Shalat para maksumin 



Shalat Rasulullah saw

Sayid Ibnu Thawus meriwayatkan bahwa Imam Ali Ridha as pernah ditanya tentang shalat Ja’far at-Thayyar. Beliau menjawab, “Mengapa kalian lupa dengan shalat Rasulullah saw? Mungkin Rasulullah saw belum pernah melakukan shalat Ja’far tersebut, dan Ja’far juga belum pernah melaksanakan shalat beliau itu!” Perawi berkata, “Jika begitu, ajarkanlah shalat (Rasulullah saw) tersebut kepadaku!” Beliau berkata, “Kerjakanlah shalat 2 rakaat, dan di setiap rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan innaa anzalnaahu (surah al-Qadr) 15 kali. Bacalah juga surah al-Qadr tersebut ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud pertama, sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua masing-masing 15 kali. Setelah itu, bacalah tasyahud dan salam. Jika engkau telah selesai melaksanakan shalat, tidak akan ada dosa yang tersisa dalam dirimu kecuali akan diampuni oleh Allah dan setiap keperluan yang engkau minta, pasti akan dikabulkan. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 150).

Shalat Ali bin Abi Thalib as

Syekh Thusi dan Sayid Ibnu Thawus ra meriwayatkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Sesiapa di antara kalian melaksanakan shalat Amirul Mukminin as yang berjumlah 4 rakaat, niscaya ia akan terbersihkan dari dosa seperti ia baru lahir dari perut ibunya dan segala keperluannya akan dipenuhi. Pada setiap rakaat, bacalah surah al-Fatihah 1 kali dan surah al-Ikhlas 50 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 152).

Shalat Sayidah Fathimah Az-Zahra as

Diriwayatkan bahwa Sayidah Fathimah az-Zahra as selalu melaksanakan shalat dua rakaat (di siang hari Jumat) yang telah diajarkan malaikat Jibril kepada beliau. Pada rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, beliau membaca surah al-Qadr 100 kali dan pada rakaat kedua setelah itu, membaca surah al-Ikhlas 100 kali…
Syekh Thusi berkata dalam Mishbah al-Mutahajjidin, “Shalat Sayidah Fathimah as adalah dua rakaat. Pada rakaat pertama, membaca surah al-Fatihah dan 100 kali surah al-Qadr dan di rakaat kedua, membaca surah al-Fatihah dan 100 kali surah al-Ikhlas. Setelah mengucapkan salam, membaca tasbih Sayidah Fathimah as, lalu membaca doa Subhana dzil ‘izzisy syamikh…hingga akhir doa seperti telah disebutkan di atas. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 156-157).

Shalat Imam Hasan as

Shalat Imam Hasan as pada hari Jumat adalah 4 rakaat seperti shalat Amirul Mukminin as. Shalat beliau yang lain adalah 4 rakaat dan pada setiap rakaatnya membaca surah al-Fatihah 1 kali dan surah al-Ikhlas 25 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 159).


Shalat Imam Husain as

Shalat Husain as adalah 4 rakaat. Pada setiap rakaat membaca surah al-Fatihah dan al-Ikhlas masing-masing 50 kali. Membaca kedua surah di atas masing-masing 10 kali pada saat ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, dan sujud kedua. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 160).

Shalat Imam Ali Zainal Abidin as

Shalat beliau adalah 4 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah sekali dan surah al-Ikhlas 100 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 165).
Shalat Imam Muhammad Baqir as
Shalat beliau adalah 2 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah sekali dan subhanallahi wal hamdulillahi wa la ilaha illallahu wallahu akbar 100 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 166).

Shalat Imam Ja’far Shadiq as

Shalat beliau adalah 2 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah sekali dan ayat syahidallaahu annahuu laa ilaaha illaa huwa wal malaaikatu wa ulul ilmi qaaiman bil qisth, laa ilaaha illaa huwal aziizul hakiim, innaddiina indallaahil islaam, wa makhtalafal ladziina uutul kitaabi illaa min ba’di maa jaat humul ilmu baghyan bainahum, wa man yakfur bi aayaatillaahi fa innallaaha sariiul hisaab 100 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 167).

Shalat Imam Musa al-Kazhim as

Shalat beliau adalah 2 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah sekali dan surah al-Ikhlash 12 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 168).

