IMAM KESEPULUH: IMAM HADI AS 


Imam Ali Naqi lahir di Shirya (dekat Madinah) pada pertengahan bulan Dzulhijjah, tahun 212 Hijriah. Ayahnya bernama Imam Jawad dan nama ibunya adalah Sumanah. Kunyah-nya adalah Abu Hasan dan laqab-laqab-nya adalah Naqi, Hadim, Alim, Faqih, Amin, Muttamin, Thayyib, Mutawakkil, Askari, dan Najib. Imam Hadi juga dipanggil dengan Abu Hasan Tsalis.
Menurut beberapa perkataan, Imam Hadi meninggal pada tanggal 3 bulan Rajab, tahun 254 Hijriah di kota Samira dan dimakamkan di kota yang sama. Ia meninggal dalam usia empat puluh dua tahun. Setidaknya ia hidup bersama ayahnya selama delapan tahun dan masa imamah-nya adalah tiga puluh tiga tahun.*

Nash-Nash Imamah
Sebelumnya telah disebutkan bahwa untuk membuktikan imamah setiap imam, dapatlah digunakan berbagai burhan dan dalil yang salah satunya adalah nash yang dikeluarkan oleh imam sebelumnya bagi imam berikutnya. Kami, di sini, merasa cukup dengan menyebutkan sebagian dari nash tersebut.
Ismail bin Mihran berkata, “Pada tahap pertama, ketika Abu Ja’far dipanggil ke Baghdad, aku berkata kepadanya, “Aku korbankan diriku bagimu! Kami mencemaskan perjalananmu ini? Siapakah imam setelahmu?” Imam Jawad memperhatikanku dan berkata, “Apa yang engkau takutkan tidak akan terjadi pada tahun ini.”
Saat Mu’tashim memanggil Imam Jawad ke Baghdad, aku menjumpai Imam dan berkata, “Anda akan dibawa ke Baghdad.

Siapakah imam setelahmu nanti?” Imam menangis sehingga jenggotnya basah dan berkata, “Di masa ini, kecemasan akan hilang. Urusan imamah sepeninggalku akan berpindah kepada putraku.” *
Khairani menukil dari ayahnya yang berkata, “Untuk menjalankan tugas yang kumiliki, aku senantiasa berada di pintu Abu Ja’far. Ahmad bin Muhammad bin Isa Asyari datang setiap sahur untuk mengetahui kondisi sakitnya Abu Ja’far. Rencananya ialah ketika utusan Abu Ja’far datang ke sisi ayahku, Ahmad bin Isa berdiri sehingga dua orang itu berbicara empat mata.”
Khairani berkata lagi, “Pada salah satu malam ketika utusan Abu Ja’far menemui ayahku, aku dan Ahmad bin Muhammad keluar dan ayahku berbicara empat mata dengan utusan Abu Ja’far. Ahmad berputar di situ dan mendengarkan pembicaraan mereka. Utusan Imam berkata kepada ayahku, “Maula-mu menyampaikan salam dan berkata, “Kematianku telah dekat dan urusan imamah akan berpindah kepada putraku, Ali. Kewajiban yang kalian miliki terhadapku, sepeninggalku nanti, agar dilaksanakan terhadap putraku.”
Utusan Imam Jawad setelah menyampaikan pesan ini keluar. Ahmad bin Isa kembali dan berkata kepada ayahku, “Apakah yang disampaikan oleh utusan Imam?” Ahmad berkata, “Kebaikan.” Ahmad berkata, “Aku telah mendengar semuanya.” Lalu ia menjelaskan apa yang telah didengarnya. Ayahku berkata, “Engkau telah melakukan hal yang haram! Tidakkah engkau tahu bahwa Allah swt di dalam al-Quran telah berfirman, Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.[1] Kini, engkau telah mendengar pesan Imam. Maka, hafalkanlah dengan baik karena suatu hari mungkin kami akan memerlukannya. Namun, hingga hari itu, jangan engkau buka kepada orang lain!”
Khairani berkata, “Pagi hari itu, ayahku menulis pesan Abu Ja’far di dalam sepuluh halaman dan mengamanatkan setiap lembarnya kepada para sahabatnya. Ia berkata, “Jika kematianku telah tiba, bukalah surat ini dan laksanakan sesuai dengan yang tertulis di sini!”
Ayahku berkata, “Ketika Abu Ja’far meninggal dunia, aku tidak keluar dari rumahku sehingga aku mendengar para pembesar thaifah ‘kabilah’ berkumpul di sisi Muhammad bin Faraj untuk membahas tentang imamah. Muhammad bin Faraj memberitahukan persoalan ini kepadaku dan memintaku agar segera pergi menemuinya. Aku menaiki kendaraan dan pergi ke sisi Faraj. Aku melihat sekelompok

