikit jumlahnya, yang bersumber dari para imam suci, telah terbuktikan bahwa keberadaan seorang imam dan hujjah merupakan suatu keharusan bagi kelanggengan keturunan manusia dan bumi tidak akan pernah sepi dari wujud seorang hujjah.
Kedua: dalam banyak hadis yang mencapai batas mutawatir, disebutkan bahwa jumlah para imam suci adalah dua belas.
Ketiga: berdasarkan hadis-hadis dan penyaksian sejarah, telah datang sebelas imam yang tak lama kemudian meninggal dunia. Maka dari itu, haruslah dikatakan bahwa Imam kedua belas, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis-hadis, adalah putra langsung dari Imam Hasan Askari dan hidup dalam keadaan gaib.

Kemuliaan dan Kesempurnaan Imam Mahdi as
Sayangnya, Imam Mahdi sejak kecil hidup dalam keadaan gaib dan tidak sempat berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat tidak sempat melihat kesempurnaan esensial, kemuliaan akhlak, ilmu pengetahuan, shair dan suluk spiritual beliau. Ia pun tidak sempat menukilkannya kepada kita. Namun dengan memperhatikan tentang syarat-syarat untuk menjadi imam, haruslah kita katakan, bahwa Imam Mahdi as juga memiliki berbagai kesempurnaan yang terdapat di dalam diri para imam lainnya. Dia juga maksum (suci) dari dosa dan kesalahan serta memiliki semua pengetahuan yang merupakan suatu keharusan bagi seorang imam. Sumber ilmunya juga sama dengan sumber-sumber ilmu para imam suci lainnya.
Perilaku dan perbuatan Imam Mahdi dari berbagai aspek, seperti ibadah, sosial, dan moral adalah sama dengan Rasulullah saw dan para imam suci. Meskipun detailnya tidak dijelaskan kepada kita, di masa kemunculannya nanti, semua kesempurnaan itu akan tampak. Di sejumlah hadis pun telah disebutkan:
Imam Muhammad Baqir berkata, “Ilmu terhadap kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw ada di hati Mahdi kami dan tumbuh seperti tumbuhan tumbuh dengan subur di tanah yang sesuai. Apabila di antara kalian ada yang menyaksikan masa kemunculannya, katakanlah salam untuk kalian wahai Ahlullbait, rahmat, nubuwah, tambang ilmu, dan risalah Islam! Salam untukmu wahai Baqiyyatullah di bumi ini.”*
Kembali Imam Baqir berkata, “Ketika bangkit, al-Qaim akan meletakkan tangannya di atas kepala manusia dan mengonsentrasikan serta menyempurnakan pikiran mereka.”*
Imam Ja’far Shadiq berkata, “Ilmu terbagi menjadi dua puluh tujuh bagian. Semua apa yang dibawa oleh para nabi dan diketahui oleh manusia tidak lebih dari dua bagiannya saja. Ketika bangkit, al-Qaim akan menampakkan dua puluh lima bagian lainnya dan membagikannya kepada manusia, selain dari dua bagian yang telah dibawa oleh para nabi yang semuanya menjadi dua puluh tujuh bagian.”*
Hanya saja, dari hadis-hadis yang semacam ini, tidak boleh diasumsikan bahwa ilmu dan kesempurnaan Imam Mahdi as adalah lebih utama daripada ilmu dan kesempurnaan Rasulullah saw dan para imam lainnya! Tidak! Bukanlah seperti itu, melainkan semua imam adalah sama dari segi ilmu. Mereka juga memiliki kelebihan-kelebihan itu. Namun, kondisi, situasi, pemahaman, dan akal masarakat pada zamannya tidaklah memiliki kesiapan untuk memahami ilmu itu.

Gaib Shugra dan Kubra
Menurut keyakinan Imamiyah, Imam kedua belas mengalami gaib dua kali. Gaib shugra ‘pendek’ dan gaib kubra ‘lama’. Gaib shugra dimulai sejak kelahiran beliau (tahun 255 H) dan berlanjut hingga tahun 329 H. Sepanjang masa ini, meskipun gaib di mata manusia, ia melalui sejumlah orang khusus menjalin hubungan dengan orang-orang Syiah dan mengurusi keperluan-keperluan mereka serta menjawab persoalan-persoalan agama. Para mediator itu berasal dari orang-orang kepercayaan yang dinamakan naib ‘wakil’. Para naib beliau adalah empat orang yang dijadikan secara berurutan.
Pertama, Usman bin Sa’id. Dia adalah sahabat Imam Hadi dan Imam Hasan Askari yang terpercaya. Dia adalah salah satu orang yang diperlihatkan baginya Imam Mahdi oleh Imam Hasan Askari yang berkata, “Setelah ini, kalian tidak akan melihatnya lagi dan di masa gaib, kalian harus patuh kepada Usman bin Sa’id karena dialah pengganti Imam kalian.”*
Kedua, Muhammad bin Usman. Dia ditunjuk sebagai naib dari pihak yang suci setelah ayahnya. Usman bin Sa’id menjelang wafatnya mengatakan, “Setelahku, putraku, Muhammad, akan menjadi penggantiku dan naib Imam kalian. Niyabah-nya ‘kewakilannya’ telah didukung dan dibenarkan oleh Imam Mahdi as.”*
Ketiga, Husain bin Ruh. Muhammad bin Usman menjelang wafatnya mengenalkan Husain sebagai penggantinya dan Husain pun mendapat wikalah dari Imam Mahdi. Kepada sahabatnya, Muhammad bin Usman mengatakan, “Aku telah diberi tugas oleh Imam Mahdi as untuk menunjuk Husain bin Ruh sebagai wakil dan merujuklah kepadanya dalam berbagai urusan agama!”*
Keempat, Ali bin Muhammad Samari. Dia adalah salah seorang tokoh ternama dan terpercaya di kalangan Syiah. Husain bin Ruh, sebelum wafat, menunjuknya sebagai wakil dari pihak yang suci.*
Ali bin Muhammad Samari merupakan naib khusus Imam Mahdi as yang terakhir. Pada tahun 329 Hijriah, Ali bin Muhammad Samari wafat. Sebelumnya, dia membacakan surat yang datang dari tempat yang suci untuk manusia. Di dalam surat tersebut tertulis, “Enam hari lagi, ajalmu akan tiba. Urusi dan selesaikan semua pekerjaanmu! Namun, jangan engkau menunjuk wakil atau penggantimu! Sejak sekarang, kegaiban akan benar-benar sepenuhnya terjadi. Aku sendiri tidak akan muncul dan keluar dari kegaibanku. Selagi hati manusia belum beku dan bumi belum dipenuhi dengan kezaliman, Allah swt tidak akan mengijinkanku muncul. Sebelum syarat-syarat itu ada, siapa saja yang mengaku melihatku telah berdusta dan janganlah kalian percaya kepadanya!”*
Periode gaib sughra dan niyabah ‘perwakilan’ wakil-wakil khusus terus berlanjut hingga 74 tahun. Di masa ini, orang-orang Syiah mengadakan hubungan dengan Imam Mahdi melalui para wakil-wakil. Mereka menanyakan problem agama mereka dan memperoleh jawabannya melalui surat-surat yang diberi tanda tangan. Adakalanya, pada mulanya, dikeluarkan tanda tangan dari sumber yang suci dan mereka menerima perintah.
Karomah dan mukjizat juga telah diceritakan dalam hal ini. Untuk mengkajinya diperlukan waktu yang lebih banyak. Maksud dari terjadinya gaib shugra adalah agar orang-orang Syiah menemukan kesiapan yang lebih untuk menerima kegaiban kubra.
Gaib kubra dimulai dari tahun meninggalnya naib Ali bin Muhammad Samari (329 H) dan terus berlanjut hingga munculnya Imam Mahdi. Rasulullah saw dan para imam suci telah memberitahu terjadinya dua kegaiban ini.
Ishaq bin Ammar mengatakan, “Dari Imam Ja’far Shadiq, aku mendengarnya menyatakan, “Al-Qaim mengalami dua kegaiban: gaib yang lama dan lainnya singkat. Pada gaib shugra, hanya orang-orang tertentu dari Syiah dan yang berwilayah yang mengetahui keberadaan Imam Mahdi saat itu. Selain itu, tiada yang mengetahuinya.”*
Tempat Imam Mahdi hidup tidak jelas dan ada kemungkinan Imam hidup di tengah masyarakat tetapi secara samar. Artinya , Imam berada di antara mereka.

Filsafat Kegaiban
Mungkin saja ada yang mengatakan, “Mengapa Imam Mahdi tidak tampak oleh pandangan? Mengapa Imam tidak dapat hidup di salah satu bagian dunia ini, sebagaimana manusia pada umumnya dan berupaya untuk menyebarluaskan hukum dan ketetapan agama serta memimpin umat? Apakah tidak memungkinkan bila Imam hidup seperti itu hingga kondisi bagi kebangkitan dunia telah tersedia dan mengijinkannya untuk bangkit dan menggulingkan pemerintahan-pemerintahan yang zalim serta mendirikan pemerintahan Islam yang adil dan sejahtera.
Sebagai jawabannya, dapat dikatakan bahwa hal itu merupakan anggapan atau asumsi yang baik. Namun sayangnya, hal itu tidak dapat dilaksanakan. Untuk lebih jelasnya persoalan ini dan mengapa tidak memungkinkan untuk dijalankan, haruslah diperhatikan beberapa hal di bawah ini.
1. Program Imam Mahdi as tidak sama dengan program para imam lainnya. Para imam lainnya tidak memiliki kewajiban untuk melakukan perang bersenjata untuk mendirikan pemerintahan Islam, melaksanakan hukum serta undang-undang agama, memerangi kezaliman, dan membela orang-orang tertindas serta kaum lemah. Akan tetapi, Imam Mahdi as akan mengemban tugas yang berat ini dan ini terhitung sebagai kekhususannya. Rasulullah saw dan para imam suci mengenalkan Imam Mahdi seperti tersebut.
2. Pemerintahan Imam Mahdi as bersifat internasional, maktabi, serta Islami. Pemerintahan itu tidak terbatas pada sebuah negara atau teritorial tertentu, kaum atau bahasa tertentu, dan sudah barang tentu untuk mendirikan pemerintahan global seperti itu bukanlah perkara yang mudah sehingga memerlukan kesiapan internasional dari dua sisi. Pertama, kesiapan militer, yakni pasukan Imam Mahdi harus lebih unggul daripada pasukan militer lainnya. Kedua, kesiapan opini umum sehingga sebagian besar masyarakat dunia akan menerima pemerintahan seperti itu dan berjihad serta berkorban di jalan kebenaran.
3. Dari segi akal dan naqli (al-Quran dan hadis) telah terbuktikan bahwa wujud imam dan hujjah adalah suatu keharusan bagi kelanjutan generasi manusia dan bumi tidak akan pernah kosong dari wujud seorang hujjah.
4. Menurut hadis-hadis yang banyak jumlahnya dan bersifat mutawatir, jumlah para imam setelah Rasulullah saw adalah dua belas. Sebelas dari mereka telah datang dan tak lama kemudian meninggal dunia. Imam yang kedua belas, yakni al-Qaim bil haq atau Mahdi yang dijanjikan, harus hidup dan bertahan hingga hari kiamat.
5. Rasulullah saw dan para imam suci di masa kehidupannya berkali kali telah memberitahu persoalan Mahdi as dan kebangkitannya. Mereka, antara lain, berkata, “Saat kezaliman sudah merajalela dan menguasai dunia, Mahdi akan bangkit dan melalui jihad serta pengorbanan para sahabat dan mereka yang sepemikiran dengannya, Imam Mahdi as akan memerangi kezaliman dan mencabutnya hingga ke akar-akarnya lalu mendirikan sebuah pemerintahan yang adil dan Islami.
Kini dengan mempertimbangkan hal-hal yang disebutkan tadi, haruslah dilihat bahwa apakah Imam Mahdi dapat hidup sebagaimana manusia pada umumnya di salah satu sudut dunia ini seraya menunaikan kewajiban dan tugas pada batasan yang memungkinkan untuknya? Dengan menerima premis atau anggapan seperti ini, maka apa yang akan terjadi di dunia ini?
Dengan anggapan seperti ini, Imam Mahdi senantiasa berhadapan dengan dua kelompok dari masyarakat. Golongan yang pertama adalah orang-orang yang tertindas dan yang terzalimi. Golongan ini senantiasa ada di sepanjang sejarah. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling banyak ada di tengah masyarakat dan menantikan pertolongan. Kelompok ini yang ketika menyaksikan Mahdi –yang dijanjikan berada di tengah mereka dan sebelumnya mereka telah menunggu kemunculan sang juru penyelamat yang akan memperbaiki keadaan dunia yang gelap oleh kezaliman–akan mendukung Imam Mahdi as dan menghendaki kebangkitan internasional.
Dengan anggapan seperti ini, apabila memberikan jawaban yang positif terhadap keinginan mereka lalu memasuki kancah perang, Imam Mahdi as tidak akan mendatangkan kesuksesan karena belum terciptanya landasan bagi kebangkitan internasional sehingga, mau tidak mau, Imam akan terbunuh dan akhirnya bumi kosong dari hujjah dan imam.
Apabila Imam tidak mengabulkan keinginan orang-orang yang tertindas ini dan tidak bangkit, orang-orang tertindas akan berputus asa dan bercerai berai. Oleh karenanya, tidak ada jalan lain, kecuali gaib untuk sekian lama hingga keadaan bagi perjuangan internasional memungkinkan.
Kelompok kedua adalah pemerintahan-pemerintahan tiran dan arogan di dunia yang sepanjang sejarah dan di berbagai belahan dunia tidak segan melakukan berbagai macam kejahatan untuk melanggengkan dominasi dan kekuasaan mereka. Mereka menghilangkan segala macam kemungkinan yang mengancam kekuasaan mereka.
Kelompok ini, karena mendengar bahwa Mahdi yang dijanjikan akan melindungi dan membantu orang-orang yang tertindas serta berjuang melawan kezaliman, akan merasakan bahaya dan berupaya untuk meneror dan membunuh Imam Mahdi as. Akhirnya, dunia akan kosong dari hujjah.
Oleh karena itulah, kegaiban Imam Mahdi as merupakan suatu keharusan untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang semacam itu.

Pengaruh dan Keuntungan Kegaiban Imam Mahdi as
Dalam membahas keharusan wujud imam, maka perlu kiranya disinggung mengenai beberapa tanggung jawab penting imam. Kewajiban atau tugas tersebut adalah sebagai berikut.
menjaga dan memelihara ilmu, pengetahuan, serta undang-undang yang berkaitan dengan agama.
menyebarluaskan dan memasyarakatkan ilmu, pengetahuan, serta undang-undang yang berkaitan dengan agama di tengah umat Islam.
mendirikan dan mengelola pemerintahan Islam serta melaksanakan hukum-hukum yudikatif, politik, sosial, ekonomi, budaya serta urusan lain yang berhubungan dengan pengelolaan negara Islam dan menyesaikan urusan umat Islam.
Kini mungkin saja ada yang bertanya, “memperhatikan semua keperluan tadi –sehingga kita menganggap keberadaan imam merupakan suatu keharusan– sedangkan tidak satu pun dari perkara di atas dapat dilaksanakan oleh Imam yang gaib, maka apa gunanya Imam yang gaib tersebut?”
Maka sebagai jawabannya, saya mengatakan bahwa berkaitan dengan fungsi Imam yang pertama, yakni menjaga dan memelihara ilmu serta pengetahuan agama, Imam gaib tidak berbeda dengan para imam lainnya. Imam gaib juga memelihara dan menjaga undang-undang agama sehingga dapat dikatakan, setelah Rasulullah saw dan sepanjang sejarah, ilmu dan makrifah agama masih terpelihara dengan seutuhnya tanpa dikurangi dan ditambahi di sisi para imam suci.
Adapun tentang pengejewantahan perkara kedua dan ketiga, meskipun masyarakat di masa gaibnya Imam tidak dapat memanfaatkan wujud Imam, yang harus dipersalahkan bukanlah Imam melainkan masyarakatlah yang bersalah karena tidak mempersiapkan landasan bagi munculnya pemerintahan dan kekuasaan Imam. Oleh sebab itulah, Imam terpaksa hidup gaib untuk mempersiapkan pendahuluan-pendahuluan bagi kemunculannya.
Selain dari itu, kita tidak memiliki argumen yang jelas dan tegas bahwa Imam Mahdi as, di masa gaibnya, sama sekali tidak terlibat dalam persoalan-persoalan ilmu dan budaya yang berkaitan dengan agama serta penyelesaian problema politik dan sosial yang berkaitan dengan umat Islam. Akan tetapi, dapat diperkirakan bahwa di sebagian waktu yang menjadi keharusan, Imam menjelaskan persoalan ilmiah, baik secara langsung ataupun tidak langsung, kepada sejumlah orang atau kelompok. Selain itu, pada masa krisis, Imam mungkin bersegera membantu umat Islam dengan memberikan petunjuk-petunjuk yang diperlukan secara samar kepada para pejabat terkait. Kemungkinan hal-hal seperti itu tidak bisa dipungkiri keberadaannya.
Selain dua faedah kegaiban tadi, dua faedah lainnya juga akan kami sebutkan di sini.
Pertama, untuk membuktikan kelangsungan dan kelanggengan generasi manusia serta pembangunan dan kemakmuran dunia, dapatlah dibawakan dua dalil (argumen) yang salah satunya adalah dalil naqliyah dan yang lain adalah dalil aqliyah.
Dalil-Dalil Naqliyah
Banyak sekali hadis yang menjelaskan bahwa wujud hujjah atau imam adalah suatu keharusan bagi kelanggengan generasi manusia. Maka, ketiadaannya akan menyebabkan rusaknya bumi dan musnahnya generasi manusia. Sebelumnya, telah disinggung sebagian hadis seperti itu. Oleh karena itu, pengulangannya tidak diperlukan di sini.

