IMAM KETUJUH: IMAM MUSA AL-KAZHIM AS 


Musa bin Ja’far as lahir pada tanggal 7 Shafar, tahun 128 Hijriah di sebuah desa antara Makkah dan Madinah yang bernama Abwa. Ayahnya adalah Imam Ja’far Shadiq as dan ibunya adalah Hamidah.
Nama beliau adalah Musa dan panggilannya adalah Abu Hasan, Abu Ibrahim, Abu Ali, Abu Ismail. Sementara itu, gelarnya adalah Abdus Shalih ‘hamba yang saleh’, Nafsuz Zakiyyah ‘jiwa yang suci’, Zainal Mujtahidin, as-Shabir ‘penyabar’, al-Amin ‘terpercaya’, az-Zahid ‘ahli zuhud’, dan as-Shalih. Gelarnya yang paling terkenal adalah al-Kazhim.
Beliau meraih kesyahidan pada tanggal 25 Rajab, tahun 183 Hijriah, di penjara Sanadi bin Syahik, di Baghdad dan dimakamkan di pemakaman Quraisy yang terkenal dengan nama Kadzimain. Saat itu, beliau berusia lima puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun, ia hidup bersama ayahnya dan masa imamah-nya adalah tiga puluh lima tahun.
Musa bin Ja’far as praktis tidak merepotkan penguasa saat itu karena tidak terdapat peluang dan menghabiskan masa-masa hidupnya dalam ibadah, bekerja, mengurusi soal-soal kehidupan lainnya –terutama penyebaran ilmu dan ajaran-ajaran agama, membimbing manusia, dan mendidik murid-muridnya serta para perawi hadis sehingga dikenal sebagai ulama dan ahli fikih terkemuka. Namun demikian, penguasa saat itu tetap khawatir dan cemas terhadap kedudukan ilmu serta kecintaan masyarakat terhadapnya. Oleh karena itu, penguasa senantiasa mengawasi dirinya, para sahabatnya, dan pengikutnya. Mereka menerornya dengan beragam cara dan berulangkali memaksanya datang dari Madinah ke Baghdad untuk diintimidasi, bahkan terkadang mereka bermaksud membunuhnya, sesuatu yang akhirnya urung dilakukan karena beberapa pertimbangan sehingga Imam pun dipulangkan kembali ke Madinah.
Pada akhirnya, melalui upaya sebagian kerabat Harun al-Rasyid, dikeluarkanlah keputusan untuk menarik Imam as dari Madinah ke Baghdad. Imam mendekam sekian lama di penjara Bashrah dan Baghdad. Bui terakhirnya adalah penjara Sanadi bin Syahik di Baghdad. Penjara ini merupakan rumah tahanan yang amat berat.
Akhirnya, atas perintah Harun al-Rasyid, Sandi bin Syahik meracuninya sehingga beberapa lama kemudian Imam mencapai syahadah. Jasad sucinya dimakamkan di pemakaman Quraisy, di pinggiran kota Baghdad.*

Nash-Nash Imamah

Sebelumnya telah disebutkan bahwa dalil-dalil imamah terbagi menjadi dua bagian:
Pertama, dalil-dalil umum yang dapat dijadikan sandaran untuk membuktikan imamah tiap-tiap imam. Kedua, dalil-dalil khusus, yaitu nash-nash yang berasal dari setiap imam untuk menyatakan kepemimpinan imam setelahnya. Sebelum ini, kami telah mengemukakan secara terperinci bagian pertama (dalil-dalil umum, pent). Di sini, kami hanya akan mengutip nash-nash yang dilontarkan Imam Ja’far Shadiq as yang berkaitan dengan kepemimpinan putranya, Musa bin Ja’far as.
Syaikh Mufid ra menulis bahwa Mafdhal bin Umar Ja’fi, Muadz bin Katsir, Abdurrahman bin Hajjad, Faidh bin Mukhtar, Ya’kub Siraj, Sulaiman bin Khalid, dan Shafwan bin Jamal adalah sejumlah sahabat khusus, orang dekat, dan kepercayaan Imam Shadiq as yang meriwayatkan nash-nash imamah Abu Hasan Musa as.
Ishaq dan Ali, dua putra Imam Shadiq as, yang tiada perselisihan mengenai keutamaan dan ketakwaan mereka berdua adalah di antara orang-orang yang menegaskan nash-nash imamah saudara mereka, Musa bin Ja’far as.