pembesar duduk di sampingnya dan mendiskusikan sarana untuk menjalin hubungan dengan Imam. Sebagian besar dari mereka meragukan tentang imamah dan aku mengatakan kepada orang yang pernah dititipi buku pesan Imam, “Datangkanlah surat-surat itu!” Mereka membawa surat-surat tersebut dan aku mengatakan kepada hadirin, “Ini adalah pesan yang Abu Ja’far perintahkan kepadaku untuk menyampaikannya kepada kalian.” Sebagian dari mereka berkata, “Alangkah baiknya seandainya ada satu orang lagi yang menyaksikan perkara ini.” Aku mengatakan, “Alhamdulillah Allah swt telah menyediakan sarana untuk itu. Abu Ja’far Asy’ari juga mendengar pesan ini dan bersaksi untuk ini. Tanyakanlah kepadanya!” Hadirin lantas bertanya kepada Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad dalam hal ini. Namun, ia tidak bersedia memberikan kesaksian. Maka, aku pun mengajaknya ber-mubahalah sehingga ia pun takut dan berkata, “Iya memang. Aku juga mendengar pesan ini. Namun, persoalan ini memiliki kemuliaan dan nilai yang tinggi bagi seorang lelaki Arab. Karena ditantang mubahalah, aku melihat tidak baik untuk menyembunyikannya.” Setelah ia memberikan kesaksian, hadirin berpasrah kepada Abu Hasan.”
Setelah menukil persoalan ini, Syaikh Mufid menulis, “Banyak sekali riwayat tentang bab ini. Apabila aku menyebutkan semuanya, kitabnya akan panjang. Ijma’ para sahabat tentang imamah Abu Hasan ditambah dengan tidak adanya orang lain yang mengklaim diri sebagai imam di masa itu membuat kami tidak perlu lagi menyebutkan riwayat-riwayat dan nash-nash tentang imamah-nya.” *
Shaqar bin Abi Dalaf mengatakan, “Aku mendengar dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali yang berkata, “Imam setelahku adalah putraku, Ali. Urusannya adalah urusanku dan ucapannya adalah ucapanku serta ketaatan kepadanya adalah ketaatan kepadaku. Imamah setelahnya akan sampai kepada putranya, Hasan.” *
Muhammad bin Usman Kufi berkata, “Aku mengatakan kepada Abu Ja’far, “Apabila (semoga Allah menjauhkannya) terjadi sesuatu terhadap Anda, kepada siapa kami merujuk?” Beliau berkata, “Merujuklah kepada putraku, Abu Hasan.” Lantas ia berkata, “Tidak lama lagi akan terjadi waktu jeda.” Aku berkata, “Di masa itu, kemana kami harus pergi?” Beliau berkata, “Ke Madinah.” Aku mengatakan, “Madinah yang mana?” Beliau menjelaskan, “Madinah ar-Rasul.” *

