IMAM KEDUA: IMAM HASAN MUJTABA AS

IMAM KEDUA: IMAM HASAN MUJTABA AS

Imam Hasan as lahir ke dunia di Madinah pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ke-3 Hijriah. Ayahnya bernama Ali bin Abi Thalib dan ibunya Fatimah, putri mulia Rasulullah saw. Kunyah ‘nama panggilannya’ adalah Abu Muhammad dan laqab ‘julukannya’ yang paling populer adalah Taqi, Thayyib, Zaki, Sayyid, Sibth, dan Wali.
Rasulullah saw menjelang kelahirannya berkata kepada Asma’ binti Umais dan Ummu Salamah, “Apabila putra Fatimah lahir, akan aku kumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Tetaplah di sana hingga aku datang!”
Ketika datang, Rasulullah saw memutus tali pusar sang bayi dan memasukkan air ludahya ke mulut bayi itu seraya berkata, “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari setan yang terkutuk.” Kemudian bcliau berkata, “Berilah kepadanya nama Hasan!” Kemudian bcliau memerintahkan agar mclakukan aqiqah dengan seekor kambing dan membagikan dagingnya kepada orang miskin.”
Dari kelahiran yang berkah ini, bukan hanya Rasulullah saw, Ali, serta Fatimah yang gembira, mclainkan seluruh kcluarganya.
Imam Hasan hidup bersama Rasulullah selama tujuh tahun beberapa bulan. Ketika beliau menjadi Imam, usianya mencapai 37 talmn. Masa khilafahnya, dari sejak Amirul Mukminin wafat hingga masa perdamaian dengan Muawiyah, adalah enam bulan tiga hari.
Pada tahun 41 Hijriah, ia terpaksa melakukan perdamaian dengan Muawiyah. Selanjutnya, ia kembali dari Kufah ke Madinah. Pada tanggal 28 Shafar 50 Hijriah, beliau mati syahid. Tubuh sllcinya dimakamkan di Pemakaman Baqi’.
Mengenai sebab wafatnya, dituliskan bahwa Muawiyah mengirim 100 ribu dirham bagi Ja’dah, istri Imam Hasan, agar meracuni Imam

Hasan. Muawiyah juga berjanji akan menikahkannya dengan Yazid, putranya. Ja’dah menyetujuinya dan melakukan perintah Muawiyah.[1]

Kecintaan Rasulullah saw


Sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis, Rasulullah saw begitu menampakkan rasa cintanya kepada putrinya, Fatimah, dan kedua putra Fatimah, Hasan dan Husain. Abu Hurairah berkata, “Tidak pernah aku melihat Hasan bin Ali kecuali air mataku menetes karena ketika suatu hari Rasulullah saw duduk di masjid, Hasan memasuki masjid dan tiba-tiba duduk di pangkuan Rasulullah saw dan meletakkan tangannya di dalam janggut beliau. Rasulullah saw membuka mulut Hasan dan meletakkan bibirnya di bibir Hasan seraya berkata, “Ya Allah! Aku mencintai Hasan dan aku mencintai siapa saja yang mencintai Hasan.” Rasulullah saw mengulangi ucapan itu sampai tiga kali. “[2]
Sebagaimana yang discbutkan dalam banyak hadis bahwa Rasulullah saw menjelaskan imamah Hasan dan Husain. Tatkala menjelang syahid, Imam Ali bin Abi Thalib memilih putranya Hasan sebagai imam dan mengenalkannya sebagai washi ‘pemangku wasiat’ dan imam setelahnya. Rasulullah saw mengenai Hasan dan Husain berkata, “Kedua anakku ini akan menjadi imam, baik mereka berjuang untuk merebut jabatan imam itu atau diam.”[3]
Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang mencintai Hasan dan Husain berarti mencintaiku dan barangsiapa yang memlenci mereka memusuhiku.'”[4]
Abu-Bakrah mengatakan, “Rasulullah saw waktu itu sedang berkhotbah. Kemudian Hasan datang dan naik ke mimbar. Rasulullah saw memeluknya dan berkata, ‘Ini adalah anakku, Sayyid ‘Tuan’ dan Allah Swt dengan sebabnya akan mendamaikan dua kelompok Muslim.'”[5]
Abu Dzar Ghiffari mengatakan, “Rasulullah saw memerintahkanku agar mencintai Hasan dan Husain dan karena kecintaan kepada Rasulullah saw, aku mencintai Hasan dan Husain serta orang-orang yang mencintai mereka.”[6]
Salman Farisi mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah saw berkata, ‘Ya Allah! Aku mencintai Hasan dan Husain serta orang yang mencintai mereka.’ Rasulullah saw juga bersabda, ‘Barangsiapa yang mencintai Hasan dan Husain akan dicintai Allah dan barangsiapa yang dicintai Allah akan masuk surga dan barangsiapa yang memusuhi mereka akan dimusuhiku (Rasulullah saw) dan barangsiapa yang aku benci akan dimusuhi Allah dan masuk neraka. ”’ [7]
Ada puluhan hadis seperti ini tetapi kami akan mencukupkannya sampai di sini.