Dalil-Dalil Aqliyah

Dalam kitab kalam, akidah, dan filsafat, telah disampaikan sebuah dalil mengenai keharusan adanya manusia sempurna di semua zaman. Dalil ini mendukung keharusan wujud hujjah dan imam. Penjelasan dalil ini memerlukan disebutkannya pendahuluan-pendahuluan yang telah terbuktikan dalam kitab-kitab terkait sehingga beberapa halaman berikut ini tidak akan dapat mewakilinya. Oleh sebab itu, kami di sini hanya akan menyebutkan ringkasan dari sebagian hasil yang telah terbuktikan dan diperlukan.
1. Manusia terdiri dari jasad fisik dan ruh yang metafisik (mujarrad) atau malakuti. Dua senyawa ini membentuk sebuah maujud yang bernama manusia. Manusia memiliki dua peringkat wujud. Peringkatnya yang tertinggi adalah jauhar al-mujarradah yang bersifat malakuti dan kekal sedangkan peringkatnya yang terendah adalah fisik dan jasad. Oleh karena itulah, gerakan dan proses menuju kesempurnaan adalah hal yang memungkinkan bagi manusia.
2. Manusia di dalam batin zatnya dapat bergerak di salah satu dari dua jalur: pertama, shirat mustaqim ‘jalan lurus’ kemanusiaan dan pengembangan sifat-sifat kesempurnaan manusia serta perjalanan naik kepada Allah; yang lainnya, kesesatan dan penyelewengan dari shirat mustaqim kemanusiaan yang diakibatkan oleh pengembangan sifat-sifat hewani sehingga manusia jatuh ke lembah kehewanan yang menyeramkan. Di tangan manusialah, terletak keputusan untuk memilih salah satu dari dua jalur tersebut.
3. Penciptaan manusia dan dunia bukanlah sia-sia melainkan memiliki tujuannya, yaitu untuk mencapai kesempurnaan jiwa manusia, melakukan perjalanan menuju Allah, dan mencapai kesempurnaan spiritual serta akhirat.
4. Manusia tidaklah mandiri dan merdeka dalam menemukan shirat mustaqim kemanusiaan dan gerakan batin yang menuju kesempurnaan serta kebahagiaan abadi. Akan tetapi dalam hal ini, manusia memerlukan Sang Pencipta manusia, petunjuk-Nya, dan bantuan para nabi-Nya. Oleh sebab itulah, dikatakan bahwa untuk menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat manusia, karunia Ilahi menuntut adanya program-program yang diperlukan melalui para nabi dan utusan pilihan. Hukum dan undang-undang agama diturunkan untuk tujuan ini. Inilah shirat mustaqim kemanusiaan dan jalan sair serta suluk kepada Allah. Akidah yang benar, akhlak yang terpuji, amal yang saleh merupakan sebab-sebab penyempurnaan jiwa manusia yang akan menciptakan kebahagiaan akhirat bagi manusia. Sebaliknya, akidah yang batil, akhlak yang buruk, serta pelaksanaan dosa dan perbuatan-perbuatan yang buruk akan menyebabkan jatuh dan binasanya manusia.
5. Perjalanan gerak manusia tidaklah bersifat majazi ‘tidak hakiki’ tetapi merupakan sebuah perjalanan yang sesungguhnya. Esensi jiwa manusia bergerak pada satu perjalanan yang sesungguhnya, yakni boleh jadi menuju ke sumber kesempurnaan sehingga menjadi lebih sempurna atau semakin jauh dari kemanusiaan dan menuju ke lembah kehewanan yang gelap.
Dari apa yang telah berlalu, dapat dimengerti bahwa tujuan penciptaan manusia adalah perjalanan menuju Allah dan kesempurnaan jiwa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa di antara manusia, selalu ada manusia sempurna yang bergerak pada teks agama dan shirat mustaqim. Semua akidah yang benar, akhlak yang terpuji, dan perbuatan-perbuatan yang baik teraktualisasikan dalam diri manusia sempurna tadi sehingga tujuan penciptaan manusia telah teraplikasikan pada dirinya. Manusia istimewa seperti ini bergerak menuju kesempurnaan yang multak dan senantiasa mendapatkan karunia serta rahmat Ilahi. Ia mengangkat manusia-manusia lain untuk bergerak di jalan yang sama menuju kedudukan tinggi spiritual dengan magnet batiniahnya. Para imam suci tersebut memberikan petunjuk kepada para pengikutnya dengan karunia-karunia ilahi yang selalu turun kepada ruh malakuti dan kedudukan tinggi imamah.
Manusia istimewa seperti itu adalah puncak penciptaan manusia. Ia adalah imam dan pemuka kafilah kemanusiaan serta hujjah Allah di muka bumi. Keberadaannya menyebabkan kelangsungan dan kelanggengan generasi manusia sementara ketiadaannya akan menyebabkan musnahnya generasi manusia dan rusaknya bumi.
Oleh karena itulah, dapat dikatakan bahwa faedah yang paling penting dari wujud imam adalah kelanggengan generasi manusia. Oleh sebab itu, dalam keberkesanan pengaruh penting ini, tidak ada beda antara zuhur atau gaibnya imam.
Dalam sejumlah hadis, Imam yang gaib diumpamakan sebagai matahari yang bersembunyi di balik awan.
Sulaiman mengatakan, “Aku bertanya kepada Imam Ja’far Shadiq, “Bagaimana manusia dapat meneguk manfaat dari Imam yang gaib?” Imam Ja’far berkata, “Sebagaimana halnya mereka meneguk keuntungan dari matahari di balik awan.”* Untuk menjelaskan hadis tersebut, dapatlah dikatakan bahwa sebagaimana telah terbukti dalam ilmu alam dan perbintangan, matahari adalah sentral atau poros tatasurya. Daya tariknya telah menjaga bumi dari kejatuhan dan membuat bumi mengitarinya serta mewujudkan berbagai musim, siang, dan malam. Cahayanya menerangi bumi dan panasnya menyebabkan kehidupan manusia, binatang, dan tumbuhan. Keberkesanan pengaruh ini tidak berbeda antara kemunculannya di siang hari dan kegaibannya di malam hari atau di saat mendung.
Manfaat kedua adalah menguatkan ruh harapan dalam menantikan kemenangan serta mempersiapkan diri untuk menjalani program-program yang besar dan perbaikan internasional Imam Mahdi as. Program perbaikan Imam Mahdi yang dijanjikan adalah sebagai berikut: menggulingkan pemerintahan tiran dan mencabut kezaliman untuk selama-lamanya; mendirikan pemerintahan yang satu di dunia Islam dan menyebarluaskan keadilan serta kesejahteraan; menyebarluaskan Islam di dunia dan mengalahkan agama-agama lain; menghapus sepenuhnya kesyirikan dan kekufuran; melaksanakan secara sempurna hukum dan peraturan Islam dan mencabut akar kemiskinan serta ketertindasan.
Dengan sedikit ketelitian, jelaslah sudah bahwa perealisasian perkara ini tidak akan memungkinkan tanpa adanya kesiapan semua pihak, khususnya dengan menimbang bahwa kemenangan yang agung akan diraih dengan perang dan jihad, bukan mukjizat. Selain itu, dengan mempertimbangkan kondisi sekarang, yakni bahwa para tiran di dunia memiliki kemajuan yang menakjubkan dalam ilmu dan industri –khususnya industri militer dan pembantaian massal, orang-orang yang benar-benar meyakini kedatangan Mahdi dan menghendaki kebangkitan serta perbaikan dunia yang akan dilakukannya haruslah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi perang besar ini. Pertama, mereka hendaknya mencetak diri mereka sebagaimana yang dikehendaki Imam Mahdi terhadap seluruh manusia. Kedua, opini umum haruslah dipersiapkan untuk menerima Islam dan pemerintahan satu dunia. Ketiga, mereka hendaknya berupaya untuk mengejar ketertinggalan mereka dalam ilmu pengetahuan dan industri, khususnya industri militer, dan mempersiapkan pasukan tempur, bahkan harus lebih baik daripada yang lain. Inilah makna menantikan al-Mahdi yang disebutkan dalam banyak hadis. Hal ini boleh disebut sebagai salah satu faedah beriman kepada wujud Imam gaib.

Hadis-Hadis yang Berkaitan dengan Imam Mahdi dalam Kitab Ahlus Sunnah

Hadis-hadis yang berkaitan dengan Mahdi yang dijanjikan tidaklah khusus milik kitab-kitab Syiah. Akan tetapi, banyak ulama Ahlus Sunnah yang juga menuliskan hadis-hadis yang sama dalam kitab-kitab mereka. Di antaranya akan kami singgung berikut ini.
Ali bin Abi Thalib menukil dari Rasulullah saw yang bersabda, “Apabila masa hanya tersisa sehari, Allah swt akan mengutus seorang lelaki dari Ahlulbait untuk memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi oleh kezaliman.”*
Ummu Salamah berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Mahdi adalah dari itrah-ku ‘keluargaku’ dan anak keturunan Fatimah.”*
Ali bin Abi Thalib menukil dari Rasulullah saw yang bersabda, “Mahdi adalah dari Ahlulbaitku dan Allah swt menyiapkan sebab-sebab bagi kebangkitannya dalam semalam.”*

Selain itu, ada puluhan hadis lain yang menyerupai hadis-hadis tersebut.

Dari hadis semacam ini, dapat disimpulkan bahwa keyakinan kepada Mahdi yang dijanjikan bukanlah khusus milik orang-orang Syiah tetapi merupakan sebuah akidah Islam yang besumber dari Rasulullah saw. Ahlus Sunnah juga meyakini hal ini. Dengan perbedaan bahwa di dalam keyakinan orang Syiah, Imam Mahdi merupakan pribadi yang telah dikenali dari anak-anak Rasulullah saw, Fatimah, serta Imam Husain as dan merupakan putra langsung Imam Hasan Askari yang dilahirkan pada tahun 255 Hijriah dan kini masih hidup dalam keadaan gaib dan kebangkitannya terjadi di akhir zaman, ketika dunia telah siap menerimanya. Namun, Mahdi yang dijanjikan di sisi Ahlus Sunnah merupakan sosok yang tidaklah dikenal dan belum ada tetapi hanya disebutkan sebatas bahwa dia berasal dari keturunan Rasulullah saw dan Fatimah yang akan bangkit di akhir zaman dan memenuhi bumi dengan keadilan.
Oleh karena itu, mereka, yakni Ahlus Sunnah, meyakini bahwa Mahdi akan dilahirkan di akhir zaman dan bangkit untuk memperbaiki dunia.
Akidah atau keyakinan itu bersumber dari hadis-hadis yang ada di kitab-kitab mereka. Di sana, tidak disebutkan bahwa Imam Mahdi telah dilahirkan dan bahwa dia adalah putra langsung Imam Hasan Askari yang mengalami gaib shugra dan kubra. Karena tiada penafian, keyakinan mereka tidaklah bertentangan dengan keyakinan orang-orang Syiah.
Di bagian akhir dan penutup, perlu kiranya kami sebutkan bahwa meskipun kelahiran dan kegaiban Imam Mahdi as tidaklah disebutkan dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah, sekelompok dari mereka mengakui tentang kelahiran putra Imam Hasan Askari lalu meriwayatkannya dalam kitab mereka.
Muhammad bin Thalhah Syafi’i dalam kitab Mathalibus Su’ul, Muhammad bin Yusuf dalam Kifayah Thalib, Ibn Shabagh Maliki dalam Fushul Muhimmah, Yusuf bin Qazaughali dalam kitab Tadzkirah Khawashul Ummah, Syabalanji dalam Nurul Abshar, Ibn Hajar dalam ash-Shawaiq al-Muhriqah, Muhammad Amin Baghdadi dalam Sabaikudz Dzahab, Ibn Khalkan dalam Wafiyatul A’yan , Sya’rani dalam al-Yawaqit wal Jawahir, Khajah Parsa dalam Fashul Khitab, Abu Falah Hanbali dalam Syadaratudz Dzahab, Muhammad bin Ali Hamuwi dalam Sejarah Manshuri adalah di antara mereka.

Imam Mahdi dan Panjang Usianya
Salah satu dari persoalan penting yang berkaitan dengan Mahdi yang dijanjikan adalah usianya yang panjang. Usia Imam dimulai dari tahun kelahirannya (255 H) dan berlanjut hingga masa ini. Ia terus akan hidup hingga muncul pada waktu yang tidak jelas dan terus berlanjut hingga wafat. Hasilnya, usia Imam amatlah panjang dan tidak biasa. Hal ini tiada bandingannya di zaman sekarang. Mungkin meyakini adanya usia sepanjang ini bukanlah suatu perkara yang mudah bagi sejumlah orang. Oleh karena itu, hal ini memerlukan pembahasan dan pengkajian yang sayangnya bukan merupakan keahlian saya.
Penyingkapan sebab dan faktor panjangnya usia Imam memerlukan serangkaian kajian yang mendalam dan luas, yang harus dilaksanakan oleh tim cendekiawan dan para pakar ilmu terkait seperti ilmu biologi, kedokteran, nutrisi, kesehatan dan pengobatan, antropologi, sosiologi, dan ilmu-ilmu lain yang ada hubungannya. Dengan kerjasama dan keseriusan para cendekiawan itu, dapat disingkap tentang rahasia di balik panjangnya usia manusia dan dari mereka akan diperoleh informasi sehingga banyak manusia yang memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk tetap sehat, panjang umur, serta awet muda. Penyingkapan rahasia panjang umur bukan hanya bermanfaat bagi mereka yang meyakini Mahdi tetapi juga mendatangkan manfaat bagi kemanusiaan secara umum. Di sini, akan kami sebutkan beberapa hal penting.
1. Batas pertengahan usia manusia di sepanjang sejarah di berbagai negara adalah tidak sama tetapi berbeda dan selalu berubah. Perbedaan ini disebabkan jenis dan cara makan, pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit-penyakit menular, lingkungan kehidupan, dan kemajuan ilmu kedokteran.
2 Sejumlah manusia hidup lebih lama dibanding manusia lainnya, bahkan mereka bertahan hingga usia seratus tahun. Sebagai pengecualian, ada saja orang yang hidup sampai usia seratus tahun atau bahkan seratus lima puluh tahun. Menurut beberapa kesaksian, terdapat orang-orang langka yang hidup hingga usia dua ratus tahun atau bahkan sedikit lebih banyak. Hal yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa hingga kini tidak satu pun cendekiawan yang dapat menentukan batasan tertentu bagi usia manusia, untuk dapat dikatakan bahwa manusia tidak mungkin melebihi batasan itu walaupun dalam bentuk langka dan jauh sekali.
3 Meskipun Allah swt melaksanakan pekerjaan-Nya melalui sebab-sebab dan faktor-faktor alamiah, kekuasaan-Nya tidak terbatas oleh batasan khusus atau tertentu dan tidaklah terbatas oleh sebab-sebab. Akan tetapi, Allah dapat menjalankan urusan-Nya melalui sebab-sebab yang tidak diketahui, sebagaimana Allah swt menunjukkannya dalam mukjizat. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa apabila wujud manusia khusus diperlukan hingga waktu yang panjang, Allah swt berkuasa untuk menciptakan sebab-sebab alamiah atau bahkan non-alamiah. Maka, usia manusia yang mencapai ratusan tahun atau bahkan ribuan tahun, secara pengecualian, tidak dapat dipungkiri.
4 Sebab-sebab ketuaan dan kematian tidaklah jelas bagi manusia. Kita tidak memiliki alasan atau dalil bahwa semua manusia sudah pasti, tanpa terkecuali, di usia tertentu akan menjadi tua dan kehilangan kekuatan jasmaninya.
5 Dalam sejarah, telah disinggung beberapa orang yang memiliki usia ratusan tahun dan bahkan seribu tahun atau lebih. Hanya saja untuk membuktikan usia panjang seperti ini, memerlukan dalil yang pasti. Namun, inti kemungkinannya juga tidak dapat diragukan.
6 Salah seorang yang usianya terpanjang dalam sejarah adalah Nabi Nuh as. Di dalam al-Quran, disebutkan bahwa Nabi Nuh berdakwah kepada umatnya untuk bertauhid dan menyembah Tuhan yang Esa selama 950 tahun. Namun, ia senantiasa mendapat penentangan dari kebanyakan manusia sehingga angin taufan yang besar datang dan semua orang kafir binasa. Selain Nuh dan para pengikut khususnya yang menaiki perahu, semua binasa. Hanya mereka yang menaiki perahu selamat.*
Dari ayat yang disebutkan tadi, dapat diketahui bahwa Nabi Nuh as menyeru umat selama 950 tahun. Hanya saja tidak jelas dalam usia berapa, Nuh ditunjuk sebaga rasul. Juga belum jelas, setelah peristiwa taufan, Nuh hidup beberapa lama. Namun secara ringkas, dapat simpulkan bahwa usia Nuh melebihi seribu tahun.
Al-Quran merupakan sebuah data yang pasti dan tidak dapat dipungkiri. Adanya usia yang melebihi seribu tahun telah dibenarkan oleh al-Quran. Jika usia setua itu dapat diterima, keberadaan usia yang lebih sekalipun tidak dapat dipungkiri.

Waktu Zuhur ‘Kemunculan’

Adalah tidak ditentukan waktu atau zaman tertentu bagi kemunculan Imam Mahdi dan kebangkitannya yang bersifat mendunia. Para imam suci dalam beberapa hadis bahkan mendustakan mereka yang menentukan waktu kemunculan al-Mahdi.
Fudzail mengatakan, “Aku bertanya kepada Imam Muhammad Baqir, “Apakah perkara kemunculan Imam Mahdi terjadi pada masa yang tertentu?” Imam sebanyak tiga kali mengatakan, “Mereka yang menentukan waktunya adalah telah berbohong.”*
Muhammad bin Muslim mengatakan, “Imam Ja’far Shadiq mengatakan, “Apabila ada yang menentukan waktu munculnya Imam Mahdi as, janganlah engkau gentar untuk mendustakannya karena kami tidak memastikan waktu bagi kemunculannya.”*
Dari hadis-hadis seperti itu, dapatlah disimpukan bahwa Rasulullah saw dan juga para imam suci tidak memberitahukan kapan Imam Mahdi akan muncul. Dengan demikian, mereka telah menutup segala jalan untuk penyalahgunaan. Oleh karena itu, apabila ada yang menisbatkan kepada imam atau selain imam yang berkaitan dengan kepastian waktu kemunculan Mahdi yang dijanjikan, kita berkewajiban untuk mendustakannya.

Tanda-Tanda dan Syarat-Syarat Kemunculan (zuhur) Mahdi

Terdapat tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya waktu zuhur ‘kemunculan’ Imam Mahdi as yang tercatat dalam hadis. Namun, sebagian besarnya adalah lemah serta tidak memiliki sanad yang muktabar dan dapat dipercaya. Selain itu, ada kemungkinan pemalsuan di dalamnya. Untuk mengkaji hal tersebut, diperlukan waktu yang lebih banyak.
Tampaknya, syarat kemunculan Imam Mahdi as yang paling penting adalah adanya kesiapan yang bersifat mendunia. Apabila syarat ini telah terwujud, kita boleh berharap bahwa waktu kemunculannya sudah dekat dan untuk memperjelas duduk persoalannya, kita harus memperhatikan beberapa hal walaupun secara ringkas.

Program dan Kekhususan Pemerintahan Imam Mahdi as
Pemerintahan Imam Mahdi as bukanlah suatu hal yang biasa melainkan –sebagaimana dijelaskan dalam banyak hadis, sangat berbeda dan memiliki banyak kekhususan.
1. Pemerintahannya adalah sebuah pemerintahan yang sepenuhnya agamis dan Islami. Di masa itu, Islam berkuasa secara utuh. Hukum serta undang-undang samawi dilaksanakan secara total dan digunakan dalam semua urusan sosial.
2. Pemerintahan Imam Mahdi as bersifat internasional. Di masa itu, perbatasan-perbatasan buatan yang menciptakan fitnah, seperti geografis, negara dan etnik, serta bahasa, semuanya tenggelam dan dunia hanya diatur oleh satu pemerintahan. Semua masyarakat dunia bekerjasama dalam mengelola dunia.
3. Kesyirikan dan kekufuran tercabut dari muka bumi dan Islam mengalahkan semua agama serta menemukan kekuasaannya. Para pemilik agama samawi hidup dengan penuh kedamaian dan ketulusan.
4. Pemerintahan-pemerintahan tiran yang arogan akan berjatuhan. Kezaliman akan tercabut dari dunia untuk selamanya dan keadilan serta kesejahteraan terhampar luas di seluruh penjuru dunia.