Mafdhal bin Umar menuturkan, “Saya berada di sebuah ruangan, di kediaman Imam Shadiq as. Tiba-tiba Abu Ibrahim Musa as, yang saat itu masih kanak-kanak, memasuki ruangan itu. Imam Shadiq as berkata kepadaku, “Aku berwasiat kepadamu tentang putraku ini. Wasiatkanlah perkara tentang (imamah)-nya kepada setiap sahabat yang kaupercayai.”*
Mu’adz bin Katsir mengatakan, “Aku berkata kepada Imam Shadiq as, “Aku memohon kepada Allah sebagaimana Dia telah mengaruniakan kepada ayahmu kedudukan (imamah) ini bagimu agar setelah kematianmu menganugerahkan kepadamu (kedudukan imamah) bagi salah seorang dari keturunanmu.” Imam Shadiq as berkata, “Allah Ta’ala telah telah menganugerahkan orang tersebut.” Aku bertanya, “Siapa dia? Aku akan berkorban untuknya.” Imam menunjuk kepada hamba saleh yang sedang tidur dan berkata, “Ini dia yang sedang tidur.” *
Abdurrahman bin Hajjaj berkata, “Aku mendatangi Ja’far bin Muhammad as yang berada di suatu rumah dan sedang berdoa di sana sedangkan Musa bin Ja’far as yang duduk di samping kanannya juga ikut berdoa. Aku berkata, “Engkau mengetahui kecintaan dan kecenderunganku terhadapmu lalu siapakah wali amr (pemegang mandat imamah) setelah dirimu?” Imam Ja’far menjawab, “Wahai Abdurrahman! Musa telah mengenakan baju besi (Rasulullah) dan itu sesuai dengan ukurannya.” Kemudian aku berkata, “Sudah jelas bukti untukku dan aku tidak memerlukan lagi yang lain.”*
Faidh bin Mukhtar menuturkan, “Aku berkata kepada Imam Shadiq as, “Tariklah tanganku dan selamatkanlah aku dari api neraka! Siapakah orang yang kumiliki sepeninggalmu?” Saat itu, Abu Ibrahim yang masih kanak-kanak datang. Maka, dalam jawabannya kepadaku Imam berkata, “Inilah sahabatmu. Ikutilah dia!”*
Manshur bin Khazim mengatakan, “Aku berkata kepada Imam Shadiq as, “Ayah dan ibuku berkorban untukmu. Kematian adalah haq dan semua manusia akan mati. Sebagaimana kepemimpinan ini berlaku untukmu, lalu siapakah imam sepeninggalmu?” Ia menepuk tangannya ke pundak Abu Hasan (Musa) dan berkata, “Inilah sahabatmu.” Perkataan ini diucapkan saat Abu Hasan (Musa) berusia lima tahun dan Abdullah, putra Imam Ja’far yang lain, juga berada di tempat itu.”*
Isa bin Abdillah mengatakan, “Aku berkata kepada Imam Shadiq as, “Jika terjadi sesuatu padamu (kematian, pent.) –semoga Allah menghindarkannya, siapakah yang harus kuikuti?” Imam menunjuk kepada putranya, Musa, dan berkata, “Ikutilah dia!”
Aku berkata, “Jika terjadi sesuatu pada Musa, kepada siapakah aku merujuk?” Imam menjawab, “Kepada putranya.”
Aku berkata, “Jika terjadi sesuatu pula pada putranya, kepada siapakah aku harus merujuk?” Imam menjawab, “Kepada putranya.”
Aku pun berkata, “Jika terjadi sesuatu padanya sedangkan ia memiliki saudara yang lebih tua dan seorang putra yang masih kecil, apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab, “Kepada putranya sampai berlanjut hingga akhir.”*
Thahir bin Muhammad menuturkan, “Aku melihat Imam Shadiq as sedang menasehati putranya Abdullah dan berkata, “Mengapa engkau tidak seperti saudaramu? Demi Allah! Aku menyaksikan cahaya di wajahnya.” Abdullah berkata, “Bukankah ayah kami dan asal kami adalah satu?” Imam Shadiq menjawab, “Ia berasal dari jiwa (nafs)-ku sedangkan engkau adalah putraku.”