Nas Imamah
Banyak sekali hadis yang di dalamnya Rasululiah saw menjelaskan imamah Hasan dan Husain. Tatkala menjelang syahid, Imam Ali bin Abi Thalib memilih Hasan sebagai imam dan mengenalkannya sebagai washi dan imam setelahnya.
Rasulullah saw mengenai Hasan dan Husain mengatakan, “Kedua putraku ini akan menjadi imam, baik mereka bangkit untuk merebut imamah ataupun diam.” [8]
Imam Shadiq mengatakan, “Rasulullah saw hanya mewasiatkan kepada Ali tetapi Ali mewasiatkan kepada Hasan dan Husain. Oleh karena itu, Imam Hasan juga mcrupakan imam bagi Husain.”‘[9]
Sulaim bin Qays mengatakan, ‘Aku menyaksikan wasiat Ali bin Abi Thalib kepada putranya, Hasan, Husain, Muhammad, semua Ahlulbaitnya, dan para pemuka Syi’ah. Kemudian beliau menitipkan sejumlah kitab dan senjata kepada Hasan seraya mengatakan, ‘Anakku! Rasulullah saw menyuruhku agar menjadikanmu sebagai washi-ku dan menitipkan kitab serta senjata kepadamu sebagaimana Rasulullah saw menjadikanku sebagai washi-nya dan menitipkan kitab dan senjatanya kepadaku.” [10]
Syahr bin Hausyab mengatakan, “Tatkala hendak menuju Kufah, Ali bin Abi Thalib menitipkan kitab dan surat wasiatnya kepada Ummu Salamah. Ketika Imam Hasan kembali ke Madinah, Ummu Salamah menyerahkannya kepada beliau.” [11]
Muhammad bin Hanafiah berkata kepada Ali bin Husain, ‘Aku tahu bahwa Rasulullah saw menyerahkan wasiat dan imamah kepada Amirul Mukminin dan setelah beliau, kepada Imam Hasan dan setelah itu, kepada Husain as.” [12]
Thariq bin Syahab mengatakan, “Amirul Mukminin kepada Hasan dan Husain mengatakan, “Kalian setelahku adalah imam dan penghulu para pemuda ahli surga. Kalian terpelihara dari berbuat dosa. Semoga Allah menjaga kalian dan laknat Tuhan terhadap musuh-musuh kalian.” [13]
Fadzl bin Hasan Thabarsi dalam kitab A’larnul Wara menulis bahwa orang-orang Syi’ah secara mutawatir menukilkan bahwa Ali, di sisi sejumlah orang Syi’ah, menjelaskan imamah putranya, Hasan as. Imam Ali pun secara terang-terangan mengatakan imamah putranya, Hasan, dan secara terang-terangan menetapkannya sebagai washi-nya.” [14]
Pada malam ketika Amirul Mukminin syahid, Imam Hasan membacakan khotbah. Setelah itu, Abdullah bin Abbas bangkit dan berkata, “Wahai manusia! Ia adalah putra Rasulullah saw, washi, serta imam kalian. Maka, berbaiatlah kepadanya!” Masyarakat saling berlomba untuk membaiat Imam Hasan sebagai khalifah.” [15]
Abu Abdullah Jadali Jadami mengatakan, “Tatkala Amirul Mukminin berwasiat kepada putranya, Hasan, aku juga turut hadir.” Kemudian Abdullah juga menukil wasiat Imam Ali.” [16]
Tatkala dipukul oleh Abdurrahman bin Muljam dan masyarakat duduk di sekitarnya, Amirul Mukminin berkata, “Kalian keluarlah! Aku ingin berwasiat.” Maka, hanya sejumlah Syi’ah yang hadir sementara yang lainnya keluar.”
Setelah memuji dan bersyukur kepada Allah, Imam Ali mengatakan, “Hasan dan Husain aku jadikan sebagai washi. Maka, patuhilah mereka karena Rasulullah saw telah menjelaskan imamah mereka.” [17]
Asbagh bin Nabatah mengatakan, “Tatkala dipukul oleh Abdurrahman bin Muljam, Amirul Mukminin memanggil Hasan dan Husain lalu berkata, ‘Malam ini, aku akan meninggalkan dunia. Dengarkanlah ucapanku. Wahai engkau Hasan! Engkau adalah washi- ku dan setelahku, jadilah sebagai imam. Sementara itu, engkau wahai Husain, dalam wasiat ini, adalah mitra saudaramu. Selagi ia hidup, diamlah dan patuhilah dia. Setelahnya, engkaulah yang menjadi juru bicara kebenaran dan qaim biamrin.”’ [18]