Umayyah bin Ali Qaisi berkata, “Aku berkata kepada Abu Ja’far Tsani, “Siapakah pengganti Anda?” Ia berkata, “Putraku, Ali.” Kemudian ia berkata, “Tidak lama lagi akan tiba masa kebingungan.” *
Muhammad bin Isamil bin Buzai’ berkata, “Abu Ja’far berkata, “Urusan imamah akan sampai kepada putraku, Abu Hasan, sementara ia berusia tujuh tahun.” Kemudian beliau berkata, “Ya! Lebih kurang tujuh tahun, sebagaimana Isa as juga seperti itu.” *
Harun bin Fadzl berkata, “Aku menjumpai Abu Hasan pada hari ketika ayahnya meninggal dunia. Ia berkata, ” انا لله و انا اليه ر اجعون ayahku Abu Ja’far meninggal dunia.” Ditanyakan, “Dari mana engkau tahu bahwa ayahmu telah wafat?” Beliau berkata, “Telah kurasakan keadaan khudu’ di dalam jiwaku terhadap Allah swt yang tiada terjadi sebelumnya seperti ini.” *
Sekelompok orang Isfahan termasuk Abu Abbas Ahmad bin Nadher dan Abu Ja’far Muhammad bin Alawiyah mengatakan, “Di Isfahan, seorang lelaki Syiah yang bernama Abdurrahman ditanya, “Dengan alasan apa engkau menerima imamah Ali Naqi di antara semua manusia?” Ia berkata, “Aku melihat sesuatu dari Abu Hasan yang menyebabkan keimananku. Aku adalah lelaki miskin tetapi berani berbicara. Penduduk Isfahan pada suatu tahun bersama dengan sejumlah orang lainnya mengutusku menjumpai Khalifah Mutawakkil untuk menuntut keadilan. Suatu hari, aku berada di rumah Mutawakkil yang memerintahkan agar menghadirkan Ali bin Muhammad bin Ridha. Aku bertanya kepada salah seorang hadirin, “Siapakah orang yang oleh Mutawwakil dipanggil itu?” Aku membayangkan bahwa pastilah Mutawakkil berniat untuk membunuhnya. Ia berkata, “Lelaki ini adalah Alawi dan rafidah yang masyarakat meyakini imamah-nya.” Aku berkata dalam diriku sendiri, “Aku akan tinggal di sini sampai aku mengetahui siapakah lelaki yang dipanggil itu.”
Tak lama kemudian, Ali Naqi yang menaiki kuda datang. Masyarakat membuka jalan untuknya dan memperhatikannya dengan saksama. Ketika aku melihatnya, kecintaan kepadanya tertanam dalam diriku dan aku berdoa semoga Allah menjauhkan keburukan Mutawakkil darinya. Ketika tiba di depanku, ia melihatku dan berkata, “Doamu dikabulkan dan umurmu panjang sehingga engkau akan memiliki banyak harta dan anak.” Tubuhku gemetar karena mendengar berita yang tidak terduga ini tetapi aku tidak mengatakan sesuatu apa pun kepada orang-orang yang bersama denganku.

Setelah itu, aku pergi ke Isfahan. Banyak sekali harta yang kuperoleh. Di rumahku, aku memiliki beribu-ribu dirham. Selain dari harta yang kumiliki di luar rumah, Allah swt memberikanku sepuluh anak. Kini, usiaku sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Aku meyakini imamah seorang lelaki yang mengetahui isi hatiku dan doanya untukku telah terkabulkan.” *

Kemuliaan dan Keutamaan

 Syaikh Mufid menulis, “Setelah Abu Ja’far, putranya yang bernama Abu Hasan Ali bin Muhammad menjadi imam karena semua sifat imam berkumpul pada dirinya dan keutamaannya adalah lebih unggul daripada yang lainnya. Selain dia, tidak ada orang lain yang layak menduduki kursi imamah. Ia ditunjuk sebagai imam oleh ayahnya.” *
Ibn Syaher Osyub, dalam menyifati Imam Hadi, menulis, “Wajahnya lebih menarik daripada semua orang dan ucapannya lebih jujur daripada yang lainnya. Kesempurnaan dan ketampanannya mengungguli yang lainnya. Ketika ia berdiam diri, kewibawaan dan keagungannya semakin tinggi. Ketika ia berbicara, cahaya wajahnya semakin bertambah. Dia berasal dari keluarga risalah, imamah, sumber khilafah dan washi. Dialah cabang dari pohon keagungan nubuwah yang masa pemberdayaannya dari masa pengambilannya tidak berselang lama. Buah dari buah risalah yang masa pemetikannya dengan masa pemilihannya telah dekat.” *
Abu Musa mengatakan, “Aku berkata kepada Imam Hadi, “Ajarkanlah kepadaku doa khusus yang akan kubaca untuk menyelesaikan masalahku.” Beliau berkata, “Seringkali aku membaca doa ini dan aku meminta kepada Allah agar pembaca doa tidak kembali dalam keadaan putus asa dari hadirat Allah.
“Wahai bekal (persiapan)ku di hari perhitungan, wahai harapan dan peganganku, wahai tempat perlindunga dan tumpuanku, wahai yang Mahatunggal, wahai yang Maha Esa, wahai katakanlah bahwa Dialah Allah yang Maha Esa dan perjalananku menuju pada-Mu ya Allah! Dengan kebenaran orang yang telah Engkau ciptakan dari ciptaan-Mu dan Engkau belum menjadikan seorang pun dalam ciptaan­ Mu yang sepadan dengan mereka yang Engkau curahkan shalawat atas mereka dan aku ridha Engkau memperlakukan aku begini dan begitu. ”