Ya’kub Siraj menegaskan, “Aku mendatangi Imam Shadiq as sementara Abu Hasan (Musa) yang masih dalam buaian berdiri di atas kepalanya dan dengan nada lirih mereka berdua bercakap-cakap dalam tempo yang lama. Aku duduk hingga percakapannya selesai. Kemudian aku bangkit menuju ke arah Imam. Beliau berkata, “Mendekatlah ke maula-mu dan ucapkanlah salam kepadanya!” Aku mendekati anak itu dan menyalaminya. Ia menjawab salam dengan lidah yang fasih lalu berkata, “Pergilah! Ubahlah nama putrimu yang baru saja kauberi nama sebab Allah tidak menyukai nama seperti itu.” Saat itu, aku baru dikaruniai seorang putri dan kuberi nama Humaira.”
Imam Shadiq bersabda kepadaku, “Turutilah perintah putraku!” Aku pun mengubah nama putriku.”
Shafwan Jammal mengatakan, “Aku bertanya kepada Imam Shadiq as, “Siapakah pemilik kepemimpinan ini?” Imam menjawab, “Pemilik kepemimpinan ini adalah orang yang tidak melakukan perbuatan yang sia-sia.” Tiba-tiba Abu Hasan (Musa) datang sembari menggiring seekor anak domba dan Imam berkata kepadanya, “Bersujudlah kepada Allah!” Imam Shadiq as menggendongnya dan berkata, “Demi ayah dan ibuku! Barangsiapa yang tidak berbuat sia-sia tidak bermain-main.”*
Ishaq bin Ja’far menuturkan, “Suatu hari aku berada di rumah ayahku (Imam Ja’far). Ali bin Umar bin Ali berkata kepada beliau as, “Kukurbankan diriku untukmu. Sepeninggalmu, kepada siapakah aku dan seluruh manusia berlindung?” Imam menjawab, “Kepada pemilik dua pakaian kuning dan dua belahan rambut ini. Sebentar lagi ia akan datang dari pintu ini.” Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Abu Ibrahim Musa as datang sementara ia masih kanak-kanak dan mengenakan dua pakaian kuning.”*
Muhammad bin Walid mengatakan, “Aku mendengar Ali bin Ja’far bin Muhammad Shadiq as berkata, “Aku mendengar ayahku, Ja’far bin Muhammad as berkata kepada sekelompok sahabatnya yang khusus, “Aku berwasiat kepada kalian tentang putraku, Musa, karena ia adalah putra terbaikku yang akan menjadi penggantiku, menempati kedudukanku, dan menjadi hujjah Allah bagi seluruh manusia setelahku.”*
Syaikh Mufid di akhir pembahasan ini menulis bahwa Ali bin Ja’far sangat mencintai saudaranya, Musa, mengikutinya, dan mempelajari hukum-hukum agama darinya. Ia menanyakan berbagai masalah kepada Musa, mendengar jawaban-jawabannya, dan meriwayatkan jawaban-jawaban itu.*
Nashr bin Qabus menuturkan, “Aku mendatangi Imam Shadiq as dan bertanya, “Siapakah imam sepeninggalmu?” Beliau as menjawab, “Abu Hasan Musa bin Ja’far, putraku, adalah imam sepeninggalku.”*
Sulaiman bin Khalid berkata, “Suatu hari aku berada di tempat Imam Shadiq as. Beliau mendatangkan Abu Hasan (Musa), putranya, dan berkata kepada kami, “Sepeninggalku, merujuklah kalian kepadanya. Demi Allah! Ia adalah sahabat kalian.”*
Daud bin Katsir mengatakan, “Aku bertanya kepada Imam Shadiq as, “Kukorbankan diriku untukmu. Jika terjadi sesuatu padamu, kepada siapakah aku harus merujuk?” Beliau as menjawab, “Kepada putraku, Musa.” Setelah wafatnya, aku tidak ragu sesaatpun terhadap imamah Musa.”*
Muhammad bin Sinan dan Abu Ali Zarrad mengutip dari Ibrahim Kurkhi yang berkata, “Aku berada di tempat Imam Shadiq as ketika Abu Hasan Musa bin Ja’far as, yang saat itu masih kanak-kanak, datang. Aku bangun dan mencium wajahnya lalu duduk kembali. Kemudian Imam Shadiq as berkata, “Ia adalah sahabat kalian sepeninggalku.”*
Hal-hal yang telah disebutkan tadi adalah beberapa contoh dari banyak nash yang menjelaskan imamah Musa bin Ja’far as, yang sampai kepada kita. Di samping itu, telah dinukil pula berbagai mukjizat dan karomah Imam Musa, yang sengaja tidak disebutkan agar menyingkat pembahasan.