lbadah dan Penghambaan

Dari Kamaluddin Thalhah dinukilkan bahwa Imam Hasan mengatakan ibadah itu terbagi menjadi tiga bagian: badan, harta dan gabungan dari keduanya.
1. Ibadah badan adalah shalat, puasa, membaca al-Quran, dan berbagai zikir.
2. Ibadah harta adalah seperti, sedekah, pemberian, khairiyah, dan ihsan.
3. Ibadah yang murakkab (gabungan keduanya) adalah seperti haji, jihad, dan umrah.
Ibadah Imam Hasan as pada semua bagian telah mencapai tingkat yang tinggi. Adapun shalat dan zikir serta yang semacam itu merupakan kebiasaan Imam Hasan. Kedua perkara itu adalah sangat populer dan termasyhur baginya.
Adapun sedekah dalam Hilyatul Auliya dinukilkan balma Imam Hasan memberikan semua hartanya di jalan Allah sebanyak dua kali. Dan tiga kali, ia membagikan hartanya untuk fakir miskin dan seluruh dari hartanya semua hartanya diberikan fakir bahkan beliau membagikan sepatunya kepada fakir miskin.
Adapun mengenai ibadah murakkab, penulis Hilyatul Aulia menukil dari Imam Hasan yang bersabda, “Aku malu kepada Allah karena ketika dalam perjalanan haji, aku mengendarai kendaraan dan tidak pergi berjalan kaki ke Baitullah.” Oleh karena itulah, dua puluh kali dengan kaki telanjang, dari Madinah ke Mekkah, Imam Hasan berjalan kaki untuk melakukan perjalanan haji dan dalam keadaan membawa kendaraan (unta).” [19]