Shalat Imam Ridha as

Shalat beliau adalah 6 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah sekali dan surah al-Insan 10 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 169).

Shalat Imam Jawad as

Shalat beliau adalah 2 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah sekali dan surah al-Ikhlas 70 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 169).
Shalat Imam Ali Hadi as

Shalat Imam Ali Hadi as berjumlah 2 rakaat. Pada rakaat pertama, membaca surah al-Fatihah dan Yasin serta pada rakaat kedua, membaca surah al-Fatihah dan surah ar-Rahman (masing-masing satu kali). (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 170).

Shalat Imam Hasan al-Askari as

Shalat beliau adalah 4 rakaat. Pada dua rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, membaca surah az-Zilzal 15 kali dan pada dua rakaat terakhir setelah membaca surah al-Fatihah, membaca surah al-Ikhlas 15 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 171).

Shalat Imam Mahdi as

Shalat ini berjumlah 2 rakaat. Pada setiap rakaat, membaca surah al-Fatihah dan al-Ikhlas (masing-masing sekali). Ketika sampai pada ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (ayat ke-5 surah al-Fatihah), ulangilah bacaan ayat ini 100 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 172).

Shalat Ja’far ath-Thayyar as

Shalat ini adalah yang paling mujarab. Shalat ini diriwayatkan dengan sanad-sanad mu’tabar dan memiliki banyak keutamaan. Terutama adalah pengampunan dosa-dosa besar.
Waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat ini adalah permulaan siang hari Jumat. Shalat ini berjumlah 4 rakaat dengan dua tasyahud dan salam. Pada rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, bacalah surah al-Zilzal, pada rakaat kedua bacalah surah al-Adiyat, pada rakaat ketiga bacalah surah an-Nashr, dan pada rakaat keempat bacalah surah al-Ikhlas. Setelah membaca setiap surah-surah di atas, bacalah subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaaha ilaallaahu wallaahu akbar 15 kali. Juga bacalah tasbih di atas ketika ruku, bangun dari ruku, sujud pertama, bangun dari sujud, sujud kedua dan duduk istirahat antara dua rakaat masing-masing 10 kali. Jumlah tasbih yang harus dibaca pada empat rakaat tersebut adalah 300 kali. (Mafatih al-Jinan, Kunci-kunci Surga Jilid 1, karya Syekh Abbas Al-Qummi, Penerbit Al-Huda, cet. Ke-2 tahun 2009, hal. 173-174).

Advertisements

Manusia adalah gabungan Akal dan Hawa Nafsu


~*~**~*~**~*~**~*~**~*~**~*~**~*~**~*~**~

…Bahwa meskipun hawa nafsu mempunyai daya yang sangat kuat dan berpevan aktif serta efektif dalam kehidupan manusia, tapi kehendaknya untuk menyempurnakan, mematangkan dan menonjolkan peran akal tidak pernah terampas. Hal itu disebabkan oleh karena #manusia_terdiri dari #akal dan #hawa_nafsu…

…Manusia selalu berada dalam tarik-menarik kedua faktor ini. Fluktuasi keduanya berakibat langsung pada manusia. Semuanya, sebenarnya, bergantung pada manusianya sendin dalam sejauh mana mengfungsikan atau medisfungsikan akal dalam kehidupannya…

…Manusia berbeda sekali dengan binatang. Binatang tidak mempunyai akal yang bisa mengatur dunianya; langkah-langkahnya secara total dikemudikan oleh hawa nafsu. la sepenuhnya tunduk padanya dan sikapnya termanifestasi melalui faktor hawa nafsu saja…

_________________________________________________________
#Imam_ALI_as berkata:
“Allah menganugerahkan akal yang tak berunsur syahwat kepada malaikat, syahwat tanpa unsur akal pada binatang, dan keduanya (akal dan syahwat) kepada anak cucu Adam. Karenanya, siapa yang akalnya bisa mengalahkan syahwatnya, maka dia lebih baik daripada malaikat dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia lebih buruk daripada binatang.”