Manaqib dan Keutamaan

Imam Musa bin Ja’far as, seperti juga ayahnya, adalah sosok manusia sempurna dan yang paling menonjol di zamannya dalam segala karakter dan kesempurnaan manusiawi. Sejumlah besar ulama memuji kepribadiannya yang agung.
Hal-hal di bawah ini dikutip sebagai contoh.
Ibnu Shibagh al-Maliki menulis, “Musa al-Kazhim adalah sosok imam besar, terkemuka, dan tiada duanya. Ia adalah hujjah dan ulama besar. Ia melalui malam hari dengan shalat dan tahajjud sementara di siang hari, ia berpuasa. Ia diberi julukan “al-Kazhim” karena sering memaafkan orang-orang yang berbuat salah. Di kalangan penduduk Irak, ia dikenal dengan julukan “Babul Hawaij” (pintu berbagai hajat).*
Ahmad bin Hajar al-Haitsami menulis, “Musa al-Kazhim mewarisi ayahnya dari segi ilmu, makrifat, kesempurnaan, dan keutamaan. Ia diberi julukan “al-Kazhim” karena ketabahan dan kesabarannya. Di kalangan penduduk Irak, ia dikenal dengan julukan “Babul Hawaij”. Ia adalah orang yang paling taat beribadah, paling berilmu, dan paling pemaaf di zamannya.” *
Ibnu Shibagh al-Maliki menulis, “Musa al-Kazhim adalah orang yang paling taat beribadah, paling berilmu, paling dermawan, dan pemurah di kalangan manusia di zamannya. Beliau memperhatikan para fakir dan miskin di Madinah dan secara rutin, mengirimkan uang dinar dan dirham ke rumah-rumah mereka. Sementara itu, para fakir dan miskin tersebut tidak mengetahui dari mana uang berasal. Setelah wafatnya, mereka baru memahami asal sedekah-sedekah itu.”*
Ibnu Hajar Asqalani menulis tentang diri Imam Musa, “Manaqib dan keutamaan-keutamaannya sangat banyak.”*
Khatib Baghdadi meriwayatkan ungkapan Abdurrahman bin Shalih Azdi yang mengatakan, “Pada tahun keberangkatan haji Harun al-Rasyid, ia beserta rombongan Quraisy dan para pemuka kabilah memasuki haram suci Rasulullah saw untuk berziarah ke makam suci Nabi saw. Musa bin Ja’far as tampak hadir di sana. Tatkala tiba ke makam suci Nabi saw, Harun al-Rasyid berkata, “Salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah, wahai putra paman!” Dengan ungkapan “putra paman”, Harun al-Rasyid bermaksud membanggakan diri di hadapan orang-orang sekitarnya. Setelah dirinya, Musa bin Ja’far as mendekati makam dan berkata, “Salam sejahtera bagimu wahai ayah!” Spontan, wajah Harun al-Rasyid berubah mendengar ungkapan itu dan berkata, “Hai Abu Hasan! Kebanggaan yang sebenarnya adalah apa yang telah kaukatakan.”*
Ibnu Syahr Asyub menulis, “Musa bin Ja’far as adalah orang yang paling menonjol di zamannya dalam ilmu fikih dan hafalan al-Quran. Ia membaca ayat-ayat suci al-Quran dengan suara yang indah. Tatkala membaca al-Quran, ia menangis dan orang-orang yang mendengarkannya pun ikut menangis. Derajat dan kedudukannya lebih tinggi daripada selainnya. Tangannya lebih terbuka, lidahnya lebih fasih, dan hatinya lebih berani. Kemuliaan wilayah ‘kepemimpinan’ dikhususkan baginya untuk meraih warisan kenabian dan mencapai kedudukan khilafah.”*
Syaikh Mufid menulis, “Abu Hasan Musa as adalah manusia yang paling taat beribadah, paling paham mengenai fikih, paling dermawan, dan paling mulia di antara manusia.”*