Ditulis, bahwa Hasan bin Ali as dan segi akhlak, perangai, kemuliaan, dan syahadah, adalah yang paling serupa dengan Rasulullah saw. [20]
Imam Shadiq menukil dari ayahnya dan ayahnya menukil dari Imam Saijad yang mengatakan, “Hasan bin Ali bin Abi Thalib adalah manusia yang paling ahli ibadah dan zuhud. Dalam perjalanan haji, beliau berjalan kaki dan adakalanya dengan kaki telanjang. Ketika mengingat kematian, ia menangis. Ketika mengingat Allah, dihaturkannya amal kepada Allah seraya menjerit dan pingsan. Ketika berdiri untuk shalat, tubuhnya bergetar karena takut kepada Allah. Ketika teringat kepada surga dan neraka, ia bagaikan terkena sengatan ular. Ia memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada Allah dari neraka. [21] Saat membaca al-Quran, ketika tiba pada ayat, Hai orang- orong yang beriman, ia berkata, Labbayka Allahumma Labbayka. Ia senantiasa membiasakan lisannya dengan zikir. Dialah orang yang paling jujur dan fasih.” [22]
Imam Ridha menukil dari ayah-ayahnya bahwa tatkala menjelang wafatnya, Imam Hasan as menangis lalu dikatakan kepadanya, “Wahai putra Rasulullah! Mengapa, dengan kedudukan istimewa yang engkau miliki di sisi Allah, dua puluh kali pergi haji dengan berjalan kaki, tiga kali membagikan semua hartanya kepada kaum fakir dan miskin, engkau masih menangis seperti ini!” Imam mengatakan, “Tangisanku karcna dua hal: karena takut terhadap kiamat dan karena berpisah dengan para sahabat.” [23]
Manakala tiba di pintu masjid, Imam Hasan mengangkat kepalanya dan [24] berkata, “Wahai Tuhanku! Tamu-Mu ada di pintu- Mu! Wahai Pemberi kebaikan! Telah datang seorang pendosa maka bercampurlah keburukan yang kumiliki dengan keindahan yang Kaumiliki, wahai Yang Mahamulia.” [25]
Ketika se1esai shalat, ia tidak berbicara hingga terbit matahari.

Pemberian dan Ihsan

Imam Shadiq mengatakan, “Seorang lelaki menunjuk Usman bin Affan yang sedang duduk di masjid dan meminta sesuatu. Usman memberikan kepadanya lima dirham. Lelaki itu berkala, “Kenalkan aku kepada seseorang yang akan membantuku lebih banyak. Usman menunjuk kepada Hasan, Husain dan Abdullah bin Ja’far yang sedang duduk di suatu sudut masjid. Lelaki itu pergi ke sisi mereka, bersalaman dan meminta bantuan.
Imam Hasan berkata, “Meminta sesuatu dari orang adalah haram, kecuali dalam beberapa hal: untuk membayar diyat atau ‘denda orang yang dibunuh’, menunaikan utang yang sudah sampai masa pembayarannya, dan mengalami kemiskinan yang luar biasa. Permintaanmu ini termasuk yang mana?” Lelaki itu berkata, “Salah satu dari itu.” Imam Hasan memberikan kepadanya lima puluh dinar, Imam Husain empat puluh sembilan dinar, dan Abdullah bin Ja’far empat puluh delapan dinar.
Menyaksikan kebaikan dan kemurahan hati sepeni ini, Usman berkata, “Siapakah yang dapat berbudi pekerti seperti para pemuda ini? Mereka mempelajari ilmu dari ayah-ayah mereka sehingga memperoleh kebaikan dan hikmah (kebijaksanaan). ” [26]
Sa’id bin Abdul Azis berkala, “Hasan bin Ali melihat seorang lelaki yang sedang berdoa dan memohon kepada Allah sepuluh ribu dirham. Imam Hasan pulang ke rumah dan mengirimkan sepuluh ribu dirham bagi lelaki itu.” [27]
Seorang lelaki datang menjumpai Imam Hasan dan berkata, “Demi Tuhan yang telah memberikan semua kenikmatan ini tanpa syafi’ kepadamu. Selamatkan aku dari orang zalim yang bukan hanya tidak menghormati orang-orang yang lanjut usia terapi tidak menyayangi anak-anak kecil.” Imam Hasan yang saat itu bersandar, buena mendengar ucapan itu, bangkit dan berkata, “Siapakah musuhmu itu biar aku tegakkan keadilan?” Lelaki itu, sebagai jawabannya, mengatakan, “Kemiskinan dan kelaparan.”
Imam mengangkat kepalanya dan berkata kepada pelayannya, “Siapkan apa saja yang ada di sisimu.” Pelayan itu pergi dan membawa lima ribu dirham. Imam berkata, “Berikan semuanya kepada lelaki itu!” Setelah itu, beliau berkata, “Demi Allah! Setiap kali musuhmu itu menghampirimu, datanglah ke sisiku agar aku tegakkan keadilan.” [28]