KEPEMIMPINAN AL-QAIM


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Menyayangi,
🌿🌜 “Salam atas mu wahai peninggalan ALLAH di bumi-Nya”🌿🌜🌿 

Dari Hasan bin Mahbub, dari Amr bin Simr bahwa jabir berkata;

“Seseorang datang kepada Imam Muhammad Baqir a.s dan mengatakan,

“Semoga Allah memberkahi Anda! Tolong, ambillah lima ratus dirham ini dariku. Ini semua adalah zakat harta bendaku”

Imam Muhammad Baqir a.s berkata,

“Ambil saja semua ini dan bagikan kepada orang-orang muslim miskin, tetangga-tetangga dan saudara-saudaramu,”

Kemudian beliau berkata,

“Ketika al-Qaim Ahlulbait datang, dia akan membagikan harta benda dengan adil dan memimpin umat manusia dengan adil pula. Barang siapa menaatinya, niscaya di menaati Allah, dan barang siapa tidak mematuhinya niscaya dia tidak mematuhi Allah. Dia bernama al-Mahdi, karena dia membimbing pada suatu ihwal yang gaib.

Dia mengambil taurat dan kitab-kitab Allah lainnya dari Gua Antiokia. Dia akan menghakimi pengikut Taurat dengan Taurat, menghakimi pengikut injil dengan injil, menghakimi pengikut Zabur (Nabi Daud a.s) dengan Zabur, dan menghkimi pengikut al-Quran dengan al-Quran.”

Kekayaan dunia ini dihimpun untuknya dari atas bumi dan dari bawah bumi. Dia mengatakan kepada umat manusia,

“Mari melihat kesalahan yang telah engkau perbuat terhadap keluargamu!

“Mari melihat darah yang telah engkau tumpahkan dengan Zalim!

“Mari melihat dosa-dosa yang telah engkau perbuat!”

“Dia akan menawarkan sesuatu yang belum pernah ditawarkan oleh siapa pun sebelum dirinya. Dia akan mengisi dunia ini dengan keadilan dan cahaya setelah sebelumnya dunia diisi kezaliman, penindasan dan kekejian”

{ Ilal al-Syara’i, hal.161; Iqd al-Durar, hal.39, Itsbat al-Hudat, jil.3, hal.497,540; Hilyah al-Abrar, Jil.2, hal.556, Bihar al-Anwar, juz 51,hal.29;juz 52, hal.350; Mu’jam Ahadits al-Imam al-Mahdi a.s, Jil.3, Hal.322 }

Seri Anbiya’ : Ciri Dakwah Para Nabi, Cinta dan Kelembutan 


Seluruh nabi dari mulai Adam hingga Muhammad saw memiliki satu ciri yang sama yaitu berdakwah dengan cinta, kelembutan dan kasih sayang.

Sebelumnya pernah kita sebutkan bahwa nabi memiliki cinta yang begitu dalam kepada Umatnya. 

Namun kali ini kita akan menyebutkan ayat-ayat tentang bagaimana kesabaran para nabi dan kelembutan mereka dalam berdakwah.

Kenapa para nabi harus memakai metode cinta, kasih sayang dan menebar kebaikan?

Karena bagaimanapun fitrah manusia menyukai hal itu. Pada dasarnya tidak ada manusia yang menyukai kekerasan, penindasan dan kedzaliman. Tapi dengan kelembutan, hati yang membatu pun bisa luluh.

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS.Fussilat:34)

Kemudian pada ayat lain, Allah SWT berfirman kepada Nabi Muhammad saw,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS.Ali Imran:159)

Kita dapat melihat kasih sayang ini pada Nabi Nuh as, yang bersabar selama 950 tahun untuk mengajak umat menuju jalan keselamatan.

Begitupula dengan nabi Musa as. Dihadapan Fir’aun yang kejam itu, Allah memerintahkan beliau untuk berdakwah dengan kata-kata yang lembut.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS.Thaha:44)

Jika kepada Fir’aun saja harus dengan cara yang lembut dan santun, mengapa kita menggunakan cara yang kasar dan keras bahkan kepada saudara muslim sendiri?

Apalagi jika kita melihat sejarah Rasulullah saw. Bagaimana kehidupan beliau selalu dihiasi dengan senyum dan kelembutan.

Suatu ketika seorang Arab Badui menarik surban Rasulullah saw dengan keras hingga membekas merah di leher beliau. Lalu lelaki ini meminta sesuatu kepada Rasul dengan nada yang kasar.