Sa’id Hajib berkata, “Atas perintah Mutawakkil dan bersama dengan sejumlah petugas pada malam hari, kami melakukan serangan terhadap Abu Hasan dengan masuk melalui dinding. Ketika itu, Imam yang mengenakan topi di kepalanya dan pakaian wol sedang mendirikan shalat dan tampak tiada ketakutan ketika ia melihat kami masuk.” *
Ibn Hajar berkata, “Abu Hasan mewarisi ilmu dan kedermawanan ayahnya.”* Ibn Shabbagh Maliki menukil dari sejumlah ahli ilmu yang berkata, “Keutamaan Abu Hasan bin Muhammad Hadi telah mendirikan kemahnya di atas bumi kemuliaan dan menggantungkan tali-tali kemah itu ke bintang-bintang di langit. Setiap keutamaan yang disebutkan tentang diri Imam menjadi penghias dan pada setiap kemuliaan yang disebutkan, dialah yang menjadi keutamaannya. Pada setiap pujian yang diutarakan, perincian dan ringkasannya berada di sisinya dan setiap keagungan yang disebutkan tampak pada kepribadiannya. Kelayakannya dari segi kekhususan kebaikan dan keagungan serta kemuliaan telah tertanam di dalam wujud mutiara dirinya. Allah swt menjaganya dari segala jenis kekurangan sebagaimana penggembala unta memelihara anak-anaknya dari berbagai peristiwa yang berbahaya. Jiwa beliau suci dan terdidik serta akhlak beliau baik dan perilakunya terpuji sedangkan sifatnya penuh dengan keutamaan.” *
Sulaiman bin Ibrahim Qanduzi Hanafi menukil dari kitab Fashlul Khitab bahwa Muhammad Khajah Parsai menulis, “Abu Hasan Ali Hadi merupakan seorang lelaki ahli ibadah dan fikih serta seorang imam.”
Telah dikatakan kepada Mutawakkil bahwa di rumah Abu Hasan telah disimpan senjata dan ia memiliki niat untuk menjadi khalifah. Kemudian Mutawakkil memerintahkan sejumlah orang untuk menyerang rumah Abu Hasan pada malam hari dan mereka pun masuk ke rumah Imam tanpa pemberitahuan. Mereka mendapatinya sedang mendirikan shalat dengan pakaian dari wol (kulit kambing) dan topi dari kambing gibas dalam keadaan menghadap kiblat dan duduk di atas tanah. Permadaninya terdiri dari kerikil dan pasir. Lalu ia membaca al-Quran dengan meresapi maknanya yang terdiri dari berita gembira tentang surga dan ancaman neraka. Petugas Mutawakkil membawa Imam dalam keadaan seperti itu ke hadapan Mutawakkil. Ketika melihat Imam seperti itu, Mutawakkil menampakkan hormat kepadanya dan mendudukkanya di sisinya. Imam berbicara dengannya dan Mutawakkil menangis sambil berkata, “Wahai Abu Hasan! Apakah engkau mempunyai hutang?” Imam berkata, “Ya! Aku berhutang 400 dinar.” Mutawakkil memerintahkan agar hutang beliau ditunaikan dan dengan penghormatan Imam diantarkan ke rumahnya kembali.
Muhammad bin Ahmad menukil dari paman ayahnya yang berkata, “Suatu hari, aku menjumpai Imam Hadi dan berkata, “Mutawakkil telah memutus uang tunjanganku karena memahami bahwa aku adalah pecintamu. Alangkah baik kalau Anda mengingatkannya tentang hal ini.” Imam berkata, “Insya Allah, urusannya akan beres.”
Pada malam hari, ketika aku berada di rumah, utusan Mutawakkil mengetuk pintu rumahku dan berkata, “Mutawakkil memanggilmu.” Ketika aku pergi menghadap Mutawakkil, ia berkata, “Wahai Abu Musa! Kesibukan telah membuatku melupakanmu. Berapa banyak uang tunjanganmu!” Aku menjawab, “Sebagaimana yang biasa engkau berikan kepadaku.” Lalu aku menjelaskannya secara terperinci. Maka, Mutawakkil memerintahkan agar tunjanganku diberikan.”
Aku bertanya kepada Fatah bin Khaqan, “Apakah Ali bin Muhammad datang ke sini atau ia menulis surat untuk Mutawakkil?” Ia berkata, “Tidak! Kemudian aku menghadap Imam dan beliau berkata, “Wahai Abu Musa! Apakah jumlah ini membuatmu puas?” Aku berkata, “Berkat wujudmu wahai tuanku! Namun, mereka berkata bahwa Anda tidak pergi meminta kepada Mutawakkil.”
Imam berkata, “Allah swt mengetahui bahwa kami, dalam menyelesaikan masalah, hanyalah berlindung kepada-Nya. Allah swt membiasakan kami dengan ini sehingga setiap kali kami berdoa, Dia akan mengabulkan doa kami. Aku khawatir bila kami berpaling dari kebiasaan kami ini, Allah swt akan berpaling juga dari karunia-Nya terhadap kami.” *