Ibn Aisyah meriwayatkan bahwa seorang lelaki Damaskus melihat Imam Hasan mengendarai kuda. Lelaki itu mulai mengutuk dan mencaci Imam tetapi Imam tidak menjawab hingga lelaki itu penat dan selesai dari makiannya. Imam memperhatikan lelaki itu dan mengueapkan salam seraya mengatakan, “Wahai Syekh! Aku mengira bahwa engkau bukan orang sini dan engkau salah paham tentangku. Apabila engkau meminta kerelaan dariku, akan kuberikan. Bila engkau meminta sesuatu, akan kuberikan. Bila engkau meminta petunjuk, akan kuberikan. Bila engkau tidak memiliki hewan tunggangan, akan kuberikan. Bila engkau lapar, akan kukenyangkan. Bila engkau tidak memiliki pakaian, akan kuberikan. Bila engkau memerlukan sesuatu, akan kututupi keperluanmu itu. Bila engkau terusir, akan kuberikan perlindungan kepadamu. Bila engkau memiliki hajat, akan kutunaikan dan bila engkau membawa tasmu ke rumah lalu menjadi tamuku, aku akan merasa senarg. Rumahku besar dan memiliki fasilitas.
Ketika mendengar ucapan beliau, Ielaki Syam itu menangis dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwasanya Engkau adalah khalifah Allah di bumi-Nya dan Allah lcbih mengetahui apa yang diperbuat-Nya terhadap risalah-Nya). Sebelum ini, engkau dan ayahmu adalah manusia yang paling kubenci. Namun, kini engkau adalah yang paling kucintai.”
Tatkala itu, Imam membawa tas-tas lelaki itu ke rumahnya dan menjadikan tamunya itu pecinta beliau. [29]

Imam Hasan Sepeninggal Ayahnya
Imam Ali bin Abi Thalib syahid pada tanggal 21 Ramadhan 40 Hijriah. Menurut wasiatnya, jasad Imam Ali dikuburkan pada malam harinya tanpa sepengetahuan masyarakat. Putranya, Hasan, keesokan harinya membacakan khotbah untuk masyarakat. Setelah menyampaikan pujaan dan pujian kepada Allah, Imam Hasan menyampaikan berita meninggalnya ayahnya kepada umat dan menyinggung tentang keutamaan dan kemuliaan sang ayah. Imam Hasan menangis dan masyarakat pun ikut menangis. Imam turun dari mimbar dan duduk di atas tanah. Di saat itu, Abdullah bin Abbas berdiri dan berkata, “Wahai manusia! Hasan bin Ali adalah anak Rasulullah dan Washi Amirul Mukminin. Maka, berbaiatlah kepadanya untuk khilafah!”
Orang-orang yang hadir menerima ajakan itu dan membaiat Imam Hasan as. Sejak itu, Imam duduk di kursi khilafah dan disibukkan dengan urusan pemerintahan. Imam mempelajari kinerja dan pekerjaan-pekerjaan para pegawai yang lama. Kemudian Imam menetapkan dan memperbarui hukum mereka. Beliau memilih wali yang baru dan mengutusnya ke tempat-tempat tugas, di antaranya adalah Abdullah bin Abbas dipilihnya sebagai pemimpin Basrah dan mengirimnya ke sana.
Di sisi lain, Muawiyah yang berkuasa di Syam mencium tentang baiat masyarakat kepada Hasan. Maka, Muawiyah pun berupaya mencegahnya. Pertama, dia memilih dan mengutus dua mata-mata yang lihai ke Kufah dan Basrah untuk mencari berita penting bagi Muawiyah serta melakukan makar dan kekisruhan di dalam pemerintahan Imam Hasan as. Imam mendengar makar ini dan menginstruksikan penangkapan dua mata-mata itu. Kemudian Imam menulis surat kepada Muawiyah dan menyebutkan kelebihan- kelebihan beliau sehingga lebih layak menjadi khalifah. Muawiyah yang telah sekian tahun berupaya mencegah perluasan pemerintahan Ali bin Abi Thalib menantikan peluang seperti ini. Oleh karena itu, ia tidak bersedia mendengarkan ucapan Imam Hasan dan menolak kebenaran. Ia memutuskan untuk berjuang melawan pemerintahan baru Imam Hasan as dan menyingkirkan musuh baru tersebut dengan segala cara, bahkan dengan perang dan pembunuhan untuk menyingkirkan Imam dari pentas politik. Dengan tujuan inilah, ia mengumumkan perang dan dengan pasukannya yang besar, ia bergerak menuju Irak.
Berita ini sampai ke telinga Imam Hasan dan beliau terpaksa mempersiapkan pasukan untuk melawan pasukan Muawiyah. Setelah pernyataan perang, Imam Hasan menginstruksikan Hajar bin Adi untuk memobilisasi umat untuk membela pemerintahan yang sah. Sekelompok umat menerima dan bersiap-siap untuk bergerak menuju medan laga. Namun sayangnya, kebanyakan umat enggan mengikuti perang. Akibatnya, pasukan Imam Hasan tidak mencapai jumlah yang mencukupi untuk menghadapi pasukan Muawiyah yang banyak. Yang lebih mengecewakan lagi adalah bahwa jumlah pasukan yang kecil ini, dari segi pemikiran, tidak bersatu dan tidak sehati dalam mengejar berbagai bentuk tujuan.