Kondisi Dunia saat ini
Di masa sekarang, banyak sekali masyarakat dunia yang musyrik atau kafir dan yang berkuasa adalah para tiran serta pemerintahan-pemerintahan boneka kaum musyrik dan kafir. Selain itu, ilmu pengetahuan dan teknologi militer yang sangat destruktif serta berbahaya berada di bawah penguasaan mereka. Ringkasnya, kaum mustakbirin dan imperialis menguasai masyarakat dunia dan dengan seluruh kekuatannya, mereka menumpas semua gerakan yang menuntut kemerdekaan dan kebebasan.

Syarat Penting bagi Kemenangan
Salah satu syarat penting bagi kemenangan gerakan dan revolusi adalah adanya semua sebab dan penunjang yang dengan ketiadaannya, kemenangan mustahil diraih. Gerakan dan revolusi mendunia Imam Mahdi juga tidak terpisahkan dari undang-undang universal dan alamiah ini. Memperhatikan hal penting ini juga sangat diperlukan meskipun Imam Mahdi dan para sahabatnya, dalam revolusi dunia, mendapatkan dukungan Ilahi. Namun, sebagaimana yang dipahami dari berbagai hadis, kemenangan Imam Mahdi dan para sahabatnya diraih dengan perang dan pertumpahan darah, bukan dengan mukjizat.
Basyir mengatakan, “Hari itu, aku menemui Abu Ja’far. Hadirin bertanya kepada beliau, “Tatkala al-Mahdi bangkit, apakah semua urusan secara alamiah akan lancar di hadapannya, dan bahkan tiada setetes pun darah yang tertumpah?” Imam berkata, “Demi Allah, keadaannya tidaklah demikian! Sekiranya urusan seperti itu mungkin, maka hal itu juga akan berlaku bagi Rasulullah saw. Gigi Rasulullah saw patah di medan tempur, darahnya mengucur, serta keningnya yang suci terluka. Demi Allah! Kebangkitan dan gerakan Shahibul amr juga tidak akan mencapai kemenangan, kecuali di medan tempur dengan menumpahkan keringat dan darah-darah.” Ketika itu, Imam menyeka kening beliau yang suci.”*
Memandang program besar serta luar biasa Imam Mahdi as, kondisi kontemporal serta masa depan dunia dari sisi industri perang yang menakjubkan, dominasi serta kekuasaaan kaum imperialis dunia terhadap industri itu, dan juga dengan melihat gerakan, kebangkitan Imam Mahdi, serta kemenangannya yang berlangsung dengan perang dan jihad, maka kami sampai kepada kesimpulan bahwa untuk mewujudkan kemenangan besar ini, kita memerlukan persiapan yang luas pada semua sisi dalam skala internasional. Tanpa itu semua, Imam Mahdi tidak akan muncul dan kemenangan tidak akan memungkinkan baginya.
Tanggung jawab untuk mempersiapkan kondisi dan keadaan dunia bagi kemunculan Imam Mahdi dan kebangkitannya berada di pundak Muslimin, orang-orang yang meyakini keberadaan Imam Mahdi as, dan mereka yang menantikan kemunculannya. Mereka memiliki sejumlah kewajiban untuk merealisasikan perkara-perkara penting sebagai berikut:
1. Mereka hendaknya menyucikan dan mendidik jiwa, membina akhlak yang baik dan menjauhi dosa-dosa, khususnya kezaliman, menjaga objektifitas dan konsistensi dari segi amaliah terhadap hukum-hukum dan undang-undang Islam, serta berupaya membela orang-orang tertindas dan menyebarluaskan keadilan. Mereka harus mencetak diri mereka sebagaimana yang diinginkan oleh Imam Mahdi as karena Imam bangkit untuk itu.
2. Mereka harus mengemukakan kelebihan-kelebihan nilai-nilai hukum dan undang-undang Islam dalam berbagai dimensi, seperti akidah, ritual, akhlak, politik, sosial, budaya, dan ekonomi terhadap masyarakat dunia dengan menggunakan berbagai sarana media yang canggih dan propaganda serta mempersiapkan pemikiran masyarakat untuk menerima Islam.
3. Mereka harus bersungguh-sungguh mencari ilmu pengetahuan dan teknologi di berbagai industri, khususnya militer, sehingga dapat mengejar ketertinggalan-ketertinggalan dan menerjunkan diri mereka ke barisan kafilah ilmu dan industri yang telah mengalami banyak kemajuan dan bahkan telah mendahului mereka.
4. Hendaknya mereka memperkuat pasukan militer dan mempersenjatai pasukan dengan berbagai senjata mutakhir. Dengan ini, mereka dapat membuktikan kekuatan militernya kepada masyarakat dunia dan membuat takut pihak musuh sehingga tidak berani menyerang Islam dan umat Islam.
5. Mereka hendaknya berupaya mendirikan atau mewujudkan sebuah pemerintahan yang seratus persen Islam sebagai model dan dengan menerapkan secara seutuhnya hukum dan undang-undang Islam di berbagai sektor, mereka mendirikan negara yang kukuh dan maju. Mereka harus pula berupaya menyesaikan problema ekonomi, politik, sosial, dan budaya serta memerangi kemiskinan, kezaliman, dan diskriminasi. Mereka juga harus menyebarluaskan keadilan dan kesejahteraan sehingga secara praktik, dapat menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa dunia ini dapat dikelola secara sangat baik dengan menerapkan secara seutuhnya hukum dan undang-undang Islam.
Inilah makna dari penantian faraj (kemenangan) yang dalam hadis disebutkan sebagai kewajiban pada masa kegaiban Imam Mahdi as sehingga begitu ditekankan. Apabila umat Islam yang meyakini kemunculan Imam Mahdi as dan kebangkitan internasionalnya bersikap seperti itu, secara lambat laun akan tercipta landasan bagi kemunculan Imam Mahdi as dan hal itu dapat dikategorikan sebagai alamat atau tanda semakin dekatnya kemunculan Imam Mahdi.

IMAM KESEBELAS: IMAM HASAN ASKARI AS


Imam Hasan Askari lahir pada tanggal 8 bulan Rabiuts Tsani tahun 232 Hijriah di Madinah. Namanya Hasan, nama ayahnya Ali bin Muhammad, dan nama ibunya Hadis atau Susan. Kunyah-nya adalah Abu Muhammad dan laqab-nya adalah Shamit, Hadi, Rafiq, Zaki, Naqi, Khalish, dan Askari. Beliau meninggal pada tanggal 8 Rabiuts Tsani tahun 260 Hijriah di Sarro Man Ra’a dan jasadnya yang suci dimakamkan di sisi makam ayahnya. Saat itu, kira-kira usianya telah berlalu 28 tahun dan masa imamah-nya adalah enam tahun.*


Nash-Nash Imamah

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, dalil-dalil dan burhan imamah terbagi menjadi dua: pertama, dalil-dalil umum yang dapat digunakan untuk membuktikan imamah. Jenis dalil ini secara terperinci telah dibahas; kedua, dalil-dalil khusus yang dibuat untuk membuktikan imamah tiap-tiap imam secara khusus, seperti nash-nash yang dikeluarkan oleh setiap imam untuk imam selanjutnya. Kami di sini hanya menyebutkan nash-nash yang kedua.
Abduladzim bin Abdullah Hasani berkata, “Suatu hari, aku menjumpai Ali bin Muhammad. Beliau berkata, “Marhaban wahai Abu Qasim! Engkau adalah sahabat sejati kami.” Kemudian aku berkata, Wahai putra Rasulullah! Aku ingin mengutarakan agamaku kepadamu. Jika disukai olehmu, aku akan tetap dengan agama itu hingga mati.” Kemudian Imam berkata kepadaku, “Katakan wahai Abu Qasim!” Aku berkata, “Aku meyakini Tuhan yang satu dan tidak ada yang menyerupai-Nya.” Kemudian aku mengatakan, “Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah serta penutup para nabi. Sepeninggalnya hingga hari kiamat, tidak akan ada nabi yang diutus. Imam dan khalifah serta wali amr setelah Nabi saw adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan setelahnya, adalah Hasan dan setelah itu, Husain, dan setelah itu, Ali bin Husain, dan setelah itu, Muhammad bin Ali, dan setelah itu, Ja’far bin Muhammad dan setelah itu, Musa bin Ja’far, dan setelah itu, Ali bin Musa, dan setelah itu, Muhammad bin Ali dan setelah itu, engkau adalah imam.”
Ali bin Muhammad berkata, “Dan setelahku, adalah putraku, Hasan, sebagai imam. Maka, bagaimana umat nanti berkaitan dengan kepemimpinannya?” Aku berkata, “Wahai tuanku beritahukan kepadaku bagaimana keadaannya?” Beliau berkata, “Ia tidak akan terlihat dan penyebutan namanya akan diharamkan hingga ia keluar dan memenuhi bumi dengan keadilan dan kesejahteraan setelah sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.”
Setelah itu, Imam Ali bin Muhammad berkata, “Wahai Abu Qasim! Demi Allah, Islam adalah agama Allah yang dipilih-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Teguhkan hatimu pada agamamu itu! Semoga Allah meneguhkanmu di dunia dan akhirat pada akidah ini.” *
Abu Hasyim Dawud bin Qasim Ja’fari mengatakan, “Aku mendengar dari Abu Hasan Shahib Askar yang berkata, “Penggantiku adalah putraku, Hasan. Lalu, bagaimana kalian berhubungan dengan pengganti setelah putraku?” Aku berkata, “Nyawaku kukorbankan untukmu! Mengapa?” Beliau berkata, “Sebab tiada seorang pun yang melihatnya dan kalian juga dilarang menyebut namanya.” Aku berkata, “Lalu bagaimana kita menyebut namanya?” Beliau menjawab, “Katakan hujjah putra hujjah!”*
Shaqar bin Abi Dalaf berkata, ” Setelah Mutawakkil menarik Abu Hasan ke Baghdad, aku pergi untuk memperoleh berita darinya. Mutawakkil memandangku dan berkata, “Duduklah!” Berbagai jenis pikiran menghujamku dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Betapa salahnya aku datang kemari!” Mutawakkil mengisyaratkan kepadaku agar aku keluar. Kemudian ia berkata kepadaku, “Dengan tujuan apa engkau datang kemari?” Aku berkata, “Aku memiliki maksud baik.” Ia berkata, “Mungkin engkau datang untuk melihat tuanmu?” Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Siapakah maula-ku?” Ia berkata, “Diamlah! Maula-mu benar! Janganlah takut! Aku juga berada di atas agamamu.” Aku berkata, “Alhamdulillah.” Ia berkata, “Apakah engkau ingin bertemu dengan maula-ku?” Aku berkata, “Ya.” Ia berkata, “Duduklah sampai pengantar surat keluar!”
Ketika keluar, ia berkata kepada ghulam-nya ‘budak’, “Ambillah tangan Shaqar dan bawalah dia ke kamar tempat seorang Alawi (keturunan Ali bin Abi Thalib) dipenjarakan dan biarkanlah mereka berdua!”
Shaqar berkata, “Budak itu membawaku ke sebuah kamar dan kemudian keluar. Aku melihat Abu Hasan sedang duduk di atas tikar dan di hadapannya, ada sebuah lubang kubur yang telah digali. Aku bersalaman dengannya dan duduk. Beliau berkata, “Wahai Shaqar! Mengapa engkau datang kemari?” Aku berkata, “Aku datang untuk mengetahui keadaanmu.” Selanjutnya, aku memandang ke lubang kubur dan menangis. Imam memandangku dan berkata, “Wahai Shaqar! Janganlah bersedih! Engkau tidak akan mengalami marabahaya.” Aku berkata, “Alhamdulillah.” Selanjutnya aku berkata, “Maula-ku! Telah diriwayatkan sebuah hadis yang aku tidak memahami maknanya bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah engkau memusuhi hari-hari karena nanti hari-hari akan berbalik memusuhimu.” Apakah makna hadis ini?” Beliau mengatakan, “Langit dan bumi berdiri berkat wujud kami. Sabt ‘sabtu’ adalah nama Rasulullah saw dan ahad adalah Amirul Mukminin dan itsnain adalah Hasan dan Husain sedangkan tsulatsa adalah Ali bin Husain, Muhammad bin Ali, dan Ja’far bin Muhammad. Arbia’ adalah Musa bin Ja’far, Ali bin Musa, Muhammad bin Ali, dan aku sendiri. Khumais adalah putraku Hasan dan Jumu’ah adalah putra Hasan. Di sekitarnyalah, akan berkumpul kelompok penuntut kebenaran dan dialah yang memenuhi bumi dengan keadilan dan kesejahteraan setelah bumi, sebelumnya, dipenuhi oleh kezaliman dan kesewenang-wenangan. Inilah makna hari-hari. Maka, janganlah kalian memusuhi hari-hari sebab pada hari kiamat nanti, mereka akan menjadi musuhmu.” Setelah itu, beliau berkata kepadaku, “Wahai Shaqar! Ucapkanlah selamat tinggal kepadaku dan pergilah karena engkau tidak dalam keadaan aman di sini!”*
Shaqar bin Abi Dulaf berkata, “Aku mendengar dari Ali bin Muhammad bin Ali yang berkata, “Setelahku, Hasan, putraku, adalah imam dan setelah Hasan, putranya adalah qaim yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi oleh kezaliman dan kesewenang-wenangan.”*

Yahya bin Yasar berkata, “Abu Hasan Ali bin Muhammad pada empat bulan sebelum wafatnya berwasiat kepada putranya, Hasan, dan mengisyaratkan bahwa sang putra adalah imam setelahnya dan sekelompok lainnya dari orang-orang dekatnya dijadikannya sebagai saksi.”*
Ali bin Umar Nufali berkata, “Aku berada di rumah Abu Hasan. Kemudian putranya, Muhammad, lewat di sisi kami. Aku berkata, “Kukorbankan diriku untukmu! Apakah Muhammad adalah imam kami sepeninggalmu nanti?” Beliau menjawab, “Tidak. Imam kalian setelahku adalah Hasan.”*
Abdullah bin Muhammad Isfahani berkata, “Abu Hasan berkata kepadaku, “Imam kalian setelahku adalah orang yang nanti mendirikan shalat jenazahku.” Hal ini diucapkan beliau manakala Abu Muhammad belum dikenal dan diketahui. Setelah Abu Hasan wafat, putranya, Abu Muhammad, mendirikan shalat jenazahnya.”*
Ali bin Ja’far berkata, “Waktu itu aku berada di sisi Abu Hasan. Kemudian putranya, Muhammad, meninggal dunia. Imam berkata kepada putranya, Hasan, “Putraku! Bersyukurlah kepada Allah karena Dia menetapkan perkara imamah kepada dirimu.”*
Ahmad bin Muhammad bin Abdillah bin Marwan berkata, “Tatkala Abu Ja’far Muhammad bin Ali meninggal, aku hadir. Abu Hasan datang dan disediakan kursi untuk tempat duduknya. Kemudian beliau duduk sedangkan Ahlulbaitnya berada di sekelilingnya. Putra Abu Hasan, Abu Muhammad, juga berdiri di salah satu sudut ruangan. Setelah mengafani dan mengebumikan Abu Ja’far, Abu Hasan memandang putranya, Abu Muhammad, dan berkata, “Anakku! Bersyukurlah kepada Allah sebab Dia telah menetapkanmu sebagai imam.”*
Ali bin Mahziyar berkata, “Aku berkata kepada Abu Hasan, “Apabila -semoga dijauhkan oleh Allah- terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri Anda, kepada siapakah kami akan merujuk?” Beliau berkata, “Imamah akan jatuh ke pundak putraku yang paling besar, Hasan.”*
Ali bin Amer Athar berkata, “Aku tiba di sisi Abu Hasan dalam keadaan putranya, Abu Ja’far, masih hidup dan kami berpikir bahwa Abu Ja’far-lah yang menjadi pengganti ayahnya nanti. Aku bertanya, “Kepada putramu yang manakah nanti kami akan merujuk sepeninggalmu?” Beliau menjawab, “Untuk sementara ini, janganlah berpikir untuk itu dahulu hingga datang petunjuk dari Allah.” Ali bin Amer berkata, “Beberapa lama setelah itu, aku menulis surat kepada beliau, “Kepada siapakah jabatan imamah akan jatuh?” Sebagai jawaban terhadap suratku itu, beliau menulis, “Kepada anakku yang paling besar dan Abu Muhammad adalah lebih besar daripada Abu Ja’far.”*
Sa’ad bin Abdillah menukil dari sekelompok Bani Hasyim, di antaranya adalah Hasan bin Husain Afthas, bahwa sepeninggal Muhammad bin Ali bin Muhammad, “Kami hadir di rumah Abu Hasan. Sebuah permadani terhampar di ruangan rumah Imam dan hadirin duduk di sekeliling beliau. Kami memperkirakan jamaah yang hadir dari Bani Abbas dan Bani Ali bin Abi Thalib sekitar seratus lima puluh orang, terkecuali para budak dan masyarakat lainnya.
Di saat itu, Hasan bin Ali, yang dalam keadaan dikelilingi banyak orang, tiba di majelis dan duduk di sebelah kanan ayahnya. Abu Hasan memperhatikannya dan berkata, “Anakku! Bersyukurlah kepada Allah karena Dia menetapkan perkara imamah pada dirimu.”*
Kemudian Hasan menangis dan mengucapkan kalimar istirja’ (inna lillahi wainna ilaihi rajiun). Ia berkata, Kami bertanya, “Siapakah dia?” Dijawab, “Putranya, Hasan. Sepertinya ia berusia dua puluh tahun. Di sinilah, kami pertama kali mengenalinya dan memahami bahwa Abu Hasan melantiknya sebagai imam sepeninggalnya nanti.”*
Muhammad bin Yahya mengatakan, “Sepeninggal Abu Ja’far, aku berjumpa dengan Hadrat Abu Hasan dan aku mengucapkan belasungkawa atas kematian putranya. Dalam keadaan ketika Abu Muhammad duduk di sisinya dan menangis, Abu Hasan memperhatikannya dan berkata, “Allah swt menjadikanmu sebagai penggantinya. Maka, bersyukurlah kepada Allah.”*
Syahuwiyah bin Abdullah berkata, “Abu Hasan menulis kepadaku, “Engkau ingin bertanya tentang siapakah penggantiku setelah Abu Ja’far dan engkau khawatir. Namun, jangan engkau bimbang karena Allah swt tidak akan menyesatkan orang yang diberi-Nya petunjuk. Imammu adalah Abu Muhammad. Semua ilmu pengetahuan yang diperlukan oleh manusia berada di sisinya. Allah swt akan mendahulukan dan mengakhirkan siapa saja yang dikehendakinya , Ayat mana saja yang Kami
hapuskan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.