Ali bin Abi al-Fath Irbily meriwayatkan dari Kamaluddin yang menuturkan tentang Musa bin Ja’far as sebagai berikut, “Ia adalah seorang imam besar yang berkedudukan tinggi serta banyak melakukan tahajud. Ia bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah Ta’ala. Tampak jelas karomah-karomah-nya dan ibadah-ibadahnya. Ia berdisiplin dalam melaksanakan ibadah-ibadah fardhu. Malam hari ia lewati dalam keadaan sujud dan qiyam sementara siang hari dengan berpuasa dan bersedekah. Ia diberi julukan “al-Kazhim” karena sifat khalim dan ketabahannya. Ia selalu membalas orang-orang yang berlaku buruk kepadanya dengan kebaikan dan memaafkan dosa-dosa mereka. Ia dikenal dengan julukan “Abdus Shalih” karena banyak beribadah. Di Irak, ia tersohor dengan sebutan “Babul Hawaij”. Karomah-nya sangat banyak dan menjadi bukti kedudukannya di sisi Allah swt.” *
Al-Makmun (putra Harun al-Rasyid) mengatakan, “Aku bertanya kepada ayahku, “Wahai Amirul Mukminin, siapakah orang yang begitu engkau hormati, yakni tatkala ia datang, engkau bangkit dari tempatmu untuk menyambutnya, mendudukkannya di tempatmu, dan saat ia keluar, kauperintahkan kami untuk mengiringinya?” Ayahku menjawab, “Ia adalah imam manusia, hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya dan khalifah Allah.” Aku berkata: “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah sifat-sifat ini milikmu dan ada padamu?” Ia menjawab, “Aku menjadi khalifah secara lahir dan dengan paksaan serta kekuatan tetapi Musa bin Ja’far adalah imam yang sebenarnya. Demi Allah! Aku bersumpah bahwa ia lebih layak daripadaku dan semua orang dalam memegang maqom kenabian. Demi Allah! Andaikan engkau pun berseteru denganku mengenai khilafah, akan kupisahkan kepalamu dari tubuhmu (karena sesungguhnya kerajaan itu mandul)”*

Ilmu dan Pengetahuan

Sebelumnya telah dikatakan dan terbukti bahwa pengenalan terhadap segala persoalan yang berkaitan dengan agama adalah di antara syarat-syarat terpenting imamah dan semua imam memiliki keistimewaan ini. Musa bin Ja’far as pun memilikinya. Pada zamannya, ia dikenal karena pengetahuan dan pemahamannya serta diakui kedudukan keilmuannya. Ia pun dianggap sebagai manusia yang paling faqih di zamannya, sebagaimana telah disinggung sebelumnya.
Ibnu Shibagh al-Maliki menulis, “Musa al-Kazhim adalah manusia yang paling taat beribadah, paling berilmu, paling dermawan, dan paling mulia di zamannya.”*
Al-Makmun menuturkan, “Aku bertanya kepada ayahku, “Siapakah lelaki yang sangat engkau hormati?” Si ayah menjawab, “Dia adalah Musa bin Ja’far, pewaris ilmu para nabi. Jika kau menghendaki ilmu yang benar, itu ada padanya.”*
Untuk mengenali lebih jauh tentang kedudukan ilmu Imam Kazhim as, kita dapat merujuk kepada beragam hadis yang datang dari beliau dan termaktub dalam sejumlah kitab hadis. Demikian pula, kita dapat merujuk kepada berbagai dialog dan argumen yang dilontarkannya kepada para penguasa di zamannya, ulama-ulama Ahlus Sunnah, dan yang lainnya. Hal ini dapat memberikan manfaat.
Salah seorang analis (muhaqqiq) mengumpulkan hadis-hadis beliau dalam berbagai bab seperti akidah, ma’arif, teologi (kalam), fikih, tafsir, akhlak, doa, sejarah, dialog, dan bahkan pengobatan serta khasiat makanan, buah dan sayur-sayuran. Dalam kitab-kitab tersebut, para perawi hadis mengkaji hadis Imam Musa as. Mereka mencapai jumlah enam ratus tiga puluh delapan orang perawi.*

Ibadah dan Penghambaan

Imam Kazhim as seperti juga ayahnya adalah manusia yang paling abid ‘ahli ibadah’ di zamannya dan senantiasa mengingat Allah. Dalam keadaan ibadah, shalat, zikir, membaca al-Quran, ia tunduk dan khusyuk di hadapan Pencipta alam semesta. Bahkan, karena memiliki pengetahuan yang dalam tentang tauhid, kekuasaan, dan keagungan Allah Ta’ala, semua perbuatan dan perkara-perkara kehidupannya ia lakukan hanya untuk meraih ridha Allah swt. Sebagai contoh, akan dikutip sekelumit ibadah beliau yang termaktub dalam sejarah dan hadis.