Sebagian ahli kaji membagi pasukan Imam Hasan seperti berikut.

Sekelompok umat adalah Syi’ah sejati dan pendukung setia Imam Hasan serta pendukung pemerintahan Alawi. Sekelompok lainnya adalah mereka yang bermusuhan dengan Muawiyah dan ikut serta dalam perang dcngan tujuan hanya untuk menjatuhkan Muawiyah, bukan untuk membela pemerintahan dan khilafah Imam Hasan as yang sah. Kelompok keempat adalah mereka yang ragu dalam mengenali kebenaran sehingga memiliki dua hati dalam melakukan perang atau, dengan kata lain, mereka menyertai perang dengan tanpa tujuan. Kelompok kelima adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang tujuan perang dan berperang karena fanatisme golongan sehingga mereka secara mutlak mengikuti para kepala suku.:! [30]
Alhasil, Imam Hasan tidak memiliki cara lain, kecuali bersama pasukan yang dimilikinya itu berusaha mempertahankan dan membela diri. Beliau mengatur pasukannnya. Beliau mengutus em pat ribu orang yang dipimpin oleh lelaki dari Kabilah Kandah ke wilayah bernama Anbar. Beliau mengatakan, “Tunggulah perintahku danjangan berbuat sesuatu terlebih dahulu!”
Muawiyah menggunakan tipuan dan makar yang biasa dilakukannya. Dengan, memberikan 500 ribu dirham kepada komandan pasukan Imam Hasan, ia meminta komandan itu agar menggagalkan perang dan berpaling dari Imam Hasan. Lelaki Kandi itu menerima uang itu dan beserta 200 orang pengikutnya, pergi menuju muawiyah. Imam Hasan sangat kecewa mendengar berita ini dan menunjuk seorang komandan lain dari suku Murad sebagai ganti lelaki Kandi itu. Muawiyah kali ini juga berhasil menyuap lelaki dari kabilah Murad itu dan memberikan 5000 dirham kepadanya seraya berjanji bahwa nanti seusai perang, akan diserahkannya salah satu wilayah. Ia menerima uang itu dan bergabung clengan Muawiyah.
Beberapa yang lainnya juga disogok seperti itu dan bergabung dengan Muawiyah, di antaranya adalah Ubaidillah bin Abbas. Sejumlah kepala kabilah Kufah menulis surat kepada Muawiyah, “Kami adalah pendukungmu dan datanglah kepada kami. Ketika engkau telah mendekati kami, kami akan menangkap Hasan dan menyerahkannya kepadamu atau kami akan menerornya.”