Keutamaan dan Kemuliaan
Syaikh Mufid menulis, “Setelah Abu Hasan, Ali bin Muhammad menunjuk putranya, Abu Muhammad Hasan bin Ali sebagai imam karena semua keutamaan berkumpul padanya. Dalam kaitan dengan apa yang menyebabkan kelayakan menjadi imam dan pemimpin, seperti ilmu, zuhud, kesempurnaan, akal, ishmah, keberanian, kedermawanan, banyaknya ibadah, Abu Muhammad lebih unggul daripada masyarakat di zamannya. Selain dari itu, ia telah ditunjuk oleh ayahnya yang mulia sebagai imam.”*
Husain bin Muhammad Asy’ari dan Muhammad bin Yahya serta juga ada selain dari mereka mengatakan, “Ahmad bin Ubaidillah bin Khaqan di Qum ditugaskan untuk menjaga harta pemerintahan dan mengambil pajak. Dia sangat memusuhi Ahlulbait. Pada suatu hari, di hadapannya, mencuat pembicaraan mengenai alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Thalib) dan mazhab mereka. Dia mengatakan, “Di wilayah Sarro Man Ra’a, aku tidak mengenal dan melihat seorang pun dari Bani Alawiyin yang dalam perilaku, waqar dan iffah, kedermawanan, serta kewibawaan di sisi Ahlulbait dan Bani Hasyim yang menyerupai Hasan bin Ali bin Muhammad, bahkan orang-orang tua sekalipun, para komandan tentara, dan para menteri lebih mendahulukannya daripada diri mereka sendiri.”
Ahmad bin Ubaidillah mengatakan, “Pada suatu hari, ayahku mengadakan suatu pertemuan umum dan aku berdiri. Tiba-tiba beberapa pegawai istana masuk dan bertanya, “Apakah Abu Muhammad bin Ridha ada di rumah.” Ayahku dengan suara keras berkata, “Ijinkanlah mereka masuk!” Aku heran menyaksikan pegawai istana begitu berani memanggil ayahku dengan kunyah karena hanya khalifah dan putra mahkota yang berhak menyebut dengan panggilan kunyah. Di saat itu, seorang pemuda yang masih sangat remaja dengan badannya yang tinggi serta rupanya yang tampan datang dengan begitu berwibawa. Ketika melihatnya, ayahku bangun dan maju beberapa langkah untuk menyambutnya. Aku tidak pernah melihat ayahku melakukan hal seperti itu untuk orang lain sebelumnya. Lalu ayahku memeluknya dan mencium wajahnya dan lantas mendudukkannya di tempatnya. Ayahku pun duduk di hadapannya dan sibuk berbicara. Di tengah hangatnya pembicaraan, berkali-kali ayahku mengatakan, “Aku korbankan diriku untukmu.”
Aku begitu takjub dengan perilaku ayahku. Di saat itulah, penjaga pintu istana datang dan berkata, “Muwaffiq Ahmad bin Mutawakkil Abbasi meminta ijin untuk masuk.” Adalah menjadi kebiasaan ayahku setiap kali Muwaffiq meminta ijin masuk, maka para penjaga pintu dan kepala tentara berdiri membentuk dua barisan hingga ia masuk dan keluar. Namun untuk saat itu, ayahku berkata kepada hadirin, “Bawalah Abu Muhammad ke barisan belakang sehingga Muwaffiq tidak melihatnya!”
Muwaffiq masuk dan kemudian ayahku memeluknya lalu keluar. Aku berkata kepada para penjaga pintu ayahku, “Siapakah orang yang begitu ayahku dan kalian hormati itu?” Mereka menjawab, “Seorang lelaki alawi yang namanya adalah Hasan bin Ali. Ia populer dengan nama Ibn Ridha.”
Dari ucapan ini, keherananku semakin bertambah. Ketika ayahku selesai melaksanakan shalat isya’ dan duduk sendirian untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kantor, aku menghampirinya. Ayahku berkata, “Ahmad! Apakah engkau ada keperluan?” Aku berkata, “Ya, Ayahku! Apabila engkau mengijinkan, siapakah lelaki yang pagi tadi datang dan sangat engkau hormati?” Ayahku mengatakan, “Lelaki itu adalah Imam kaum rafidzi (Syiah), Hasan bin Ali yang termashur dengan nama Ibn Ridha.” Setelah beberapa lama diam, ia berkata, “Anakku! Apabila khilafah ini diambil dari Bani Abbas, maka di antara Bani Hasyim, tiada yang layak mendudukinya selain dia karena, dalam keutamaan dan iffah, keterhindaran dari hawa nafsu, kezuhudan, ibadah, serta akhlak yang baik, tiada yang dapat menandinginya. Apabila melihat ayahnya, engkau akan menjumpainya sebagai orang yang sangat dermawan dan mulia.”
Ahmad berkata, “Aku marah terhadap perilaku ayahku dan aku memutuskan untuk mengkaji tentang Ibn Ridha. Dalam kaitan ini, aku berbicara dengan Bani Hasyim, para komandan tentara, pegawai birokrasi, hakim, para ahli fikih, serta lapisan masyarakat lainnya. Semuanya menaruh hormat kepadanya dan berbicara dengan baik serta melebihkannya daripada orang lain. Dengan cara ini, aku menyadari kebesaran dan keagungannya.”*

Muhammad bin Ismail Alawi berkata, “Abu Muhammad dipenjara di sisi Ali bin Autamas yang merupakan musuh Ahlulbait dan Ali bin Abi Thalib. Dikatakan kepada Ibn Autamas, “Berbuatlah kepada Abu Muhammad seperti ini dan seperti itu!” Beberapa hari setelah itu, Ali ibn Autamas berubah menjadi pecinta Ahlulbait dan sangat menghormati Abu Muhammad sehingga selalu menyebut-nyebutnya dengan kebaikan.”*
Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Musa bin Ja’far berkata, “Sekelompok Bani Abbas pergi menemui Shalih bin Washif, penjaga penjara tempat Abu Muhammad ditahan dan mereka berkata, “Di penjara, jangan biarkan Abu Muhammad menjalin hari-harinya dengan nyaman. Namun, persulitlah dia!” Penjaga itu bertanya, “Apa yang harus kulakukan. Dua orang penjahat kutempatkan di selnya. Namun, keajaiban datang. beberapa hari kemudian, dua penjahat itu menjadi Ahli ibadah dan puasa bahkan mencapai tingkatan yang tinggi.”
Dua penjahat itu dipanggil dan mereka dibentak, “Celaka kalian! Mengapa kalian tidak mempersulit lelaki yang dipenjara ini?” keduanya berkata, “Apa yang harus kami katakan tentang lelaki yang setiap harinya berpuasa dan malamnya bertahajud dan beribadah? Tiada pernah ia berbicara dengan siapa pun dan ia tidak memiliki kesibukan kecuali beribadah. Ketika ia melihat kami, tubuh kami gemetar dan terciptalah suatu keadaan sehingga kami merasa tidak lagi memiliki diri kami ini.” Ketika mendengar ucapan ini, mereka berputus asa.”*
Abu Hasyim Ja’fari menegaskan, “Aku menulis sebuah surat kepada Abu Muhammad dan mengadu tentang sempitnya penjara dan betapa tersiksanya diriku dengan rantai dan gembok ini. Dalam jawabannya, ia menulis, “Hari ini, engkau akan shalat ashar di rumahmu sendiri.” Secara kebetulan, pada hari itu, aku telah dibebaskan dari penjara dan aku shalat zhuhur di rumahku sendiri. Dari segi kehidupan, aku benar-benar dalam kondisi sulit dan aku berniat untuk menjelaskannya di surat untuk Imam. Namun, aku merasa malu. Akan tetapi, ketika aku tiba di rumahku, Imam mengirim untukku seratus dinar dan menulis, ” Setiap kali memiliki keperluan, janganlah engkau malu dan mintalah kepadaku karena Insya Allah keperluanmu akan kupenuhi.”*
Muhammad bin Abi Zakfaran menukilkan dari ibu Abu Muhammad yang berkata, ” Pada suatu hari, Abu Muhammad berkata kepadaku, “Pada tahun 260, aku akan ditimpa sebuah kesulitan yang luar biasa.” Aku khawatir musibah besar itu benar-benar akan memukulku sehingga aku sangat sedih dan menangis. Kemudian Imam berkata, “Tidak ada jalan lain. Musibah itu akan terjadi dan janganlah ibu kehilangan kesabaran lalu mengeluh!”
Pada bulan Shafar tahun 260 Hijriah, ibu Abu Muhammad merasakan kecemasan yang luar biasa dan seringkali meninggalkan Madinah untuk mencari berita. Pada suatu hari, ibu Imam diberitahu bahwa Khalifah Muktamid telah menangkap Imam dan saudaranya, Ja’far. Muktamid secara terus menerus mencari tahu keadaan Imam dari para penjaga penjara dan dalam jawabannya, penjaga penjara mengatakan, “Ia selalu beribadah. Pada siang hari berpuasa dan di malam hari mendirikan shalat.”
Pada suatu hari, penjaga penjara kembali ditanya oleh Khalifah Muktamid tentang keadaan Imam dan penjaga penjara kembali menjelaskan keadaan yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Khalifah Muktamid berkata, “Pergilah dan bebaskan dia. Sampaikan salamku kepadanya dan katakan agar ia pulang ke rumahnya!”
Penjaga penjara berkata, “Manakala tiba di pintu penjara, aku menyaksikan sebuah keledai yang telah disiapkan untuk kendaraan Imam. Aku masuk ke dalam penjara dan melihat Imam yang mengenakan sepatu dan pakaian khususnya telah siap untuk keluar. Ketika melihatku, ia berdiri dan aku menyampaikan vonis pembebasannya. Ia keluar dari penjara dan menaiki kuda. Namun, ia tidak bergerak. Aku mengatakan, “Selagi saudaraku, Ja’far, belum bebas, aku tidak akan pergi. Pergilah dan katakan kepada Muktamid bahwa aku dan Ja’far keluar bersama. Apabila kami tidak pulang bersama, banyak sekali kesulitan yang akan terjadi. Penjaga penjara menyampaikan pesan Imam kepada Muktamid. Muktamid dalam jawabannya mengatakan, “Aku membebaskan Ja’far karena Anda. Walaupun aku memenjarakannya karena kejahatan yang dilakukan terhadap dirinya dan juga engkau.” Ja’far akhirnya dibebaskan dan mereka berdua pulang ke rumah bersama.”*
Telah dinukilkan bahwa Bahlul melihat Imam Hasan Askari pada masa kecilnya menangis ketika sedang memperhatikan permainan anak-anak sebayanya. Bahlul mengira bahwa Imam tidak memiliki mainan untuk bermain dan karena itulah, ia menangis. Bahlul menghampiri Imam dan berkata, “Jangan engkau menangis! Aku akan membelikan untukmu mainan.” Imam berkata, “Wahai orang yang kurang akal! Kami tidak diciptakan untuk bermain.” Bahlul berkata, “Lalu untuk apa kita diciptakan.” Beliau menjawab, “Untuk ilmu dan ibadah.” Bahlul berkata, “Apa dalilnya?” Imam berkata, “Dalam al-Quran Allah berfirman, Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami.[2]
Lalu Bahlul meminta nasehat beliau. Imam membacakan syair dan kemudian pingsan. Ketika siuman, Bahlul berkata, “Engkau kan masih kecil dan belum sampai usia taklif. Maka, apa yang engkau takutkan?” Imam berkata, “Aku melihat ibuku membakar kayu-kayu besar dengan ranting-ranting kecil. Aku takut kalau menjadi ranting kecil neraka.”*
Muhammad bin Ali bin Ibrahim bin Musa bin Ja’far mengatakan, “Kehidupan kami sulit. Maka, ayahku berkata, “Marilah kita bersama-sama menemui Abu Muhammad karena kedermawanan dan pemberiannya begitu termashur.” Aku berkata kepada ayahku, “Apakah engkau mengenalnya?” Ayahku menjawab, “Aku belum mengenalnya dan belum pernah melihatnya.”
Kami bergerak menuju Imam bersama ayahku. Di tengah perjalanan, ayahku berkata, “Aku membutuhkan lima ratus dirham: dua ratus dirham untuk pakaian, dua ratus dirham untuk menunaikan hutang, dan seratus dirham untuk biaya kehidupan.” Aku di dalam diriku mengatakan, “Seandainya aku juga diberi tiga ratus dirham: seratus dirham untuk membeli keledai, seratus dirham untuk keperluan kehidupan, dan seratus dirham untuk membeli pakaian. Lalu aku akan pergi ke Jabal.
Muhammad berkata, “Ketika kami tiba di rumah Imam bersama ayahku, seorang budak keluar dan berkata, “Ali bin Ibrahim dan putranya, Muhammad, agar masuk ke rumah.”
Ketika kami menjumpai Imam dan bersalaman dengannya, Imam berkata, “Wahai Ali! Mengapa engkau baru saja kemari?” Ayahku berkata, “Kami malu datang kemari dalam keadaan seperti ini.”
Tatkala keluar, budak beliau memberikan sebuah kantung kepada ayahku dan berkata, “Ada lima ratus dirham di kantung ini: dua ratus dirham untuk membeli pakaian, dua ratus dirham untuk membayar

hutang, dan seratus dirham untuk keperluan hidup. Setelah itu, sebuah kantung juga diberikan kepadaku dan dikatakan, “Ada tiga ratus dirham di kantung itu: seratus dirham untuk membeli keledai dan dua ratus dirham untuk keperluan hidup. Janganlah engkau pergi ke Jabal tetapi pergilah ke Saura’!”
Muhammad membatalkan niatnya untuk pergi ke Jabal tetapi ke Saura’ dan menikah di sana. Setelah beberapa lama, dikirimlah seratus dinar dari pihak Imam Hasan untuknya.”*

Ilmu Pengetahuan Imam

Imam Hasan Askari seperti juga ayah-ayahnya yang mulia mengetahui semua ilmu, hukum, serta peraturan yang berkaitan dengan agama. Sumber ilmu agama dan imamah berada di tangan Imam. Imam memiliki potensi ishmah dan dukungan penjagaan Ilahi. Penyebaran dan pemeliharaan ilmu agama merupakan tanggung jawab Imam. Imam sama sekali tidak pernah merasa enggan untuk melaksanakan kewajiban sucinya itu.
Hanya saja para imam itu tidaklah hidup dalam kondisi dan situasi yang sama. Setiap imam menjalankan kewajibannya, seperti menyebarluaskan pengetahuan agama dan makrifah syariat sesuai dengan fasilitas yang dimiliki masing-masing, yang tentunya berkaitan dengan kondisi dan keadaan yang berbeda. Ilmu dan makrifah yang dinukil oleh Imam Hasan Askari, sayangnya, tidaklah sebanyak yang dinukil oleh ayah-ayahnya, khususnya Imam Baqir dan Imam Ja’far Shadiq.
Mengapa demikian. Untuk menjawabnya, perlulah diperhatikan dua hal berikut ini.
Pertama, periode imamah beliau relatif singkat, yakni tidak lebih dari enam tahun. Kedua, Imam melewati priode enam tahun itu di Sarro Man Ra’a, sebuah wilayah hunian para tentara. Oleh sebab itu, kehidupan Imam diteropong oleh para petugas mata-mata, baik secara terang-terangan maupun rahasia. Pada dasarnya, ucapan dan perilaku Imam serta orang-orang yang berkunjung kepadanya benar-benar terbatas dan terawasi. Oleh karena itulah -dan juga oleh sebab-sebab lainnya, hadis-hadis yang diriwayatkan dari Imam tidaklah sebanyak yang diriwayatkan dari ayah-ayahnya.
Walaupun demikian, tidak sedikit hadis yang dinukil dari Imam Hasan Askari dalam berbagai bab, seperti tauhid, nubuwah, ma’ad, imamah, akhlak, nasehat, dan berbagai bab fikih serta yang ada dalam kitab hadis. Namun demikian, kami memberikan kemungkinan bahwa banyak sekali hadis yang dikeluarkan dari Imam Hasan Askari dan imam-imam lainnya telah hilang di sepanjang sejarah sehingga tidak sampai kepada kita. Di dalam masa yang pendek, yakni enam tahun, dengan semua pembatasan yang ada, Imam telah mendidik banyak murid dan perawi yang nama-nama mereka telah terekam dalam kitab-kitab yang terkait.*

Catatan kaki 

[2] QS. al-Mukminun: 115.

IMAM KESEPULUH: IMAM HADI AS 


Imam Ali Naqi lahir di Shirya (dekat Madinah) pada pertengahan bulan Dzulhijjah, tahun 212 Hijriah. Ayahnya bernama Imam Jawad dan nama ibunya adalah Sumanah. Kunyah-nya adalah Abu Hasan dan laqab-laqab-nya adalah Naqi, Hadim, Alim, Faqih, Amin, Muttamin, Thayyib, Mutawakkil, Askari, dan Najib. Imam Hadi juga dipanggil dengan Abu Hasan Tsalis.
Menurut beberapa perkataan, Imam Hadi meninggal pada tanggal 3 bulan Rajab, tahun 254 Hijriah di kota Samira dan dimakamkan di kota yang sama. Ia meninggal dalam usia empat puluh dua tahun. Setidaknya ia hidup bersama ayahnya selama delapan tahun dan masa imamah-nya adalah tiga puluh tiga tahun.*

Nash-Nash Imamah
Sebelumnya telah disebutkan bahwa untuk membuktikan imamah setiap imam, dapatlah digunakan berbagai burhan dan dalil yang salah satunya adalah nash yang dikeluarkan oleh imam sebelumnya bagi imam berikutnya. Kami, di sini, merasa cukup dengan menyebutkan sebagian dari nash tersebut.
Ismail bin Mihran berkata, “Pada tahap pertama, ketika Abu Ja’far dipanggil ke Baghdad, aku berkata kepadanya, “Aku korbankan diriku bagimu! Kami mencemaskan perjalananmu ini? Siapakah imam setelahmu?” Imam Jawad memperhatikanku dan berkata, “Apa yang engkau takutkan tidak akan terjadi pada tahun ini.”
Saat Mu’tashim memanggil Imam Jawad ke Baghdad, aku menjumpai Imam dan berkata, “Anda akan dibawa ke Baghdad.