Rasul pun bertanya kepadanya, ” Tidakkah kau melihat apa yang kau perbuat kepaku? Tidakkah engkau takut aku akan membalas perbuatanmu?

“Tidak, aku tidak takut engkau membalas.” jawab lelaki itu.

Kenapa demikian?” tanya Rasulullah.

“Karena engkau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan tapi engkau selalu membalas keburukan dengan kebaikan.”

Inilah para nabi, yang kesantunan dan kelembutannya tidak dapat disaingi oleh seluruh penghuni bumi. Karena mereka adalah utusan Allah yang mengajak manusia menuju Tuhan yang Maha Indah.

Seri Anbiya’ : Manusia-Manusia yang Menghadapi Ujian Terbesar Sepanjang Sejarah. 


Sampailah kita pada seri terakhir dalam untaian sifat-sifat para nabi. Pada seri ini kita akan membahas tentang keberhasilan mereka dalam menghadapi ujian demi ujian yang sangat berat.

Tugas nabi tidaklah mudah. Karena tentunya mereka harus menghadapi ujian yang jauh lebih berat dari manusia biasa.

Seperti firman Allah SWT,

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (QS.al-Baqarah:124)

*Kalimat dalam ayat ini adalah ujian-ujian yang dipilih oleh Allah untuk nabi Ibrahim as.

Adapun beberapa ujian yang harus dilalui nabi Ibrahim as adalah :

1. Tekanan dan gangguan yang diperoleh dari penguasa dizamannya.

2. Diperintahkan membawa istri serta anaknya yang baru lahir ke kota Mekah dan meninggalkan mereka disana. Padahal beliau lama sekali tak memiliki anak dan ketika baru mendapatkan anak, beliau harus berpisah sekian lama dengan putranya.

3. Setelah berpisah sekian lama dengan putranya lalu diizinkan untuk berkumpul kembali, beliau diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri.

Semua ujian itu berhasil dilalui oleh nabi Ibrahim as. Ujian-ujian yang sangat berat namun dengan keyakinan yang penuh beliau mampu melewatinya.

Begitupula dengan berbagai ujian yang menimpa nabi Nuh, Musa, Yusuf dan nabi lainnya. Semuanya dihadapkan pada posisi yang amat sulit namun mereka mampu melewatinya dengan sempurna.

Bukankan Rasulullah saw pernah bersabda,

مَا أُوْذِيَ نَبِيٌ قَطُّ مِثْلَ مَا أُوْذِيْتُ

“Tidak ada seorang pun nabi yang diuji seperti aku diuji.”

Keberhasilan para nabi dalam menghadapi ujian-ujian berat ini menunjukkan betapa tingginya kualitas keimanan mereka kepada Allah SWT. Sehingga apapun yang akan terjadi, mereka tetap tegar untuk berdakwah mengajak umat menuju jalan keselamatan.

Semoga bermanfaat…

:: Janda dan Kedudukannya di dalam Islam ::