Perdamaian dengan Muawiyah
Saat Imam Hasan bersama empat ribu pasukannya berhenti di Sabath, Muawiyah mengirimkan surat-surat warga Kufah dan para pemuka kabilah kepada Imam Hasan as seraya menulis, “Wahai anak paman! Janganlah engkau memutuskan kekeluargaan an tara diriku dan dirimu! Janganlah engkau percaya dan sombong dengan masyarakat ini sebab, sebelumnya, mereka telah berkhianat kepadamu dan juga kepada ayahmu. Aku bersedia menjalin perdamaian denganmu.”
Imam Hasan mengawasi keadaan pasukannya dan mengetahui pengkhianatan sejumlah pemuka pasukannya kepada Muawiyah. Imam mengetahui benar ketidaksetiaan masyarakat Kufah dan ketidaksepahaman pikiran di dalam pasukan. Imam merasakan bahwa dalam kondisi seperti ini, perang tidak akan menghasilkan sesuatu, kecuali pcmbunuhan dan pembantaian massal Muslimin sehingga, pada akhirnya, pasukan musuh “akan mcnang dan kejahatan akan bertambah terhadap orang-orang Syi’ah. Hanya saja menerima perdamaian bukanlah suatu hal yang mudah.
Imam memutuskan untuk menyampaikan khotbah dcngan maksud menguji para sahabatnya dan mengetahui pendapat mereka. Imam memanggil masyarakat dan membacakan khotbah serta menyampaikan penjelasan.
Khotbah Imam tidak cocok dengan cita rasa sebagian yang hadir dan mereka berpikir bahwa Imam berniat untuk berdamai dengan Muawiyah. Sebagian dari mereka bangkit dan berkata, “Engkau telah kafir dan musyrik wahai Hasan sebagaimana ayahmu telah kafir!” Sekelompok orang menyerang kemah Imam Hasan dan merampok isinya, bahkan mereka menarik sajadah dari bawah kaki Imam dan mencabut aba’ah ‘jubah’ dari pundaknya.
Ketika melihat nyawanya terancam, Imam terpaksa menaiki kuda untuk menyelamatkan nyawanya dari ancaman sekelompok orang. Syi’ah dan sahabat-sahabat khususnya mengelilingi Imam Hasan untuk menjaganya dari bahaya musuh di bawah selimut. Tatkala melewati Sabath di kegelapan malam, seorang lelaki tiba-tiba menyerang Imam dan melukai pahanya cukup serius dengan senjatanya. Para sahabat Imam membantu Imam dan menyelamatkan nyawa Imam dari kejahatan lelaki itu. Kemudian para sahabatnya itu membawa Imam ke Madinah. Imam bcrbaring di rumah salah seorang Syi’ah dan berobat di sana. Imam dapat membaca keadaan yang sebenarnya

dari pemberontakan dan penghinaan pasukannya. Imam berpikir bagaimana mungkin ia dapat memerangi musuh dan keluar sebagai pemenang sementara di antara pasukannya sendiri terdapat orang- orang yang mengutuk Imam. Selain itu, komandannya bahkan mengafirkan, menghalalkan darah, serta marampok hartanya? Apakah pasukan yang tidak ikhlas seperti itu dapat dipercaya?
Pada saat itu, Muawiyah mengirimkan surat sebagian pemuka kabilah kepada Imam Hasan yang tertulis, “Kami bersedia untuk menangkap Hasan dan menyerahkannya kepadamu atau menerornya.” Selain itu, dalam sebuah surat ditulis, “Pasukanmu adalah semacam ini. Dengan pasukan seperti ini, engkau ingin berperang denganku? Sebaiknya engkau dan umatmu menghindari perang ini dan menerima perdamaian. Dalam kaitan ini, aku menerima persyaratanmu dan akan konsisten serta memegang teguh perjanjian itu.”
Kendati mengenal dengan baik tipu daya dan siasat Muawiyah, Imam Hasan tidak mempunyai jalan lain, kecuali menerima tawaran Muawiyah. Ia tahu bahwa ia tidak dapat menang melawan pasukan Muawiyah. Maka, alangkah baiknya kalau Imam menerima perclamaian demi mencegah pertumpahan clarah.
Beliau menyatakan kesiapannya untuk berdamai dan mengusulkan beberapa hal berikut ini sebagai syarat.
1. Hendaknya Muawiyah tidak menamakan dirinya sebagai Amirul Mukminin.
2. Imam Hasan tidak dihadirkan untuk menyatakan kesaksian.
3. Para Syi’ah Imam Ali di mana saja dalam keadaan aman serta tidak mendapatkan gangguan dan penyiksaan.
4. Hendaknya Muawiyah membagikan ribuan dirham kepada anak-anak syuhada yang ayah-ayah mereka syahid dalam pertempuran Jamal dan Shiffin di dalam barisan pasukan Ali.
5. Hendaknya Muawiyah bersikap sesuai dengan al-Quran clan sunah Rasulullah saw serta sirah para khalifah yang saleh.
6. Henclaknya Muawiyah tidak mengenalkan at au menunjuk putra mahkota setelahnya dan menyerahkan urusan khilafah kepada clewan syura Muslimin.
7. Hendaknya tidak melakukan makar terhaclap Hasan, Husain, dan segenap Ahlulbait Rasulullah saw, baik secara sembunyi- sembunyi ataupun terang-terangan dan jangan meneror mereka.