Siapakah imam setelahmu nanti?” Imam menangis sehingga jenggotnya basah dan berkata, “Di masa ini, kecemasan akan hilang. Urusan imamah sepeninggalku akan berpindah kepada putraku.” *
Khairani menukil dari ayahnya yang berkata, “Untuk menjalankan tugas yang kumiliki, aku senantiasa berada di pintu Abu Ja’far. Ahmad bin Muhammad bin Isa Asyari datang setiap sahur untuk mengetahui kondisi sakitnya Abu Ja’far. Rencananya ialah ketika utusan Abu Ja’far datang ke sisi ayahku, Ahmad bin Isa berdiri sehingga dua orang itu berbicara empat mata.”
Khairani berkata lagi, “Pada salah satu malam ketika utusan Abu Ja’far menemui ayahku, aku dan Ahmad bin Muhammad keluar dan ayahku berbicara empat mata dengan utusan Abu Ja’far. Ahmad berputar di situ dan mendengarkan pembicaraan mereka. Utusan Imam berkata kepada ayahku, “Maula-mu menyampaikan salam dan berkata, “Kematianku telah dekat dan urusan imamah akan berpindah kepada putraku, Ali. Kewajiban yang kalian miliki terhadapku, sepeninggalku nanti, agar dilaksanakan terhadap putraku.”
Utusan Imam Jawad setelah menyampaikan pesan ini keluar. Ahmad bin Isa kembali dan berkata kepada ayahku, “Apakah yang disampaikan oleh utusan Imam?” Ahmad berkata, “Kebaikan.” Ahmad berkata, “Aku telah mendengar semuanya.” Lalu ia menjelaskan apa yang telah didengarnya. Ayahku berkata, “Engkau telah melakukan hal yang haram! Tidakkah engkau tahu bahwa Allah swt di dalam al-Quran telah berfirman, Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.[1] Kini, engkau telah mendengar pesan Imam. Maka, hafalkanlah dengan baik karena suatu hari mungkin kami akan memerlukannya. Namun, hingga hari itu, jangan engkau buka kepada orang lain!”
Khairani berkata, “Pagi hari itu, ayahku menulis pesan Abu Ja’far di dalam sepuluh halaman dan mengamanatkan setiap lembarnya kepada para sahabatnya. Ia berkata, “Jika kematianku telah tiba, bukalah surat ini dan laksanakan sesuai dengan yang tertulis di sini!”
Ayahku berkata, “Ketika Abu Ja’far meninggal dunia, aku tidak keluar dari rumahku sehingga aku mendengar para pembesar thaifah ‘kabilah’ berkumpul di sisi Muhammad bin Faraj untuk membahas tentang imamah. Muhammad bin Faraj memberitahukan persoalan ini kepadaku dan memintaku agar segera pergi menemuinya. Aku menaiki kendaraan dan pergi ke sisi Faraj. Aku melihat sekelompok

pembesar duduk di sampingnya dan mendiskusikan sarana untuk menjalin hubungan dengan Imam. Sebagian besar dari mereka meragukan tentang imamah dan aku mengatakan kepada orang yang pernah dititipi buku pesan Imam, “Datangkanlah surat-surat itu!” Mereka membawa surat-surat tersebut dan aku mengatakan kepada hadirin, “Ini adalah pesan yang Abu Ja’far perintahkan kepadaku untuk menyampaikannya kepada kalian.” Sebagian dari mereka berkata, “Alangkah baiknya seandainya ada satu orang lagi yang menyaksikan perkara ini.” Aku mengatakan, “Alhamdulillah Allah swt telah menyediakan sarana untuk itu. Abu Ja’far Asy’ari juga mendengar pesan ini dan bersaksi untuk ini. Tanyakanlah kepadanya!” Hadirin lantas bertanya kepada Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad dalam hal ini. Namun, ia tidak bersedia memberikan kesaksian. Maka, aku pun mengajaknya ber-mubahalah sehingga ia pun takut dan berkata, “Iya memang. Aku juga mendengar pesan ini. Namun, persoalan ini memiliki kemuliaan dan nilai yang tinggi bagi seorang lelaki Arab. Karena ditantang mubahalah, aku melihat tidak baik untuk menyembunyikannya.” Setelah ia memberikan kesaksian, hadirin berpasrah kepada Abu Hasan.”
Setelah menukil persoalan ini, Syaikh Mufid menulis, “Banyak sekali riwayat tentang bab ini. Apabila aku menyebutkan semuanya, kitabnya akan panjang. Ijma’ para sahabat tentang imamah Abu Hasan ditambah dengan tidak adanya orang lain yang mengklaim diri sebagai imam di masa itu membuat kami tidak perlu lagi menyebutkan riwayat-riwayat dan nash-nash tentang imamah-nya.” *
Shaqar bin Abi Dalaf mengatakan, “Aku mendengar dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali yang berkata, “Imam setelahku adalah putraku, Ali. Urusannya adalah urusanku dan ucapannya adalah ucapanku serta ketaatan kepadanya adalah ketaatan kepadaku. Imamah setelahnya akan sampai kepada putranya, Hasan.” *
Muhammad bin Usman Kufi berkata, “Aku mengatakan kepada Abu Ja’far, “Apabila (semoga Allah menjauhkannya) terjadi sesuatu terhadap Anda, kepada siapa kami merujuk?” Beliau berkata, “Merujuklah kepada putraku, Abu Hasan.” Lantas ia berkata, “Tidak lama lagi akan terjadi waktu jeda.” Aku berkata, “Di masa itu, kemana kami harus pergi?” Beliau berkata, “Ke Madinah.” Aku mengatakan, “Madinah yang mana?” Beliau menjelaskan, “Madinah ar-Rasul.” *

Umayyah bin Ali Qaisi berkata, “Aku berkata kepada Abu Ja’far Tsani, “Siapakah pengganti Anda?” Ia berkata, “Putraku, Ali.” Kemudian ia berkata, “Tidak lama lagi akan tiba masa kebingungan.” *
Muhammad bin Isamil bin Buzai’ berkata, “Abu Ja’far berkata, “Urusan imamah akan sampai kepada putraku, Abu Hasan, sementara ia berusia tujuh tahun.” Kemudian beliau berkata, “Ya! Lebih kurang tujuh tahun, sebagaimana Isa as juga seperti itu.” *
Harun bin Fadzl berkata, “Aku menjumpai Abu Hasan pada hari ketika ayahnya meninggal dunia. Ia berkata, ” انا لله و انا اليه ر اجعون ayahku Abu Ja’far meninggal dunia.” Ditanyakan, “Dari mana engkau tahu bahwa ayahmu telah wafat?” Beliau berkata, “Telah kurasakan keadaan khudu’ di dalam jiwaku terhadap Allah swt yang tiada terjadi sebelumnya seperti ini.” *
Sekelompok orang Isfahan termasuk Abu Abbas Ahmad bin Nadher dan Abu Ja’far Muhammad bin Alawiyah mengatakan, “Di Isfahan, seorang lelaki Syiah yang bernama Abdurrahman ditanya, “Dengan alasan apa engkau menerima imamah Ali Naqi di antara semua manusia?” Ia berkata, “Aku melihat sesuatu dari Abu Hasan yang menyebabkan keimananku. Aku adalah lelaki miskin tetapi berani berbicara. Penduduk Isfahan pada suatu tahun bersama dengan sejumlah orang lainnya mengutusku menjumpai Khalifah Mutawakkil untuk menuntut keadilan. Suatu hari, aku berada di rumah Mutawakkil yang memerintahkan agar menghadirkan Ali bin Muhammad bin Ridha. Aku bertanya kepada salah seorang hadirin, “Siapakah orang yang oleh Mutawwakil dipanggil itu?” Aku membayangkan bahwa pastilah Mutawakkil berniat untuk membunuhnya. Ia berkata, “Lelaki ini adalah Alawi dan rafidah yang masyarakat meyakini imamah-nya.” Aku berkata dalam diriku sendiri, “Aku akan tinggal di sini sampai aku mengetahui siapakah lelaki yang dipanggil itu.”
Tak lama kemudian, Ali Naqi yang menaiki kuda datang. Masyarakat membuka jalan untuknya dan memperhatikannya dengan saksama. Ketika aku melihatnya, kecintaan kepadanya tertanam dalam diriku dan aku berdoa semoga Allah menjauhkan keburukan Mutawakkil darinya. Ketika tiba di depanku, ia melihatku dan berkata, “Doamu dikabulkan dan umurmu panjang sehingga engkau akan memiliki banyak harta dan anak.” Tubuhku gemetar karena mendengar berita yang tidak terduga ini tetapi aku tidak mengatakan sesuatu apa pun kepada orang-orang yang bersama denganku.

Setelah itu, aku pergi ke Isfahan. Banyak sekali harta yang kuperoleh. Di rumahku, aku memiliki beribu-ribu dirham. Selain dari harta yang kumiliki di luar rumah, Allah swt memberikanku sepuluh anak. Kini, usiaku sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Aku meyakini imamah seorang lelaki yang mengetahui isi hatiku dan doanya untukku telah terkabulkan.” *

Kemuliaan dan Keutamaan

 Syaikh Mufid menulis, “Setelah Abu Ja’far, putranya yang bernama Abu Hasan Ali bin Muhammad menjadi imam karena semua sifat imam berkumpul pada dirinya dan keutamaannya adalah lebih unggul daripada yang lainnya. Selain dia, tidak ada orang lain yang layak menduduki kursi imamah. Ia ditunjuk sebagai imam oleh ayahnya.” *
Ibn Syaher Osyub, dalam menyifati Imam Hadi, menulis, “Wajahnya lebih menarik daripada semua orang dan ucapannya lebih jujur daripada yang lainnya. Kesempurnaan dan ketampanannya mengungguli yang lainnya. Ketika ia berdiam diri, kewibawaan dan keagungannya semakin tinggi. Ketika ia berbicara, cahaya wajahnya semakin bertambah. Dia berasal dari keluarga risalah, imamah, sumber khilafah dan washi. Dialah cabang dari pohon keagungan nubuwah yang masa pemberdayaannya dari masa pengambilannya tidak berselang lama. Buah dari buah risalah yang masa pemetikannya dengan masa pemilihannya telah dekat.” *
Abu Musa mengatakan, “Aku berkata kepada Imam Hadi, “Ajarkanlah kepadaku doa khusus yang akan kubaca untuk menyelesaikan masalahku.” Beliau berkata, “Seringkali aku membaca doa ini dan aku meminta kepada Allah agar pembaca doa tidak kembali dalam keadaan putus asa dari hadirat Allah.
“Wahai bekal (persiapan)ku di hari perhitungan, wahai harapan dan peganganku, wahai tempat perlindunga dan tumpuanku, wahai yang Mahatunggal, wahai yang Maha Esa, wahai katakanlah bahwa Dialah Allah yang Maha Esa dan perjalananku menuju pada-Mu ya Allah! Dengan kebenaran orang yang telah Engkau ciptakan dari ciptaan-Mu dan Engkau belum menjadikan seorang pun dalam ciptaan­ Mu yang sepadan dengan mereka yang Engkau curahkan shalawat atas mereka dan aku ridha Engkau memperlakukan aku begini dan begitu. ”

Sa’id Hajib berkata, “Atas perintah Mutawakkil dan bersama dengan sejumlah petugas pada malam hari, kami melakukan serangan terhadap Abu Hasan dengan masuk melalui dinding. Ketika itu, Imam yang mengenakan topi di kepalanya dan pakaian wol sedang mendirikan shalat dan tampak tiada ketakutan ketika ia melihat kami masuk.” *
Ibn Hajar berkata, “Abu Hasan mewarisi ilmu dan kedermawanan ayahnya.”* Ibn Shabbagh Maliki menukil dari sejumlah ahli ilmu yang berkata, “Keutamaan Abu Hasan bin Muhammad Hadi telah mendirikan kemahnya di atas bumi kemuliaan dan menggantungkan tali-tali kemah itu ke bintang-bintang di langit. Setiap keutamaan yang disebutkan tentang diri Imam menjadi penghias dan pada setiap kemuliaan yang disebutkan, dialah yang menjadi keutamaannya. Pada setiap pujian yang diutarakan, perincian dan ringkasannya berada di sisinya dan setiap keagungan yang disebutkan tampak pada kepribadiannya. Kelayakannya dari segi kekhususan kebaikan dan keagungan serta kemuliaan telah tertanam di dalam wujud mutiara dirinya. Allah swt menjaganya dari segala jenis kekurangan sebagaimana penggembala unta memelihara anak-anaknya dari berbagai peristiwa yang berbahaya. Jiwa beliau suci dan terdidik serta akhlak beliau baik dan perilakunya terpuji sedangkan sifatnya penuh dengan keutamaan.” *
Sulaiman bin Ibrahim Qanduzi Hanafi menukil dari kitab Fashlul Khitab bahwa Muhammad Khajah Parsai menulis, “Abu Hasan Ali Hadi merupakan seorang lelaki ahli ibadah dan fikih serta seorang imam.”
Telah dikatakan kepada Mutawakkil bahwa di rumah Abu Hasan telah disimpan senjata dan ia memiliki niat untuk menjadi khalifah. Kemudian Mutawakkil memerintahkan sejumlah orang untuk menyerang rumah Abu Hasan pada malam hari dan mereka pun masuk ke rumah Imam tanpa pemberitahuan. Mereka mendapatinya sedang mendirikan shalat dengan pakaian dari wol (kulit kambing) dan topi dari kambing gibas dalam keadaan menghadap kiblat dan duduk di atas tanah. Permadaninya terdiri dari kerikil dan pasir. Lalu ia membaca al-Quran dengan meresapi maknanya yang terdiri dari berita gembira tentang surga dan ancaman neraka. Petugas Mutawakkil membawa Imam dalam keadaan seperti itu ke hadapan Mutawakkil. Ketika melihat Imam seperti itu, Mutawakkil menampakkan hormat kepadanya dan mendudukkanya di sisinya. Imam berbicara dengannya dan Mutawakkil menangis sambil berkata, “Wahai Abu Hasan! Apakah engkau mempunyai hutang?” Imam berkata, “Ya! Aku berhutang 400 dinar.” Mutawakkil memerintahkan agar hutang beliau ditunaikan dan dengan penghormatan Imam diantarkan ke rumahnya kembali.
Muhammad bin Ahmad menukil dari paman ayahnya yang berkata, “Suatu hari, aku menjumpai Imam Hadi dan berkata, “Mutawakkil telah memutus uang tunjanganku karena memahami bahwa aku adalah pecintamu. Alangkah baik kalau Anda mengingatkannya tentang hal ini.” Imam berkata, “Insya Allah, urusannya akan beres.”
Pada malam hari, ketika aku berada di rumah, utusan Mutawakkil mengetuk pintu rumahku dan berkata, “Mutawakkil memanggilmu.” Ketika aku pergi menghadap Mutawakkil, ia berkata, “Wahai Abu Musa! Kesibukan telah membuatku melupakanmu. Berapa banyak uang tunjanganmu!” Aku menjawab, “Sebagaimana yang biasa engkau berikan kepadaku.” Lalu aku menjelaskannya secara terperinci. Maka, Mutawakkil memerintahkan agar tunjanganku diberikan.”
Aku bertanya kepada Fatah bin Khaqan, “Apakah Ali bin Muhammad datang ke sini atau ia menulis surat untuk Mutawakkil?” Ia berkata, “Tidak! Kemudian aku menghadap Imam dan beliau berkata, “Wahai Abu Musa! Apakah jumlah ini membuatmu puas?” Aku berkata, “Berkat wujudmu wahai tuanku! Namun, mereka berkata bahwa Anda tidak pergi meminta kepada Mutawakkil.”
Imam berkata, “Allah swt mengetahui bahwa kami, dalam menyelesaikan masalah, hanyalah berlindung kepada-Nya. Allah swt membiasakan kami dengan ini sehingga setiap kali kami berdoa, Dia akan mengabulkan doa kami. Aku khawatir bila kami berpaling dari kebiasaan kami ini, Allah swt akan berpaling juga dari karunia-Nya terhadap kami.” *

Ilmu Imam

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ilmu dan makrifah serta semua pengetahuan menyangkut agama adalah di antara persyaratan penting dan prinsip imamah. Filsafat mengenai keharusan adanya imam dan tanggung jawabnya adalah untuk menjaga dan menyebarluaskan ahkam atau ‘hukum agama’. Dalam kaitan ini, tidak ada perbedaan di antara para imam. Sumber agama berada di tangan mereka dan mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menunaikan kewajiban agama. Jika terdapat perbedaan dalam sumber hadis dari sebagian mereka, yakni dari sebagian mereka hanya terdapat sedikit hadis dibanding yang lainnya, maka hal itu dikarenakan perbedaan kondisi zaman dan tempat serta penghalang atau rintangan yang dilahirkan oleh para penguasa zalim dan musuh-musuh Ahlulbait.

Imam Hadi as, seperti juga ayah-ayah beliau, adalah seorang manusia sempurna dan memiliki semua kesempurnaan insani. Sumber agama berada di genggamannya. Ia begitu bersungguh-sungguh dalam menyebarkan syiar agama. Namun disayangkan, ia hidup dalam kondisi zaman yang sulit dengan berbagai tantangan sehingga tidak dapat menunaikan tugas sesuai dengan keinginan hatinya.
Imam Hadi hidup di dunia selama empat puluh dua tahun dan pada usia sekitar delapan tahun, beliau menjadi imam. Masa imamah-nya adalah tiga puluh tiga tahun. Di awal imamah-nya, beliau hidup selama dua puluh dua tahun di Madinah. Menurut kesaksian sejarah, para penguasa Baghdad dengan pasukannya selalu mengawasi gerak-gerik Imam. Sudah barang tentu pengawasan ini membuat gerak-gerik Imam dan juga para Syiah yang hendak menimba ilmu dan makrifah dari Imam menghadapi banyak pembatasan dan rintangan. Mutawakkil, Khalifah Abbasiah, tidak merasa cukup dengan meneropong Imam dari kejauhan. Lebih dari itu, ia memaksa Imam agar pindah dari Madinah ke Baghdad meski, secara formalitasnya, diiringi dengan penghormatan yang luar biasa. Mutawakkil memberi Imam tempat di Samira, di tempat pusat militer, yang merupakan tempat tinggal para tentara Mutawakkil. Dari sejak itu (tahun 243 Hijriah), Imam secara resmi mendapat penjagaan super ketat dari pasukan rahasia dan tentara. Hubungan Imam dengan masyarakat Syiah terputus total atau berkurang drastis. Dalam kondisi seperti itu, siapakah yang akan berani untuk memberikan uang kepada Imam atau menimba ilmu darinya? Dari situlah, hadis-hadis yang dinukil dari Imam Hadi tidaklah banyak. Namun demikian, telah banyak juga hadis yang diriwayatkan dari Imam tentang pokok agama dan akidah, akhlak dan nasihat, serta berbagai bab fikih yang tercatat dalam buku-buku hadis. Dengan mempelajarinya, kita dapat mengetahui kedudukan ilmu pengetahuannya.
Imam mendidik banyak sekali murid yang nama-nama mereka terekam dalam kitab-kitab hadis, sejarah, serta rijal. Penulis kitab Manaqib menyebutkan nama-nama sahabat beliau seperti berikut ini.
Dawud bin Zaid Abu Sulaim Zanggan, Husain bin Muhammad Madaini, Ahmad bin Ismail bin Yaqthin Basyar bin Basyar Nisyaburi, Sulaiman bin Ja’far Maruzi, Fateh bin Yazid Jurjani, Muhammad bin Sa’id bin Kaltsum (yang merupakan seorang mutakallim), Muawiyah bin Hakim Kufi, Ali bin Muhammad bin Muhammad Baghdadi, dan Abu Hasan bin Raja Abartai.*

Catatan kaki 
[1] QS. Al-Hujurat: 12

IMAM KESEMBILAN: MUHAMMAD JAWAD AS 


Imam Muhammad jawad  as lahir pada tanggal 15 atau 19 bulan suci Ramadhan tahun 190 Hijriah di Madinah. Namanya Muhammad dan nama ayahnya Ali bin Musa ar-Ridha dan nama ibunya Subaikah atau Khaizran. Kunyah ‘julukannya’ adalah Abu Ja’far Tsani dan laqab ‘gelarnya’ adalah Qani’, Murtadho, Jawad, dan Taqi.*
Ayahnya yang mulia meninggal manakala usianya menginjak tujuh tahun delapan bulan. Periode imamah-nya adalah tujuh belas tahun.*
Mu’tashim, Khalifah Abbasiah, telah memanggil beliau dan istri beliau Ummul-Fadzl (putri Ma’mun) ke Baghdad dan pada tanggal 28 bulan Muharram, tahun 220, ia tiba di Baghdad. Pada bulan Dzulqa’dah tahun yang sama, ia wafat di Baghdad dan dimakamkan di pemakaman Quraisy di sisi makam kakeknya, Musa bin Ja’far. Di saat itu, usia beliau telah menginjak dua puluh lima tahun dan beberapa bulan.*

Nash-Nash Imamah

Syaikh Mufid menulis di antara orang yang meriwayatkan ucapan Abu Hasan Ridha mengenai imamah putranya, Ja’far, adalah berikut ini: Ali bin Ja’far bin Muhammad Shadiq, Shafwan bin Yahya, Muammar bin Khallad, Husain bin Yasar, Ibn Abi Nasher Bazanthi, Ibn Qiyaman Washiti, Hasan bin Jahem, Abu Yahya Shan’ani, Khairani, dan Yahya bin Habib Zayyat.
Ali bin Ja’far bin Muhammad berkata, “Aku mengambil tangan Abu Ja’far Muhammad bin Ali Ridha dan aku menyatakan, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah imam di sisi Allah.”