Jika kita melihat Perjalanan Hidup Sayyidul Wujud, Rasulullah SAW maka kita akan melihat bahwa beliau banyak Menikahi Wanita Janda.
Pada masa Jahiliyah, orang Arab Sangat Anti dengan Menikahi Janda dan Lebih Menyukai Menikah dan berSenang-senang dengan Perawan.
Rasulullah SAW datang membawa Islam dan MeMuliakan para Janda dengan Menikahi mereka karena Allah Swt.
Pada Zaman Arab Jahiliyah pula, Wanita Sangat diHinakan dan Tidak Memiliki Kedudukan Sama sekali.
Masih ingat terkait cerita Sahabat Besar Rasulullah SAWW yang Anti dengan Anak Wanita sampai menguburnya hidup-hidup di dalam tanah?
Itu menandakan Era Jahiliyyah ketika itu sangat Anti dan Aib memiliki Anak Wanita di rumah mereka.
Lalu jika Wanita saja Tidak Memiliki Harga, lalu bagaimana dengan para Janda?
Untuk itu,Islam datang untuk Memuliakan Kaum Wanita, khususnya para Janda yang dipraktekkan langsung oleh Datuknya, Para Habib dan Sayyid Rasulullah SAW dan Imam Ali Ibni Abi Thalib AS dengan menikahi para Janda yang Suaminya Syahid di Medan Perang.
• Imam Ali Ibni Abi Thalib AS berkata…
” ظُلمُ اليَتامى وَ الاَيامى يُنزِلُ النِّقَمَ وَ يَسلُبُ النِّعَمَ أهلَها ”
“Menzhalimi Anak-anak Yatim dan Para Janda menyebabkan turunnya Bencana dan Musibah serta Menghilangkan Kenikmatan Ilahi dari Pelakunya.”
[Bihar Anwar Juz.44 hal.99]
• Rasulullah SAW berSabda…
“Membantu Faqir Miskin dan Para Janda seperti BerJihad di Jalan Allah Swt.”
Bahkan Nabi Luqman Al-Hakim MeWasiatkan kepada Putranya untuk berlaku Lembut terhadap Janda dan Penuh Kasih Sayang kepada Anak-anak Yatim.
• Lukman Hakim berkata kepada Putranya,
” يا بُنَيَّ ، كُن لِليَتيمِ كَالأَبِ الرَّحيمِ ، وَلِلأَرمَلَةِ كَالزَّوجِ العَطوف”
“Wahai Putraku!
Jadilah Ayah Penyayang bagi Anak-anak yatim dan Suami yang Lemah Lembut terhadap Janda.”
[Ikhtisas hal.377]
• Bahkan Syeikh Muhsin Qiraati menyarankan dan Menasehati para Mahasiswa di Universitas untuk menikahi para Janda sebagai bentuk Ibadah yang Paling Besar yang diCintai oleh Rasulullah SAW.
[Khabar Ghuzari Isna]
• Rasulullah SAW menekankan Kaum Muslimin dalam hadith panjang terkait pernikahan seorang Bujangan Anshar dengan Janda untuk MeNafkahi Janda dan Qnak-anaknya karena Ibadah dan Ridha Allah Swt.
[Mustadrak Wasail wa Mustanbithul Masaail, Juz.14 hal.238]
Untuk itu,Janda bukanlah Alat Pemuas Syahwat dan Boneka yang bisa dimainkan sesaat, melainkan mereka seperti anak-anak Yatim yang Melukai mereka mendapatkan Laknat dan Murka Allah Swt serta Membantu dan Menafkahi mereka Mendapatkan Rahmat dan Ampunan Ilahi, sehingga hal tersebut dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan Imam Ali Ibni Abi Thalib AS.
Jika orang masih menjadikan Janda Barang Mainan dan Alat Pemuas Syahwat sesaat, maka dirinya telah kembali ke Era Jahiliyyah sebelum Islam, bahkan dengan segala Kemajuan di Era Millennium sekarang ini, menjadikan lebih buruk dari masa Jahiliyyah.

​Manfaat Doa “Allahumma Kun li Waliyyika”


Imam Ja’far As-Shodiq as berkata,
“Siapa yang berdoa untuk (keselamatan) al-Qo’im maka beliau akan mendoakannya pula. Dan sungguh beruntung siapa yang didoakan oleh imam zamannya.”

Menurut para ulama’

manfaat berdoa untuk keselamatan Imam Mahdi as adalah :
1. Membuat setan merasa marah dan terganggu.
2. Sebab dari dikabulkannya doa.
3. Menyelamatkan dari fitnah akhir zaman.
4. Mengantarkan pada pengampunan dosa.
5. Mengantarkan pada syafaat Imam Mahdi as.
6. Memanjangkan umur.
7. Sangat bermanfaat disaat-saat sakaratul maut dan meringankan prosesnya.
8. Memancarkan cahaya al-Hujjah di hati pendoa.
9. Meraih derajat yang tinggi di hari kiamat.
10. Keberuntungan dengan syafaat Sayyidah Fatimah as.
11. Tergolong sebagai orang-orang yang dicintai Allah.
12. Keburukan akan tergantikan oleh kebaikan.
13. Si pendoa akan dibalas dengan kebaikan di hari kiamat.
14. Malaikat akan memohonkan ampun baginya.
15. Aman dari dahaga hari kiamat.
16. Doa ini akan menjadi penghibur di hari kiamat.
17. Menghilangkan kesedihan dan kesumpekan.
18. Termasuk amalan paling utama di sisi Allah.
19. Akan digolongbkan sebagai orang yang berjuang dibawah bendera al-Mahdi as.
20. Dibangkitkan bersama Rasul dan Ahlulbait as.