Hasan bin Muhammad bin Yahya Alawy meriwayatkan dari kakeknya sebagai berikut, “Musa bin Ja’far diberi julukan “Abdus Shalih” karena kesungguhannya dalam beribadah.”
Sebagian sahabat menukil, “Imam Musa as berada di dalam masjid Rasulullah saw sedang bersujud dengan sujud yang panjang sembari mengucapkan, “Padaku terdapat dosa yang besar sedangkan kebaikan ada pada-Mu, wahai Pemilik Ketakwaan dan Ampunan!”*
Yahya bin Hasan mengatakan, “Musa bin Ja’far dipanggil dengan sebutan “Abdus Shalih” karena kesungguhannya dalam beribadah.”*
Ibnu Shibagh menulis, “Musa bin Ja’far adalah manusia yang paling abid, paling berilmu, paling dermawan, dan paling mulia di zamannya.”*
Ibnu Hajar menulis, “Musa bin Ja’far adalah manusia yang paling abid, paling alim, dan paling dermawan di zamannya.”*
Ibnu Jauzi al-Hanafi menulis, “Musa Kazhim as dijuluki “Abdus Shalih” karena kesungguhannya dalam ibadah dan shalat malam.”*
Al-Ya’kuby menulis, “Musa bin Ja’far as lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah dan menukil hadis dari ayahnya dibanding semua orang.”*
Syaikh Mufid menulis, “Abu Hasan Musa as adalah manusia yang paling abid, paling fakih, paling dermawan, dan paling mulia di zamannya. Diriwayatkan bahwa dia menyambung shalat malamnya dengan shalat subuh lalu membaca doa-doa setelah shalat hingga matahari terbit. Kemudian ia bersujud, membaca zikir, dan tidak mengangkat kepalanya dari sujud hingga mendekati waktu zhuhur. Ia seringkali mengulang doa berikut ini, “Ya Allah! Aku memohon kepada-Mu kenyamanan saat ajal menjemput dan ampunan saat perhitungan (hisab).”*
Doa berikut ini juga termasuk doa-doa Imam as, “Sungguh besar dosa hambamu.” Imam as menangis tersedu-sedu karena takut kepada Allah hingga air matanya membasahi jenggot di wajahnya.”*
Saudara perempuan Sanadi bin Syahik yang memantau sel penjara Musa bin Ja’far bercerita tentang Imam as, “Kebiasaan Musa bin Ja’far as di penjara adalah: setelah mendirikan shalat isya, ia disibukkan dengan memuji, berzikir, dan berdoa hingga selepas separuh malam dan kemudian melakukan shalat malam hingga azan subuh. Ia mendirikan shalat subuh dan berzikir hingga matahari terbit. Setelah itu, ia beristirahat sejenak hingga matahari meninggi. Kemudian ia menyikat gigi (bersiwak) dan menyantap makanan lalu tidur hingga mendekati zhuhur. Tatkala bangun tidur, ia bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan shalat zhuhur. Kemudian melakukan shalat nafilah hingga waktu fadhilah ashar dan selepas shalat ashar, ia duduk menghadap kiblat dan berzikir hingga maghrib. Setelah shalat maghrib, ia melakukan shalat nafilah hingga saat shalat isya. Inilah kebiasaan rutin beliau.”*
Saudara perempuan Sanadi yang menyaksikan Imam seperti itu berkata, “Orang-orang yang berbuat jahat terhadap hamba yang saleh ini akan mengalami malapetaka.”*
Ahmad bin Abdullah mengutip dari ayahnya yang bercerita, “Suatu hari aku mendatangi Fadhl bin Rabi’ yang tengah duduk di atas atap rumahnya. Dia mengatakan kepadaku, “Tengoklah rumah itu dari jendela ini! Apa yang kau lihat?” Aku menjawab, “Aku melihat selembar pakaian yang dibentangkan di lantai tanah.” Ia berkata, “Lihatlah dengan saksama!” Aku mengatakan, “Sepertinya seseorang yang tengah bersujud.” Ia berkata, “Apakah kau mengenalnya? Ia adalah Musa bin Ja’far. Aku memperhatikannya siang dan malam dan aku tidak menyaksikannya melainkan dalam keadaan seperti itu. Selepas shalat subuh, ia melakukan ta’qib (zikir dan doa selepas shalat) hingga matahari terbit. Kemudian ia bersujud hingga mendekati zhuhur. Seseorang diperintahkan mengawasinya dan memberitahukan kepadanya waktu shalat. Ketika diberitahukan kepadanya waktu shalat, ia mengangkat kepalanya dan menunaikan shalat tanpa memperbaharui wudhu. Inilah kebiasaan rutinnya. Tatkala selesai dari shalat isya, ia menyantap makanan. Kemudian ia memperbaharui wudhu dan bersujud. Ia mendirikan shalat dari pertengahan malam hingga terbit fajar (subuh).”