Imam Ridha menangis dan berkata, “Paman! Apakah engkau tidak mendengar dari ayahku yang berkata, “Rasulullah saw bersabda, “Jiwa Ayahku kukorbankan untuk anak budak wanita yang terbaik, Nuwaibah Tayyibah, yang dari keturunannya akan lahir seorang imam yang berada jauh dari tanah airnya dan akan mengambil balas darah kakeknya. Ia gaib panjang sehingga dikatakan mati atau binasa dan pergi entah ke lembah mana?” Aku menegaskan, “Engkau berkata benar, jiwaku kukorbankan untukmu.”*
Shafwan bin Yahya mengatakan, “Aku berkata kepada Imam Ridha as, “Sebelum Allah swt memberikan Abu Ja’far kepadamu, aku bertanya kepadamu dan engkau berkata, “Allah swt tidak lama lagi akan menganugerahkan seorang anak lelaki kepadaku.” Kini Allah telah memberikan putra kepadamu dan mata kami terang karenanya. Jika -semoga tidak, terjadi musibah, kepada siapa kami harus merujuk?” Imam Ridha menunjuk Abu Ja’far yang berdiri di hadapannya. Aku berkata, ” Jiwaku kukorbankan untukmu! Ini adalah seorang anak berusia tiga tahun!” Beliau berkata, “Usianya yang masih kecil tidak bertentangan dengan kepemimpinannya. Isa as adalah nabi dan juga hujjah Allah meskipun usianya kurang dari tiga tahun.”*
Muammar bin Khallad mengatakan, “Kami mendengar dari Imam Ridha as yang setelah menyebutkan beberapa persoalan mengenai tanda-tanda imamah, Imam berkata, “Apa yang kamu perlukan dengan tanda-tanda ini? Aku menjadikan putraku, Abu Ja’far, sebagai pengganti dan khalifahku.”
Selanjutnya, Imam Ridha berkata, “Kami adalah Ahlulbait yang anak-anak kami sama dengan orang dewasa kami.”*
Husain bin Yasar berkata, “Ibn Qiyaman dalam sebuah surat kepada Abu Hasan Ridha menulis, “Bagaimana engkau bisa menjadi imam sedangkan engkau tidak memiliki imam yang akan menjadi penggantimu?”
Dalam jawabannya, Abu Hasan menulis, “Bagaimana engkau tahu bahwa aku tidak akan memiliki anak lelaki? Demi Allah! Beberapa hari lagi, Allah akan memberiku anak lelaki yang akan memisahkan kebenaran dari kebatilan.” *
Ibn Abi Nasher Bazanthi mengatakan, “Suatu hari Ibn Najasyi berkata kepadaku, “Setelah temanmu, Imam Ridha, siapakah yang akan menjadi imam? Tanyakan persoalan ini dan berikan beritanya kepadaku.” Lalu, aku menemui Imam Ridha dan menanyakan
pertanyaan Najasyi. Imam Ridha berkata, “Imam setelahku adalah putraku.” Kemudian Imam Ridha kembali berkata, “Siapakah yang berani mengatakan, “Anakku,” padahal ia tidak memiliki anak?” Di masa itu, Abu Ja’far belum lahir tetapi beberapa lama kemudian, Abu Ja’far lahir.”*
Ibn Qiyaman Washiti yang berasal dari suku Waqifi berkata, “Aku menjumpai Ali bin Musa ar-Ridha dan berkata, “Apakah pada satu masa, dua orang dapat menjadi imam?” Beliau berkata, “Tidak, kecuali salah seorang dari mereka diam.” Aku berkata, “Kini, engkau tidak memiliki imam yang diam?” Beliau berkata, “Demi Allah! Allah akan menganugerahkan kepadaku seorang anak yang membela ahlul haq dan kebenaran serta akan berupaya untuk menghapus kebatilan.” Ucapan ini disampaikan Imam Ridha dalam keadaannya yang belum memiliki anak. Namun setelah setahun, putranya, Abu Ja’far, lahir.”*
Hasan bin Jahem berkata, “Aku duduk di sisi Abu Hasan. Beliau memanggil putranya yang masih kecil dan mendudukkannya di pangkuanku. Lalu, Abu Hasan berkata, “Lepaskanlah pakaiannya!” Aku melepaskan pakaian anak itu dan Imam Ridha berkata, “Lihatlah di antara dua cabang!” Aku melihat sesuatu yang menyerupai sebuah cap yang telah terpatri. Lantas Imam Ridha mengatakan, “Apakah engkau melihat ini. Ayahku juga memiliki alamat atau tanda seperti ini.” *
Abu Yahya Shan’ani berkata, “Aku saat itu berada di sisi Abu Hasan Ridha. Kemudian putranya, Abu Ja’far, yang masih kecil dibawanya ke sisinya dan ia pun berkata, “Ini adalah bayi yang mendatangkan banyak berkah untuk Syiahku dan belum ada seperti dia yang dilahirkan.”*
Khairani menukil dari ayahnya yang berkata, “Di Khurasan, aku berada di sisi Imam Ridha. Seorang lelaki bertanya, “Apabila suatu kejadian terjadi kepada Anda, kepada siapakah kami merujuk?” Imam Ridha berkata, “Merujuklah kepada Abu Ja’far. Karena lelaki itu tampak memandang usia Abu Ja’far masih kecil, Imam Ridha lantas berkata, “Allah swt mengutus Nabi Isa as sebagai nabi dan rasul sedangkan usianya lebih muda daripada Abu Ja’far.”
Muhammad bin Abi Ubad (Penulis Imam Ridha) berkata, “Imam Ridha selalu memanggil putranya dengan kunyah dan berkata, “Abu Ja’far berkata dan aku menulis kepada Abu Ja’far.” Imam Ridha begitu menghormati putranya padahal sang putra masih kanak-kanak. Surat-

surat Abu Ja’far sampai dari Madinah kepada ayahnya, Abu Hasan, di Khurasan dengan puncak kefasihan. Aku mendengar Imam Ridha berkata, “Abu Ja’far adalah washi dan khalifahku.” *
Musafir berkata, “Abu Hasan Ridha berada di Khurasan dan berkata kepadaku, “Pergilah ke sisi Abu Ja’far. Dia adalah imam dan temanmu.”*
Ibrahim bin Abi Mahmud berkata, “Di Thus, aku berada di sisi Imam Ridha. Kemudian seorang lelaki berkata kepadanya, “Apabila terjadi sebuah peristiwa terhadapmu, kepada siapa kami merujuk?” Imam Ridha berkata, “Kepada anakku, Muhammad.” Karena si penanya menganggap usia Abu Ja’far masih kanak kanak, Ali bin Musa ar-Ridha berkata, “Allah swt mengutus Isa bin Maryan sebagai nabi untuk mendirikan syariat sedangkan usianya lebih muda daripada Abu Ja’far.” *
Ibn Buzai’ berkata, “Abu Hasan Ridha ditanya, “Apakah jabatan imamah itu akan sampai juga kepada paman?” Beliau mengatakan, “Tidak!” lalu, ditanyakan lagi, “Apakah akan sampai ke saudara?” Dijawab tidak. Lalu, ditanyakan lagi, “Kepada siapa akan sampai?” Beliau mengatakan, “Kepada anakku.” Ucapan ini disampaikannya pada saat Imam Ridha belum memiliki anak lelaki.”*

Keutamaan dan Kemuliaan Akhlak



Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya dan terbuktikan, bahwa imam adalah seorang manusia yang sempurna serta memiliki semua kesempurnaan insani dan tidak memiliki sedikit pun kekurangan. Ini merupakan di antara kesan dan kelaziman ishmah. Setelah imamah seseorang terbuktikan atas dasar argumen, kesempurnaan zatiah (esensial)-nya juga akan terbuktikan. Oleh karena itulah, ilmu, keutamaan, takwa, ibadah, dan akhlak yang baik dan tersucikan dari dosa serta perbuatan tercela adalah di antara kelaziman zatiah setiap imam sehingga, karena itulah, tidak ada perbedaan antara para imam. Semua imam adalah sempurna dan memiliki semua kesempurnaan. Anak kecil, remaja, dan orang tua tidak ada bedanya dalam hal ini. Apabila berita sebagian imam yang sampai kepada kita tidak begitu banyak dalam sumber sejarah dan riwayat, baik mengenai ibadah, keutamaan, maupun kemuliaan mereka, hal itu bukanlah lantaran mereka lebih rendah daripada imam yang lain, melainkan perbedaan-

perbedaan yang terdapat dalam kondisi politik dan sosial serta usia dan persyaratan waktu serta tempat.
Hal ini terjadi pada Imam Muhammad Taqi (Jawad). Meskipun banyak sekali riwayat tentangnya dan terdapat dalam kitab-kitab hadis, tidaklah sebanyak riwayat mengenai ayah-ayahnya. Dalam hal mengenai ibadah, munajat, infak dan ihsan kepada kaum fakir-miskin, serta kemuliaan-kemuliaan akhlak lainnya yang dimiliki Imam Jawad, kami tidak memiliki sumber yang sebanyak ayah-ayahnya.
Dalam mencari sebab perkara ini, kita dapat menyinggung dua persoalan: pertama, umur pendek Imam Jawad. Beliau hanya hidup tidak lebih dari dua puluh lima tahun. Oleh karena itulah, sudah wajar jika Imam Jawad tidak memiliki waktu yang banyak untuk menyebarluaskan hadis dan kemuliaannya; kedua, usia pendek Imam Jawad membuatnya sudah diangkat sebagai imam pada usia tujuh tahun beberapa bulan. Dalam usia kanak kanak itu, meskipun memiliki pengetahuan ilmu yang cukup, kemuliaan, dan kesempurnaan, peringkat ilmu dan kesempurnaan zatiah Imam Jawad tersembunyi bagi kebanyakan manusia, bahkan bagi kalangan Syiah.
Sudah sewajarnya untuk mencari ilmu, tidak banyak yang merujuk kepada Imam Jawad. Oleh sebab itulah, Imam Jawad tidak begitu mendapat perhatian para cerdik pandai. Bahkan setelah periode bulugh-nya ‘akil baligh’, kondisi ini terus berlanjut. Hanya saja, peringkat ilmu dan kesempurnaan insaninya secara lambat laun semakin tampak sehingga hari demi hari jumlah yang mencintainya semakin bertambah. Namun sayangnya, kematian Imam Jawad mendadak sehingga sangat sedikit Muslim yang memperoleh ilmu dan pengetahuannya. Oleh karena itu, berbagai persoalan yang dapat berfaedah bagi umat masih tersisa dari Imam Jawad.
Syaikh Mufid menulis, “Tatkala keutamaan, ilmu, hikmah, adab, serta kesempurnaan akal Abu Ja’far dalam usianya yang muda terbukti bagi Makmun sehingga Makmun menemukannya lebih utama daripada para Syaikh di zamannya, Makmun menyukainya dan menikahkan putrinya yang bernama Ummul Fadzl kepadanya. Kemudian Makmun mengirim Imam Jawad ke Madinah. Makmun pun selalu menghormatinya dan memuliakannya.”*
Abu Faraj Abdurrahman bin Jauzi menulis, “Muhammad bin Ali Musa bersikap seperti ayahnya dalam ilmu, takwa, zuhud, dan kedermawanan. Sepeninggal ayahnya, yakni Ali bin Musa, Makmun

mengundangnya dari Madinah ke Baghdad dan memuliakannya serta memberikan kepadanya apa yang diberikan kepada ayahnya. Bahkan, Makmun menikahkan putrinya yang bernama Ummul Fadzl kepadanya.” *
Rayyan bin Syubaib mengatakan, “Tatkala Makmun berkehendak untuk menikahkan putrinya, Ummul Fadzl, dengan Abu Ja’far Muhammad bin Ali, kabar ini sampai ke sejumlah pemuka Bani Abbas. Kehendak tersebut terasa berat bagi mereka. Mereka mencemaskan perkara ini akan berujung dengan diangkatnya Abu Ja’far menjadi putra mahkota, sebagaimana yang terjadi sebelumnya pada Ali bin Musa ar-Ridha. Sekelompok keluarga Makmun berpikir tentang hal ini dan pergi kepadanya seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Demi Allah! Batalkan niatanmu untuk menikahkan putrimu dengan Ibn ar-Ridha sebab kami khawatir khilafah yang ada di tangan kita akan musnah. Engkau mengetahui perselisihan sejak dahulu antara kami dengan Bani Hasyim dan sikap para khalifah sebelummu terhadap mereka. Karena perbuatan engkau sebelum ini terhadap Ali bin Musa ar-Ridha yang engkau pilih sebagai putra mahkota, kami dihadapkan pada kesulitan yang Allah swt bantu kami untuk menyelesaikannya. Demi Allah! Gagalkan niatmu menikahkan putrimu dengan Ibn Ridha dan janganlah engkau memposisikan kami dalam kesulitan!”
Sebagai jawabannya, Makmun berkata, “Adapun tentang perbedaan pendapat yang sejak dahulu terjadi di antara kalian dengan keluarga Abu Thalib, maka penyebabnya adalah kalian sendiri. Apabila kalian objektif, anak-anak Abu Thalib adalah jauh lebih layak untuk menduduki kursi khilafah ketimbang kalian. Adapun tentang perangai buruk yang dilakukan para khalifah sebelumnya terhadap mereka, maka para khalifah itu telah memutuskan tali silaturrahim dan aku berlindung kepada Allah dari memutuskan tali silaturrahim. Demi Allah! Aku tidak pernah menyesal memilih Ridha sebagai putra mahkotaku. Pada awalnya aku menawarkan kursi khilafah kepada Ridha tetapi ia menolak. Meskipun telah ditetapkan, Ridha meninggal sebelumku sehingga tidak sampai ke kursi khilafah. Adapun Abu Ja’far Muhammad bin Ali aku pilih karena, meskipun usianya masih muda, dari segi ilmu dan keutamaan adalah lebih tinggi daripada semua ahli keutamaan dan ilmu. Oleh karena itulah, Ibn Ridha adalah sangat langka. Aku berharap keutamaannya menjadi tampak di mata masyarakat sehingga mereka mengetahui bahwa akidahku mengenainya adalah benar.”

Mereka berkata, “Meskipun perangai anak kecil ini telah membuatmu takjub, ia tetaplah anak kecil dan tidak banyak mengtahui ilmu dan pengetahuan serta fikih. Berilah kesempatan dan waktu sehingga ia dapat belajar adab dan fikih. Setelah itu, lakukan apa saja yang engkau inginkan!”
Makmun menjawab, “Celaka kalian! Aku lebih mengenali pemuda ini daripada kalian. Pemuda ini adalah salah satu Ahlulbait yang ilmu mereka berasal dari Allah. Ayah-ayahnya senantiasa tidak pernah belajar kepada orang lain dari segi ilmu, agama, dan adab. Apabila berminat, kalian dapat mengujinya.”
Mereka berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Itu adalah gagasan yang baik dan kami akan mengujinya. Tetapkanlah waktu sehingga salah satu dari yang hadir di depan kalian dapat bertanya kepadanya tentang fikih syariat. Apabila ia menjawab dengan benar, kami tidak akan menolak lagi.”
Makmun berkata, ” Tidak ada masalah. Datanglah kapan saja kalian mau!”
Mereka keluar dari majelis dan memutuskan untuk mengundang Yahya bin Akstam yang merupakan qadhi al-qudhat ‘hakim dari para hakim’ untuk melakukan pengujian. Yahya berkata kepada mereka, “Siapkanlah pertanyaan yang sulit untuk diajukan kepada Ibn Ridha di depan Makmun untuk mengalahkannya. Bahkan mereka menjanjikan uang yang banyak apabila Yahya berhasil mengalahkan Ali ar-Ridha.
Pada hari yang dijanjikan, bersama dengan Yahya bin Akstam, mereka datang ke hadapan Makmun. Makmun memerintahkan agar pada sebagian rumahnya dihamparkan permadani dan diletakkan dua sandaran. Di saat itu, Abu Ja’far yang berusia 19 tahun dan beberapa bulan memasuki majelis dan duduk di antara dua sandaran. Yahya bin Akstam juga duduk di depan Abu Ja’far dan masyarakat berdiri sesuai dengan derajat mereka sedangkan Makmun duduk di dekat Abu Ja’far.
Yahya bin Akstam bertanya kepada Makmun, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah engkau mengijinkan kami menanyakan beberapa persoalan kepada Abu Ja’far?” Makmun berkata, “Mintalah ijin kepada Abu Ja’far langsung!” Yahya, setelah memperoleh ijin dari Imam, berkata, “Orang yang berburu dalam keadaan ihram apakah hukumnya dan apa kewajibannya?”Abu Ja’far berkata, “Apakah dia berburu di haram atau di luar haram, dalam keadaan muhrim, dan apakah dia itu alim atau jahil? Apakah dia membunuh binatang dengan sengaja atau tidak? Apakah dia muhrim yang bebas atau budak? Kecil atau besar? Apakah hasil buruannya merupakan yang pertama atau telah mengulanginya beberapa kali? Apakah buruannya itu adalah burung atau bukan? Kecil atau besar? Apakah dia menyesali pekerjaannya atau tidak? Berburunya pada malam hari atau siang? Muhrim sedang melakukan ihram umrah atau haji?”
Yahya mendengar serangkaian pertanyaan itu menjadi bingung sehingga tampak terkesan putus asa dan hadirin mengetahuinya dengan baik. Di saat itu, Makmun berkata, “Aku bersyukur kepada Allah atas nikmat dan taufik ini. Setelah itu, ia melihat kepada keluarganya sendiri dan berkata, “Kalian melihat apa yang kukatakan tentang Abu Ja’far adalah benar?”
Kemudian, Abu Ja’far berkata, “Apabila Anda melihat maslahat, sampaikanlah jawaban dari furu’ ‘cabang’ fikih ini sehingga dapat dimanfaatkan.”
Imam berkata, “Apabila binatang buruan itu dibunuhnya di luar haram dan dari jenis burung besar, maka kafarah ‘tebusannya’ adalah seekor kambing tetapi apabila terjadi di dalam haram, maka kafarah-nya adalah dua ekor kambing. Apabila buruannya adalah anak burung dan di luar haram, maka kafarah-nya adalah anak kambing yang baru saja disapih dari air susu ibunya. Jika anak burung itu dibunuh di dalam haram, maka kafarah-nya adalah seekor anak kambing seharga anak burung. Jika keledai liar yang dibunuh, maka kafarah-nya adalah seekor sapi. Bila berupa burung unta, maka kafarah-nya adalah menyembelih seekor unta dan apabila kijang, maka kafarah-nya adalah seekor kambing. Sekiranya salah satu dari itu dan terjadi di dalam haram, maka kafarah-nya adalah dua kali (ganda) dan disembelih di sisi Ka’bah. Apabila dengan ihram haji membawa serta binatang qurbannya, muhrim menyembelihnya di Mina.
Kafarah berburu dalam keadaan ihram adalah sama, baik terhadap jahil maupun alim. Akan tetapi, dalam keadaan disengaja, maka ia berdosa sedangkan apabila lantaran khilaf dan tidak disengaja, maka ia tidak berdosa. Kafarah terhadap orang yang merdeka (bukan budak) adalah ia sendiri yang berkewajiban membayar kafarah-nya. Namun, bila ia seorang budak, maka kafarah-nya adalah jatuh di atas pundak tuannya.