Muawiyah menerima semua persyaratan itu dan berjanji untuk bersikap setia.

Dengan demikian, perjanjian perdamaian pun ditandatangani oleh kedua pihak. Akan tetapi Muawiyah tidak setia melaksanakan kandungan surat perdamaian. Sejak pertama, ia menampakkan niat pengkhianatnya. Muawiyah tiba di Nakhilah dan setelah menunaikan shalat jamaah, ia berkhotbah dan berkata, “Aku tidak bcrperang dengan kalian agar kalian dapat melaksanakan shalat, puasa, haji, dan menunaikan zakat. Aku berperang dengan kalian untuk memimpin kalian dan Allah memberikan itu untukku sedangkan kalian tidak menyukai itu. Aku telah berjanji kepada Hasan bin Ali untuk memelihara beberapa persyaratan tetapi aku tidak akan menghormatinya dan tidak satu pun yang akan kulaksanakan.” [31] 

Catatan kaki

[1] A’lamul Wara, jilid l, hal. 402-403; Manaqib Ali bin Abi Thalib, jilid 4, hal. 33 Kasyful Ghummah, jilid2, hal. 140-144.
[2] Kasyful Ghummah, jilid 2, hal. 149.
[3] Itsbatul Hidayah, jilid 5, hal. 134.
[4] Kasyful Ghummah, jilid 2, hal. 153.
[5] Ibid, jilid 2, hal. 172.
[6] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 275.
[7] Ibid, jilid 43, hal. 269.
[8] Itsbatul Huda, jilid 5, hal. 134.
[9] Ibid, jilid 5, hal. 129.
[10] Itsbatul Huda, jilid 5, hal. 126.
[11] Ibid, jilid 5, hal. 122.
[12] Ibid, jilid 5, hal. 122.
[13] Itsbatul Huda, jilid 5, hal. 133, Thariq bin Syahab.
[14] Ibid, jilid 5, hal. 133.
[15] Itsbatul Huda, jilid 5, hal. 134.
[16] Ibid, jilid 5, hal. 137.
[17] Ibid, jilid 5, hal. 138.
[18]Ibid, jilid 5, hal. 140.
[19] Kasyful Ghummah, jilid 2, hal. 181.
[20] Ibid, jilid 2, hal. 142.
[21] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 332.
[22] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 331.
[23] Ibid, jilid 43, hal. 332.
[24] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 339.
[25] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 339.
[26] Ibid, jilid 43, hal. 332.
[27] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 341.
[28] Ibid, jilid 43, hal. 350.
[29] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 344.
[30] Kasyful Ghummah.jilid 2, hal. 163-165.
[31] Biharul Anwar, jilid 43, hal. 69-1; Kasyful Ghummah, hal. 164-169; Manaqib Ali bin Abi Thalib, jilid 4, hal. 36-40.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s