Ilmu Imam

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa ilmu dan makrifah serta semua pengetahuan menyangkut agama adalah di antara persyaratan penting dan prinsip imamah. Filsafat mengenai keharusan adanya imam dan tanggung jawabnya adalah untuk menjaga dan menyebarluaskan ahkam atau ‘hukum agama’. Dalam kaitan ini, tidak ada perbedaan di antara para imam. Sumber agama berada di tangan mereka dan mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menunaikan kewajiban agama. Jika terdapat perbedaan dalam sumber hadis dari sebagian mereka, yakni dari sebagian mereka hanya terdapat sedikit hadis dibanding yang lainnya, maka hal itu dikarenakan perbedaan kondisi zaman dan tempat serta penghalang atau rintangan yang dilahirkan oleh para penguasa zalim dan musuh-musuh Ahlulbait.

Imam Hadi as, seperti juga ayah-ayah beliau, adalah seorang manusia sempurna dan memiliki semua kesempurnaan insani. Sumber agama berada di genggamannya. Ia begitu bersungguh-sungguh dalam menyebarkan syiar agama. Namun disayangkan, ia hidup dalam kondisi zaman yang sulit dengan berbagai tantangan sehingga tidak dapat menunaikan tugas sesuai dengan keinginan hatinya.
Imam Hadi hidup di dunia selama empat puluh dua tahun dan pada usia sekitar delapan tahun, beliau menjadi imam. Masa imamah-nya adalah tiga puluh tiga tahun. Di awal imamah-nya, beliau hidup selama dua puluh dua tahun di Madinah. Menurut kesaksian sejarah, para penguasa Baghdad dengan pasukannya selalu mengawasi gerak-gerik Imam. Sudah barang tentu pengawasan ini membuat gerak-gerik Imam dan juga para Syiah yang hendak menimba ilmu dan makrifah dari Imam menghadapi banyak pembatasan dan rintangan. Mutawakkil, Khalifah Abbasiah, tidak merasa cukup dengan meneropong Imam dari kejauhan. Lebih dari itu, ia memaksa Imam agar pindah dari Madinah ke Baghdad meski, secara formalitasnya, diiringi dengan penghormatan yang luar biasa. Mutawakkil memberi Imam tempat di Samira, di tempat pusat militer, yang merupakan tempat tinggal para tentara Mutawakkil. Dari sejak itu (tahun 243 Hijriah), Imam secara resmi mendapat penjagaan super ketat dari pasukan rahasia dan tentara. Hubungan Imam dengan masyarakat Syiah terputus total atau berkurang drastis. Dalam kondisi seperti itu, siapakah yang akan berani untuk memberikan uang kepada Imam atau menimba ilmu darinya? Dari situlah, hadis-hadis yang dinukil dari Imam Hadi tidaklah banyak. Namun demikian, telah banyak juga hadis yang diriwayatkan dari Imam tentang pokok agama dan akidah, akhlak dan nasihat, serta berbagai bab fikih yang tercatat dalam buku-buku hadis. Dengan mempelajarinya, kita dapat mengetahui kedudukan ilmu pengetahuannya.
Imam mendidik banyak sekali murid yang nama-nama mereka terekam dalam kitab-kitab hadis, sejarah, serta rijal. Penulis kitab Manaqib menyebutkan nama-nama sahabat beliau seperti berikut ini.
Dawud bin Zaid Abu Sulaim Zanggan, Husain bin Muhammad Madaini, Ahmad bin Ismail bin Yaqthin Basyar bin Basyar Nisyaburi, Sulaiman bin Ja’far Maruzi, Fateh bin Yazid Jurjani, Muhammad bin Sa’id bin Kaltsum (yang merupakan seorang mutakallim), Muawiyah bin Hakim Kufi, Ali bin Muhammad bin Muhammad Baghdadi, dan Abu Hasan bin Raja Abartai.*

Catatan kaki 
[1] QS. Al-Hujurat: 12

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s