Apabila yang berburu belum baligh, maka ia tidak wajib membayar kafarah.
Apabila pemburu yang dalam keadaan ihram bertobat dari perbuatannya, ia tidak dikenai hukuman akhirat. Namun, apabila tidak bertaubat dan terus-menerus melakukan dosanya itu, ia akan dikenai juga hukuman di akhirat.”
Pada saat itulah, Makmun berkata, “Ahsan, wahai Abu Ja’far! Semoga Allah melimpahkan kepadamu balasan kebaikan. Apabila dipandang perlu, engkau dapat juga bertanya kepada Yahya.”
Abu Ja’far berkata kepada Yahya ibn Akstam, “Adakah engkau mengijinkan aku bertanya sebuah persoalan kepadamu?” Yahya berkata, “Silakan. Apabila tahu, aku akan memberikan jawaban dan apabila tidak tahu, aku akan memanfaatkan Anda.”
Imam bertanya, “Siapakah lelaki yang di awal pagi, ketika melihat seorang wanita, pandangannya adalah haram tetapi menjelang siang pandangannya kepada wanita itu menjadi halal. Di awal zhuhur, memandang wanita itu kembali menjadi haram tetapi ketika shalat ashar, melihat wanita itu menjadi halal. Setelah tenggelamnya matahari, kembali haram tetapi sewaktu shalat isya, kembali halal. Di pertengahan malam, kembali haram tetapi setelah terbit fajar, kembali halal? Wanita apa itu dan kehalalan serta keharaman ini bagaimana datang kepadanya?”
Yahya bin Akstam berkata, “Aku tidak mengerti jawaban pertanyaan ini. Bagaimanakah jawabannya agar kami juga dapat mengerti dan mengambil faedah darinya?” Abu Ja’far berkata, “Wanita itu ialah seorang budak di pagi hari sehingga pandangan seorang lelaki asing yang melihatnya haram. Ketika menjelang siang, lelaki itu membeli si wanita dari tuannya sehingga pandangan si lelaki kepadanya menjadi halal. Awal zhuhur, budak itu dibebaskan si lelaki sehingga memandang budak wanita itu adalah haram. Ketika ashar, si lelaki menikahinya sehingga pandangannya menjadi halal. Ketika maghrib, si lelaki bercerai dengannya dalam bentuk cerai dzahar sehingga memandangnya adalah haram. Ketika isya, si lelaki membayar kafarah dzahar sehingga si wanita kembali menjadi halal. Di pertengahan malam, wanita itu dicerainya sehingga menjadi haram. Ketika terbit fajar, si lelaki kembali kepada si wanita sehingga menjadi halal.”
Di saat itu, Makmun berkata kepada hadirin, “Siapakah di antara kalian yang menguasai persoalan fikih seperti ini?” Mereka berkata,

“Wahai Amirul Mukminin! Tidak seorang pun dari kami yang memiliki kemampuan seperti itu.” Makmun berkata, ” Keutamaan dan kesempurnaan ilmu pengetahuan yang kalian saksikan adalah di antara kekhususan Ahlulbait dan mudanya usia tidak membuat mereka jauh dari kesempurnaan ini.”
Setelah keutamaan dan kesempurnaan Imam Jawad menjadi jelas, Makmun menikahkan putrinya, Ummul Fadzl dengan Imam Jawad lalu dibacakan khutbah akad nikah dan dibagikan hadiah-hadiah kepada hadirin. *
Dinukilkan dari ‘Uyunul Mukjizat bahwa ketika Imam Ridha meninggal dunia, Abu Ja’far berusia sekitar tujuh tahun. Di tengah masyarakat Syiah Baghdad dan kota-kota lainnya, terjadi perselisihan pendapat tentang siapakah yang akan menggantikan Imam Ridha. Rayan bin Shalet, Shafwan bin Yahya, Muhammad bin Hakim, Abdurrahman bin Hajjaj, Yunus bin Abdurrahman dan sekelompok lainnya dari masyarakat Syiah yang terpercaya berkumpul di rumah Abdurrahman Hajjaj seraya menangisi musibah meninggalnya Imam Ridha. Pada saat itu, Yunus bin Abdurrahman berdiri dan berkata, “Sebaiknya janganlah kalian menangis dan hendaknya kita bermusyawarah kepada siapakah kita merujuk dalam persoalan agama hingga putra Imam Ridha, Abu Ja’far, dewasa.” Di saat itu, Rayan bin Shalet berdiri dan berkata, “Yunus! Sepertinya engkau mengaku beriman secara zahir ‘jelas’ tetapi di batinmu engkau masih ragu. Apabila imamah adalah dari Allah, maka anak bayi usia sehari pun akan sama kedudukannya dengan seorang lelaki tua yang alim. Apabila tidak dari Allah, seandainya usianya seribu tahun, ia tetap seperti manusia biasa. Pemikiran kita haruslah seperti itu.”
Saat itu adalah musim haji. Delapan puluh orang ahli fikih dan ulama Baghdad berkumpul dan berangkat untuk berhaji. Mereka pergi ke Madinah untuk bertemu dengan Abu Ja’far. Mereka memasuki rumah Imam Ja’far Shadiq dan mendapatkan rumah tersebut kosong.
Abdullah bin Musa menemui mereka. Di saat itu, seorang lelaki berdiri dan berkata, “Ini adalah putra Rasulullah saw. Barangsiapa yang memiliki persoalan dapat bertanya kepadanya.” Abdullah menjawabnya, “Namun semua jawaban akan bertentangan dengan kebenaran.” Dari situlah, para ahli fikih dan ulama serta umat Syiah sedih dan bimbang. Mereka berdiri dan berniat bubar. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri, “Sekiranya Abu Ja’far dapat memberikan

jawaban terhadap berbagai pertanyaan dengan benar, kami tidak akan terpaksa mendengarkan jawaban-jawaban yang salah dari Abdullah.”
Tiba-tiba dari tengah majelis, pintu terbuka dan Muwaffaq masuk seraya berkata “Ini adalah Abu Ja’far.” Hadirin bangun dan menyambut kedatangannya serta mengucapkan salam. Kemudian, Abu Ja’far dalam keadaan mengenakan serban dan pakaian ulama, duduk di satu sudut. Kemudian secara bergantian orang yang mempunyai permasalahan berdiri dan mengetengahkan pertanyaannya. Mereka mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Abu Ja’far. Semua jawabannya sesuai dengan haq dan ketetapan syariat. Mereka bahagia dan mendoakan Abu Ja’far seraya berkata, “Pamanmu Abdullah memberikan jawaban yang lain daripada yang engkau berikan.” Imam berkata, “Mengapa seperti ini! Paman! Betapa celaka bila nanti di hari kiamat, engkau ditahan dan mereka berkata, “Mengapa engkau memberi fatwa terhadap sesuatu yang engkau tidak ketahui padahal yang lebih alim daripadamu ada di antara manusia.” *
Meskipun terdapat rintangan berupa waktu yang sedikit, usia yang pendek, makar musuh, serta kelalaian sebagian orang Syiah, masih banyak hadis yang tersisa dari Imam Jawad dan tercatat dalam kitab hadis yang apabila dipelajari akan mendatangkan banyak manfaat dan sebagai bukti keluasan ilmu Imam.
Selain itu, Imam Jawad juga banyak mendidik dan membimbing murid-murid dan para perawi. Berikut ini adalah para sahabat Imam yang terpercaya: Ayyub bin Nuh, Ja’far bin Muhammad Yunus, Husain Muslim bin Hasan Mukhtar bin Zayan Abdi, Muhammad bin Husain bin Abi Khitab, Syadan bin Khalil Nisyaburi, Nuh bin Syu’aib Baghdadi, Muhammad bin Ahmad Mahmudi, Abu Yahya Jarjani, Abu Qasim Idris Qummi, Ali bin Muhammad bin Harun, Ishaq bin Ismail Nisyaburi, Ahmad bin Ibrahim Muraghi, Abu Ali bin Bilal, Abdullah bin Muhammad Hudhaini, Muhammad bin Hasan Syam’un. *

Ibadah dan akhlak

Meskipun berusia pendek, Imam Jawad sebagaimana ayah-ayahnya memiliki pengetahuan yang sangat dalam tentang keesaan Allah dan memahami pengetahuan yang berkaitan dengan mabda’ dan ma’ad. Dalam batin zatnya, Imam menyaksikan hakikat alam semesta dan keimanan serta keyakinannya adalah lebih tinggi daripada sekedar lafaz dan konsep-konsep pemikiran. Ini merupakan pengaruh dan

kelaziman imamah. Oleh karena itulah, dapat dikatakan bahwa Imam Jawad, seperti juga ayahnya, khusyuk dalam ibadah, shalat, dan doa serta berakhlak dengan akhlak yang baik dan menunaikan perbuatan-perbuatan yang baik. Ia begitu serius walaupun usianya muda. Meskipun Imam Jawad lebih sedikit mendapat perhatian masyarakat dan lebih sedikit dibicarakan, bukan berarti tidak ada sama sekali pembicaraan mengenainya.
Syaikh Mufid menulis, “Abu Ja’far bersama dengan istrinya, Ummul Fadzl, meninggalkan Baghdad dan berangkat menuju Madinah. Ketika tiba di Kufah, masyarakat menyambut mereka berdua. Menjelang Maghrib, Imam tiba di rumah Musayyib. Ia pergi ke masjid. Di halaman masjid, terdapat satu pohon yang tidak pernah berbuah. Beliau meminta air dan berwudhu di bawah pohon itu. Beliau menunaikan shalat maghrib dengan masyarakat secara jamaah. Pada rakaat pertama, Imam Jawad membaca hamdalah dan surah : ” dan pada rakaat kedua, membaca hamdalah dan surah tauhid. Sebelum rukuk kedua, Imam membaca qunut. Imam membaca, pada rakaat ketiga, tasyahud dan bersalam. Tak lama kemudian, Imam duduk dan membaca zikir. Setelah itu, Imam bangun dan melakukan empat rakaat nafilah maghrib. Selanjutnya, Imam membaca ta’qib dan melakukan dua sujud syukur lalu keluar dari masjid. Ketika orang-orang mendekati pohon itu, mereka mendapati pohon itu telah berbuah berkat air wudhu Abu Ja’far. Mereka memakan buah-buah dari pohon itu yang sangat manis dan segar tetapi tidak berbiji.”*
Di antara munajat yang dinukil dari Imam Jawad adalah munajat berikut ini:
“Ya Allah, sesunguhnya kedzaliman hamba-Mu telah mengakar kuat di bumi (negeri)-Mu hingga keadilan mati, jalan-jalan telah disendat, kebenaran tertimbun, kejujuran dibatilkan, kebenaran disembunyikan, dan kejehatan dimunculkan (tampak), ketaqwaan dibekukan, petunjuk diselewengkan, perbuatan baik lemparkan ke dalam jurang yang terjal dan perbuatan buruk diangkat ke permukaan, kerusakkan dininabobokan dan pembangkangan semakin diperkuat, kelaliman diketengahkan dan sikap melampaui batas.
Ya Allah! Ya Tuhan! Dia tidak akan menyingkapkan hal tersbeut kecuali dengan kekuasaan-Mu dan dia tidak akan lari menjauh dari mereka kecuali dengan karunia-Mu. Ya Allah! Tuhan yang melemahkan (melesukan) kejahatan, yang memutuskan jaring-jaring (tambang-

tambang) kelaliman, yang menutup semaraknya pasar kemungkaran, yang memuliakan siapa saja yang menentangnya, yang mengunci mati bibir para pelaku kejahatan dan memakaikan mereka pakaian kejahatan setelah lingkaran (balutan) serban (itu dililitkan di kepalanya). Ya Allah segerakanlah tempat tinggal (kediaman) kepada mereka dan timpakanlah hukuman berat atas mereka dan lenyapkanlah identitas kejahatan-kejahatannya (di muka bumi ini) yang ditakuti (akan kemunculannya kembali) dan tukarlah dengan hal-hal yang disenangi wahai Dia yang mengenyangkan yang lapar, yang melindungi yang kehilangan (perlindungan), yang menyelamatkan yang terbuang (terasingkan), yang mengembalikan yang diusir (dari negeri asalnya), yang membuat kaya yang papa, yang menghukum orang yang bertindak lalim, yang menghormati yang besar dan menyayangi yang kecil, yang memuliakan yang terzalimi, dan menghinakan yang berlaku zalim (semena-mena), yang membuka yang tertutup kabut hitam dan penutupnya akan dilapangkan, yang menenteramkan kelompok besar manusia, mematikan perbedaan pendapat, yang meninggikan ilmu pengetahuan, yang menebarkan keselamatan, yang menyatukan perbedaan, yang menguatkan Iman, dan yang akan membaca al-Quran karena Engkaulah yang berkuasa pemberi karunia.”
Seorang lelaki anak Hanifah dari warga Bast dan Sajistan mengatakan, “Di tahun ketika Abu Ja’far pergi haji pada awal kekhilafahan Mu’tashim Abbasi, di atas sufrah makan, aku mengatakan kepadanya, “Walikota kami begitu mencintai Ahlulbait sedangkan aku memiliki hutang yang tidak mampu kubayar. Apabila engkau melihat suatu kebaikan, anjurkan kepadanya agar ia berbuat baik dan ihsan kepadaku.” Imam berkata, ” Aku tidak mengenalnya.” Aku mengatakan kepadanya, “Dia adalah di antara pecintamu sehingga tulisanmu akan bermanfaat.”
Imam meminta kertas dan menulis, “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sesungguhnya yang menyampaikan surat ini menyebutmu bermazhab indah dan sesungguhnya perbuatan ihsan-mu akan kaubawa mati. Maka, berbuatlah ihsan kepada saudara-saudaramu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah swt akan menanyakan perbuatanmu walaupun sekecil biji atom.”
Lelaki ini kemudian berkata, “Ketika aku masuk ke Sajistan, manakala berita surat ini sampai ke telinga Abdullah Nisyaburi

(Walikota itu), ia menyambutku dari sejauh dua belas kilometer. Aku memberikan surat Imam kepadanya dan ia mencium surat itu lalu meletakkannya di matanya seraya berkata, “Apakah keperluanmu?” Aku berkata, “Aku memiliki hutang pajak di kantormu yang tidak sanggup kubayar.” Walikota memerintahkan untuk tidak mengambil uang pajak dariku dan berkata, “Selagi duduk di kursi kekuasaan, aku tidak akan mengambil pajak darimu.” Kemudian Walikota bertanya tentang keadaan ekonomi keluargaku dan aku menjawab seadanya. Kemudian Walikota memerintahkan agar memberikan kepadaku apa yang aku dan keluargaku butuhkan dan mengatakan bahwa selagi ia menjadi wali, aku tidak lagi membayar pajak dan selama ia hidup, ihsan-nya tidak pernah terputus untukku.” *
Abu Hasyim mengatakan, “Abu Ja’far memberikan uang sebanyak tiga ratus dinar di sebuah kantung dan berkata, “Berikan kepada anak pamanmu!” Lalu ia berkata, “Putra pamanmu akan mengatakan kepadamu, “Kenalkan kepadaku seseorang yang berbelanja untukku!” Secara kebetulan, manakala aku memberikan uang kepadanya, putra pamanku berkata, “Sebutkan seseorang yang berbelanja barang untukku!” *
Bazanthi berkata, “Abu Hasan Ridha dalam sebuah surat untuk putranya, Abu Ja’far, menulis, “Wahai Abu Ja’far! Aku mendengar para pembantumu membawamu keluar dari pintu kecil sebab mereka pelit dan hendak mencegahmu berbuat baik kepada orang lain! Anakku! Aku bersumpah demi Allah bahwa janganlah engkau masuk dan keluar kecuali dari pintu besar. Setiap kali engkau keluar dari rumah maka pastikan engkau membawa uang. Siapa saja yang meminta bantuan kepadamu maka berilah dia. Apabila paman-paman dan anak-anak pamanmu meminta sesuatu darimu, jangan diberi kurang dari 50 dinar dan selebihnya adalah terserahmu, apakah engkau akan memberi atau tidak. Apabila bibi-bibimu meminta, jangan engkau memberi mereka kurang dari 25 dinar dan selebihnya adalah terserahmu. Aku ingin agar Allah meninggikan maqom-mu. Berilah dan jangan takut terhadap kemiskinan dan kesempitan.” *

IMAM KEDELAPAN: IMAM RIDHA AS


Ali bin Musa as, menurut sebagian pendapat, lahir di Madinah pada tanggal 11 Dzulkaidah tahun 148 Hijriah. Ayahnya adalah Musa bin Ja’far as dan ibunya adalah Ummul Banin atau Najmah.
Imam Ali bin Musa memiliki sebutan “Abu Hasan”. Julukan-julukannya adalah ar-Ridha, ash-Shabir, ar-Radhi, al-Wafi, az-Zaki, dan al-Wali. Julukannya yang paling masyhur adalah ar-Ridha. Imam Ridha as berpulang ke rahmat Allah pada akhir bulan Shafar tahun 203 Hijriah, di Propinsi Thus, Desa Senabad. Di desa itu pula ia dimakamkan.
Dengan demikian, usia Imam Ridha adalah lima puluh lima tahun. Hidupnya bersama sang ayah sekitar tiga puluh tahun. Periode imamah adalah sekitar dua puluh tahun.