Sebagian orang yang menyaksikan Imam Musa berkata, “Kami mendengar dia mengucapkan dalam doanya, “Ya Allah! Sesungguhnya aku telah memohon kepada-Mu agar Engkau kosongkan (waktuku) hanya untuk beribadah kepada-Mu dan Engkau telah melaksanakannya. Maka, hanya bagi-Mu segala pujian.”*
Ibrahim bin Abi al-Bilad mengatakan, “Abu Hasan (Musa) as berkata, “Aku ber-istighfar lima ribu kali dalam sehari.”*

Infak dan Budi Luhur

Syaikh Mufid menulis, “Musa bin Ja’far as bersilaturahmi kepada para kerabatnya. Ia memantau kaum fakir Madinah. Malam harinya, ia membawakan mereka uang dinar dan dirham, tepung dan kurma sementara mereka tidak mengetahui dari mana barang-barang itu didatangkan untuk mereka.”*
Muhammad bin Abdullah Bakri menuturkan, “Aku pergi ke Madinah untuk berhutang sejumlah uang. Akan tetapi, aku tidak menemukan seorang pun yang memenuhi kebutuhanku. Kemudian aku berkata kepada diriku, “Lebih baik aku datang ke Imam Abu Hasan as, mungkin ia akan menyelesaikan kesulitanku. Imam as berada di tanah pertaniannya, di luar Madinah. Aku mendatanginya dan Imam dengan pembantunya menghampiriku. Pembantu itu membawakan sebuah bejana berwarna-warni yang di dalamnya terdapat potongan-potongan daging yang telah masak dan tidak memiliki sesuatu yang lain. Musa bin Ja’far menyantap potongan daging tersebut dan aku pun ikut makan bersamanya. Setelah itu, ia menanyakan keperluanku. Aku menceritakan kepadanya apa saja keperluanku. Lalu, Imam beranjak pergi meninggalkanku dan tak lama kemudian kembali. Mula-mula ia menyuruh pembantunya menyingkir. Selepas itu, ia menyodorkan kepadaku sebuah kantong berisi uang tiga ratus dinar. Kemudian ia bangkit dan pergi. Aku membawa uang tersebut, menaiki kendaraan, lalu pulang.”*
Isa bin Muhammad, seorang lelaki tua berusia sembilan puluh tahun, mengatakan, “Aku menggarap sebidang tanah pertanian di sekitar sumur “Ummu Izham” dengan menanam semangka dan ketimun. Tatkala telah berbuah dan mendekati panen, tiba-tiba tanamanku diserang oleh hama yang memakan semuanya, padahal aku berhutang seratus dua puluh dinar ditambah dengan pernyewaan dua unta. Aku mengalami kerugian. Aku duduk termenung memikirkan kerugian yang besar ini. Tiba-tiba Musa bin Ja’far as datang menghampiriku dan menanyakan keadaanku. Aku menceritakan kejadiannya. Imam as berkata, “Berapa besar hutangmu?” Aku menjawab, “Seratus dua puluh dinar ditambah dengan pernyewaan dua unta.”