Nash-Nash Imamah

Sebelumnya telah dikatakan bahwa dalil-dalil imamah secara global dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok: pertama, dalil-dalil umum, yaitu dalil-dalil rasional dan tekstual yang dapat digunakan untuk membuktikan imamah setiap imam; kedua, dalil-dalil khusus, yaitu nash-nash yang dilontarkan setiap imam untuk membuktikan imamah imam setelahnya. Dalam pasal ini, kami akan menyebutkan nash-nash imamah Ali Ridha as.
Syaikh Mufid ra menulis, “Di antara perawi-perawi yang terpercaya, bertakwa, berilmu, dan fakih, yang meriwayatkan nash-nash imamah Ali bin Musa ar-Ridha as adalah orang-orang berikut ini: Daud bin Katsir ar-Riqqi, Muhammad bin Ishaq bin Ammar, Ali bin Yaqtain, Nu’aim Qabusi, Husain bin Mukhtar, Ziyad bin Marwan, Al-Makhzumi, Daud bin Sulaiman, Nashr bin Qabus, Daud bin Zarabi, Yazid bin Salith, dan Muhamamd bin Sinan.”*
Daud ar-Riqqi menuturkan, “Aku berkata kepada Abu Ibrahim (Musa) as, “Kukorban diriku untukmu sementara usiaku semakin bertambah. Tariklah tanganku dan selamatkan aku dari api Jahanam. Siapakah pemilik otoritas terhadap kami sepeninggalmu?” Imam menunjuk putranya Abu Hasan dan berkata, “Inilah pemilik otoritas terhadap kalian sepeninggalku.”*
Muhammad bin Ishaq bin Ammar mengatakan kepada Abu Hasan yang pertama (Musa), “Tidakkah engkau tunjukkan kepadaku seseorang yang akan kupelajari darinya berbagai masalah agamaku?” Beliau menjawab, “Inilah putraku, Ali, sebagaimana ayahku menggandeng tanganku dan membawaku ke dalam raudhah Rasulullah saw seraya berkata, “Putraku! Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Aku telah menjadikan khalifah di muka bumi.” Jika Allah telah berjanji, Dia akan melaksanakannya.”*
Husain bin Nu’aim ash-Shahaf mengatakan, “Aku, Hisyam bin Hakam, dan Ali bin Yaqtain (saat itu) tengah berada di Baghdad.” Ali Yaqtain berkata, “Aku berada di hadapan Abdus Shalih (Musa) as dan dia berkata kepadaku, “Wahai Ali bin Yaqtain, inilah Ali, sayyid (tuan) putra-putriku. Aku telah memberikan sebutanku (Abu Hasan, pent) kepadanya.” Menurut riwayat lain, Imam Musa Kazhim berkata, “Aku telah memberikan kitab-kitabku kepadanya.” Pada saat itu, Hisyam menepukkan tangannya ke dahi sembari berucap, “Wahai Ali! Bagaimana kauucapkan omongan seperti itu?” Ali bin Yaqtain menjawab, “Demi Allah, Aku berkata sebagaimana yang kudengar.” Lalu Hisyam berkata, “Sungguh perkara imamah setelah Musa bin Ja’far akan berada pada dirinya (Ali ar-Ridha, peny.)”*
Nu’aim Qabusi mengatakan, “Abu Hasan Musa as berkata, “Putraku, Ali, adalah anak teragung, termulia, dan paling kucintai.”
Husain bin Mukhtar menuturkan, “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Abu Hasan Musa as, saat ia di penjara, yang mengatakan, “Wasiatku kepada putraku yang agung untuk melaksanakan tindakan ini dan itu dan si fulan tidak dapat mendatangkan bahaya baginya hingga aku menemuimu atau ajal menjemputku.”*
Ziyad bin Marwan al-Qindi menyatakan, “Aku mendatangi Abu Ibrahim (Musa) as, yang saat itu tengah bersama putranya, Abu Hasan (Ali ar-Ridha). Beliau berkata, “Wahai Ziyad! Ini adalah putraku. Tulisannya adalah tulisanku. Perkataannya adalah perkataanku dan utusannya adalah utusanku. Apa pun yang dikatakannya adalah perkataanku.”*
Al-Makhzumi, yang ibunya keturunan Ja’far bin Abi Thalib, menuturkan, “Abu Hasan Musa as mengumpulkan kami dan berkata, “Tahukah kalian untuk maksud apa aku mengumpulkan kalian di tempat ini?” Kami menjawab, “Tidak.” Ia berkata, “Saksikanlah bahwa putraku ini adalah penerima wasiat (washi) yang menduduki kedudukan (qaim maqom) dan pengganti (khalifah)-ku. Siapa saja yang memiliki piutang dariku, tagihlah kepadanya! Kepada siapa saja aku telah berjanji, dialah yang harus melaksanakan janji-janjiku. Siapa pun yang terpaksa harus menemuiku harus dengan catatan dan wasiatnya.”*
Daud bin Sulaiman menuturkan, “Aku berkata kepada Abu Ibrahim (Musa) as, “Aku khawatir terjadi sesuatu dan tidak lagi dapat menemuimu. Beritakanlah kepada kami, siapakah imam sepeninggalmu?” Ia berkata, “Putraku Fulan –maksudnya Abu Hasan Ali ar-Ridha as.”*

Nashr bin Qabus mengatakan, “Aku berkata kepada Abu Ibrahim as, “Aku bertanya kepada ayahmu, siapakah imam setelahnya? Ia merekomendasikan engkau sebagai imam setelah dirinya. Ketika ayahmu meninggal dunia, orang-orang pergi ke sana-sini untuk menentukan pengganti. Akan tetapi, aku dan para sahabatku telah menerima imamah-mu. Kini, katakan siapakah imam sepeninggalmu!” Ia berkata, “Putraku Fulan.”*
Daud bin Zarabi menuturkan, “Aku membawa sejumlah uang ke hadapan Abu Ibrahim Musa as. Ia menerima sebagian uang itu dan menolak sebagian yang lain. Aku bertanya, “Mengapa engkau tidak menerima sebagian uang yang lain dan mengembalikannya kepadaku?” Ia menjawab, “Pemilik perkara ini (Imam Ali ar-Ridha, peny.) akan menagihnya darimu.”
Setelah Imam Musa as wafat, Abu Hasan Ridha as mengutus seseorang kepadaku untuk menagih uang itu dan aku pun menyerahkannya kepadanya.”*
Yazid bin Salith dalam kandungan hadis yang panjang menuturkan, “Abu Ibrahim as pada tahun wafatnya mengatakan kepadaku, “Tahun ini aku akan ditangkap dan dipenjarakan. Dengan demikian, perkara imamah sepeninggalku akan beralih kepada putraku, Ali, yang senama dengan Ali dan Ali. Ali yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib dan Ali yang kedua adalah Ali bin Husain as. Putraku mewarisi pemahaman, ketabahan, wara’, zikir, dan agama dari Ali yang pertama serta mewarisi cobaan terhadap musibah-musibah dan kesabaran dari Ali yang kedua.”*
Muhammad bin Ismail bin Fadhl al-Hasyimi menuturkan, “Aku mendatangi Abu Hasan Musa bin Ja’far as saat ia sakit keras. Aku berkata, “Semoga Allah tidak berkehendak terjadi suatu peristiwa pada dirimu (kematian) karena kepada siapakah aku merujuk sepeninggalmu?” Ia berkata, “Kepada putraku, Ali. Tulisannya adalah tulisanku dan ia akan menjadi washi dan khalifahku.”*
Abdullah bin Marhum mengatakan, “Aku keluar dari Basrah dan bergerak menuju Madinah. Di tengah jalan, aku bertemu Abu Ibrahim Musa as yang tengah melakukan perjalanan ke Basrah. Ia memberikan sejumlah surat kepadaku dan berkata, “Bawalah surat-surat ini ke Madinah dan serahkan kepada putraku, Ali. Ia adalah washi yang menduduki kedudukan (qaim maqom) dan putra terbaikku.”*
Muhammad bin Zaid al-Hasyimi menuturkan, “Kini para Syiah berkewajiban menjadikan Ali bin Musa sebagai imam mereka.” Lalu ditanyakan, “Mengapa?” “Karena Abu Hasan bin Ja’far as telah menetapkannya sebagai washi-nya,” jawabnya.*
Haidar bin Ayyub mengatakan, “Aku berada di Madinah, di sebuah tempat bernama Qaba. Muhammad bin Zaid bin Ali pun hadir di tempat itu tetapi terlambat datang. Aku bertanya, “Kukorbankan jiwaku untukmu, mengapa engkau terlambat datang?” Ia menjawab, “Abu Ibrahim memanggilku dan sejumlah putra-putra keturunan Ali dan Fatimah yang seluruhnya berjumlah tujuh belas orang. Saat itu, beliau berkata kepada kami, “Jadilah kalian sebagai saksi bahwa putraku, Ali, adalah washi dan wakilku, yang telah kutetapkan pada masa kehidupanku dan setelah kematianku sebagaimana kepemimpinan (amr)-nya akan berlaku.”
Setelah itu, Muhammad bin Zaid menambahkan, “Demi Allah! Setelah Musa bin Ja’far, mereka akan memilih putranya, Ali as, sebagai imam.” Haidar berkata, “Semoga Allah memanjangkan umur Musa bin Ja’far. Namun, mengapa engkau dapat mengatakan hal itu?” Ia menjawab, “Hai Haidar! Ketika telah menetapkan Ali sebagai washi-nya, Musa bin Ja’far telah menyerahkan imamah kepadanya.” Ali bin Hakam mengatakan, “Meski telah mendengar semua itu, ketika meninggal dunia, Haidar masih ragu terhadap imamah Ali as.”*
Abdurrahman bin Hajjaj berkata, “Abu Hasan Musa as berwasiat kepada putranya, Ali as. Dalam kaitan dengan hal ini, ia menulis surat dan menjadikan enam puluh orang tokoh Madinah sebagai saksi.”*
Hasan bin Ali bin Khazzaz menuturkan, “Kami berangkat ziarah ke Mekkah. Ali bin Abu Hamzah turut serta bersama kami dan membawa uang serta barang-barang. Aku menanyainya, “Kemana uang-uang ini akan kaubawa?” Uang-uang ini terkait dengan Abdus Shalih (Musa) as. Ia memerintahkan kami untuk menyerahkannya kepada putranya, Ali as. Ia telah menetapkannya (Ali) sebagai washi-nya.”*
Ja’far bin Khalaf menuturkan, “Aku mendengar Abu Hasan Musa bin Ja’far as berkata, “Orang yang paling berbahagia adalah yang menyaksikan penggantiku sebelum kematian menjemputnya. Allah swt telah memberi petunjuk kepadaku (tentang) putraku, Ali ar-Ridha as, sebagai washi.”*
Musa bin Bakr berkata, “Aku berada di sisi Abu Ibrahim as yang mengatakan, “Ja’far Shadiq as berkata, “Orang yang paling berbahagia adalah orang yang sebelum ajal menjemput(nya) menyaksikan imamnya.” Saat itu, ia menunjuk putranya, Ali as, dan berkata, “Allah swt menunjukkannya kepadaku sebagai khalifah (pengganti).”*
Ibn Faddhal menuturkan, “Aku mendengar Ali bin Ja’far as berkata, “Aku berada di sisi saudaraku, Musa bin Ja’far as. Ia bersumpah demi Allah bahwa ia adalah hujjah Allah di muka bumi setelah ayahnya. Ketika itu, putranya, Ali as, datang. Musa bin Ja’far as mengatakan kepadaku, “Wahai Ali bin Ja’far! Ia adalah pemilik otoritas (shahib)-mu. Kedudukannya di sisiku seperti kedudukanku di sisi ayahku. Semoga Allah mengukuhkanmu dalam agamamu!”
Kemudian aku menangis dan berkata dalam hatiku, “Saudaraku Musa sedang memberitakan kematiannya.” Lalu Imam Musa berkata, “Wahai Ali, takdir Ilahi akan terjadi. Rasulullah, Amirul Mukminin, Fatimah, Hasan, dan Husain adalah suri teladanku.”
Ucapan tersebut dilontarkan oleh Musa bin Ja’far as tiga hari sebelum ia ditangkap untuk kedua kalinya atas perintah Harun al-Rasyid.*
Dalam kaitan dengan imamah Ali bin Musa ar-Ridha as, kami juga memiliki hadis-hadis lain yang termaktub dalam kitab-kitab hadis tetapi untuk lebih ringkasnya, kami menghindari penyebutan semuanya.
Di samping itu, terdapat berbagai mukjizat yang terkait dengan Imam Ali ar-Ridha as dan tercatat dalam kitab-kitab hadis yang dapat bermanfaat untuk membuktikan imamah-nya.

Keutamaan dan Kepribadian Sosial

Imam Ridha as, seperti juga ayahnya, memiliki semua keutamaan dan kesempurnaan insani serta merupakan pribadi yang tersohor dan istimewa di tengah-tengah masyarakat pada zamannya.
Syaikh Mufid menulis, “Setelah Musa bin Ja’far as, putranya, Ali bin Musa ar-Ridha as, meraih imamah sebab ia lebih unggul daripada semua saudara dan Ahlulbaitnya. Keilmuan, ketabahan, ketakwaan, dan kesungguhannya jelas di mata semua orang. Orang-orang khusus dan awam mengakui keutamaan dan kesempurnaannya dan ayahnya pun menerangkan imamah-nya.”*
Di tempat lain, Mufid menulis, “Ali bin Musa ar-Ridha as adalah manusia yang paling utama, paling berakal, paling mulia, serta paling berilmu dari seluruh saudaranya.”*
Ibrahim bin Abbas menuturkan, “Sama sekali aku tidak pernah melihat Imam Ridha as berkata keras dengan seseorang atau memotong pembicaraan seseorang atau menolak orang yang membutuhkannya jika mampu memenuhi hajat orang itu. Aku tidak pernah menyaksikan kakinya diulurkan di hadapan orang lain, bersandar pada saat kedatangan orang lain, memaki para hamba sahayanya, atau tertawa terbahak-bahak, bahkan tertawanya pun berupa senyuman. Tatkala duduk di hadapan hidangan, ia pun menyuruh duduk semua hamba sahaya, pembantu, dan penjaga rumahnya di hadapan hidangan yang sama. Ia sedikit tidur dan banyak terjaga di malam hari. Kebanyakan malamnya ia lalui dalam keadaan terjaga hingga saat subuh. Ia sangat banyak berpuasa. Ia tidak pernah meninggalkan puasa tiga hari dalam sebulan dan ia berkata, “Berpuasa tiga hari dalam setiap bulan memiliki pahala puasa dahr (setiap hari hingga akhir hayat, pent). Perbuatan ihsan dan sedekahnya dilakukan secara diam-diam dan pada malam hari. Jika ada orang yang mengira telah melihat lebih baik daripadanya, janganlah kalian percayai!”*
Ibnu Sibagh al-Maliki menulis, “Setiap orang yang mencermati ihwal Ali bin Musa akan mengerti bahwa beliau telah mewarisi kakeknya, Ali bin Abi Thalib dan Ali bin Husain as. Ia memiliki iman yang kukuh dan kedudukan yang tinggi. Begitu banyak pendukungnya dan argumentasi-argumentasinya jelas sehingga Khalifah al-Makmun pun menempatkan beliau di hatinya dan mengikutsertakannya dalam urusan kenegaraan. Ia (al-Makmun) menyerahkan perkara khilafah setelah dirinya kepada beliau dan menikahkan putrinya dengannya di hadapan khalayak umum. Ia memiliki keutamaan-keutamaan (manaqib) yang tinggi dan sifat-sifat yang mulia. Dalam kemuliaan diri, ia adalah seorang Hasyimi dan mempunyai akar kenabian.”*
Ziyad bin Marwan menuturkan, “Aku berada di sisi Musa al-Kazhim. Abu Hasan ar-Ridha pun berada di sana. Imam Musa berujar kepadaku, “Ini adalah putraku, Ali as. Tulisannya adalah tulisanku, perkataannya adalah perkataanku, dan utusannya adalah utusanku. Setiap yang ia katakan adalah benar.”*
Al-Makmun, dalam sebuah surat yang berisi pengangkatan putra mahkota (penerus khilafah) yang dikirim kepada Ali bin Musa ar-Ridha as menulis, “Sejak permulaan khilafah, saya senantiasa berusaha menemukan orang terbaik sebagai penerus kekuasaan saya. Setelah melalui pencarian, saya tidak menemukan seseorang yang lebih layak menduduki posisi ini daripada Abu Hasan Ali bin Musa ar-Ridha as karena saya telah menyaksikan keutamaan, keilmuan, dan ketakwaannya yang lebih unggul daripada semua manusia. Ia berpaling dari dunia dan dari para penyembah dunia serta mengutamakan akhirat daripada dunia. Saya yakin terhadap hal ini dan ini merupakan hal yang disepakati. Oleh karena itu, saya mengangkatnya sebagai putra mahkota (penerus kekuasaan) saya.”*
Abu Shalt mengatakan, “Al-Makmun berkata kepada Ali bin Musa as, “Wahai putra Rasulullah! Karena keutamaan, keilmuan, kezuhudan, dan ibadahmu telah terbukti bagiku, aku menilai dirimu lebih layak menggantikan diriku.”*

Ilmu dan Pengetahuan

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dan dibuktikan melalui dalil-dalil rasional (aqliy) dan tekstual (naqliy), salah satu syarat terpenting seorang imam adalah mengetahui keseluruhan masalah yang berkaitan dengan agama dan tanggung jawab terbesar imam adalah menjaga, menyebarkan, dan menerapkan hukum serta undang-undang agama. Pada prinsipnya, falsafah imamah mesti didapati pada pelaksanaan tanggung jawab penting ini. Semua imam adalah demikian dan Imam Ridha pun demikian pada zamannya.
Pada periode dua puluh tahun imamah-nya, ia melakukan upaya penyebaran hukum-hukum agama dan mendidik para murid terpelajar dengan tulus. Berkat upaya beliau, para murid, dan perawinya yang tulus, tersebarlah sejumlah besar hadis yang contoh-contohnya dapat ditelaah dalam kitab-kitab hadis.
Terdapat hadis-hadis dari beliau as yang sampai kepada kita dalam semua persoalan yang berkaitan dengan agama, seperti makrifatullah (mengenal Allah), tauhid, sifat-sifat kesempurnaan dan kesucian Allah swt, penciptaan alam semesta dan falsafahnya, keadilan Ilahi, jabr (determinasi) dan ikhtiar (free will), qadha dan qadar, kenabian dan falsafahnya, kemaksuman, ilmu dan imamah serta syarat-syarat imam dan falsafah imamah, akhlak mulia dan akhlak tercela, aneka ragam hal yang diharamkan dan dosa serta balasannya dan berbagai bab fikih.
Jika merujuk kitab-kitab hadis, akan kita saksikan hadis-hadis yang berkaitan dengan tema-tema tersebut dan puluhan lainnya yang semacam itu. Di samping hadis-hadis itu, terdapat pula sejumlah dialog dan kajian ilmiah dengan para penguasa saat itu, ulama, serta tokoh-tokoh dari berbagai agama yang tercatat dalam buku-buku sejarah dan hadis.
Melalui telaah dan kajian terperinci tentang hadis dan dialog ilmiah beliau, kita dapat mengetahui kedudukan keilmuannya.*