Imam as berkata kepada pegawainya, “Berikan seratus lima puluh dinar kepada Abu Ghaits!” Kemudian ia berkata, “Tambahan tiga puluh dinar adalah keuntunganmu ditambah dengan dua unta.” Aku berkata, “Wahai putra Rasulullah, doakan aku agar Allah memberikan keberkahan!” Setelah itu, beliau mendoakanku.”*
Sekumpulan ulama mengatakan, “Pemberian-pemberian Musa bin Ja’far as berkisar antara dua ratus hingga tiga ratus dinar, yang kantong uang pemberiannya telah dikenali.”*
Al-Manshur meminta Musa bin Ja’far as yang sedang duduk di hari raya Nuruz (tahun baru kalender Persia, pent) untuk menghadiri undangannya. Imam berkata, “Aku mencari-cari dalam hadis-hadis kakekku Rasulullah saw tetapi tidak kutemukan tentang hari raya Nuruz. Ia termasuk salah satu upacara orang-orang Persia yang telah dihapus oleh Islam dan aku tidak ingin menghidupkannya.” Al-Manshur berkata, “Peringatan hari raya Nuruz penting bagi siasat para prajurit. Demi Allah! Terimalah dan duduklah!” Imam menerima permintaan al-Manshur dan duduk untuk menerima ucapan selamat. Para komandan, panglima, dan pimpinan prajurit datang menemuinya. Mereka memberikan ucapan selamat dan menyodorkan hadiah-hadiah. Pembantu al-Manshur pun hadir dan menjaga hadiah-hadiah itu. Seorang lelaki tua datang dan berkata, “Wahai putra Fatimah, putri Nabi saw, aku adalah seorang fakir yang tidak memiliki harta untuk kuhadiahkan kepadamu. Akan tetapi, kakekku telah melantunkan tiga bait syair tentang musibah kakekmu Al-Husain, yang akan kubacakan di hadapanmu.” Kemudian ia membacakan syair tersebut. Imam Musa bin Ja’far as berkata, “Aku menerima hadiahmu.” Lalu, kepada pembantu al-Manshur, Imam mengatakan, “Pergilah kepada Amirul Mukminin dan laporkan bermacan-macam hadiah serta katakan apa yang mesti kami perbuat terhadap hadiah-hadiah itu?”
Pembantu itu pergi menuju al-Manshur lalu kembali dan mengatakan, “Amirul Mukminin mengatakan, “Semua harta benda tersebut kuhadiahkan kepadamu. Pakailah menurut apa yang kauanggap baik!” Musa bin Ja’far berkata kepada lelaki tua itu, “Aku hadiahkan seluruh harta benda ini untukmu.”*
Para ulama menulis, “Seorang lelaki dari keturunan Umar bin Khattab tinggal di Madinah. Ia selalu mengganggu Musa bin Ja’far as dan mengolok-olok Ali bin Abi Thalib as. Sebagian sahabat Imam mengatakan, “Ijinkan kami membunuhnya!” Akan tetapi, Imam melarang mereka melakukan tindakan itu. Suatu hari Imam bertanya-tanya tentang keadaan lelaki itu. Orang-orang berkata, “Ia tengah bekerja di kebunnya.”
Imam mengendarai keledai dan bergerak menuju kebun tersebut. Lelaki itu terkejut melihat kedatangan Musa bin Ja’far ke kebunnya. Imam turun (dari keledai) dan dengan tersenyum seraya berkelakar, ia bertanya, “Berapa biaya yang engkau keluarkan untuk pertanianmu?” Lelaki itu menjawab, “Seratus dinar.” “Berapa hasil yang engkau targetkan?” ujar Imam. Lelaki itu menjawab, “Aku tidak mengetahui hal yang gaib.”
Imam berkata, “Maksudku, berapa keuntungan yang engkau impikan?” Lelaki itu menukas, “Aku berharap hasilnya adalah dua ratus dinar.” Imam memberinya tiga ratus dinar dan berkata, “Hasil pertaniannya juga milikmu.” Lelaki itu bangkit dan mencium dahi Imam. Imam Musa bin Ja’far as kembali ke Madinah. Pada hari yang lain, ia pergi menuju masjid dan menyaksikan lelaki itu berada di masjid. Ketika matanya tertuju ke arah Musa bin Ja’far, ia berkata, “Allah lebih mengetahui kepada siapa menetapkan risalah-Nya.” Dua kawan lelaki itu yang menyaksikan kelakuan baru dari temannya langsung memprotesnya. Ia beradu argumen dengan mereka dan menceritakan kemuliaan Musa bin Ja’far as. Maka, setelah hari itu, ia selalu menceritakan dan memuliakan Imam. Kepada para sahabatnya, yang sebelumnya mengusulkan pembunuhan lelaki itu, Imam Musa bin Ja’far as berkata, “Manakah yang lebih baik dalam kemaslahatan lelaki ini, usul kalian ataukah tindakanku?”*
Ma’tab menuturkan, “Tatkala tiba musim buah, Imam Musa bin Ja’far as berkata kepada kami, “Juallah buah-buah itu di pasar dan belilah keperluan-keperluan kami setiap hari dari pasar, seperti yang dilakukan seluruh Muslim!”*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s